Mula mula gue ingin memperkenalkan diri. Nama gue Daron. Gue ada kesempatan belajar di Malaysia karena ayah gue bekerja di sana. Ketika itu gue berumur 15-16 kira-kira kelas 1 SMA. Pertama kali masuk skolah ada upacara bendera. Waktu lagi kenalan ama temen-temen baru ada cewe' datang dari arah pintu gerbang dengan terburu-buru, soalnya semua murid sudah berbaris. Gue liatin tuh cewe'.."OK jugak nih..". Setelah gue tanya temen gue ternyata die kakak kelas. Umurnya 17an kira-kira kelas 3 SMA. Namanya Molly.
"Cute juga nama doi".
Tiba -tiba dari belakang ade rekan sekelas megang bahu gue.
"Ngapain loe nanyain tentang kakak gue?".
Buset dah, kaget gue. Gue cuma takut dipukulin soalnya die 'gangster' di sekolahan.
"Ah..enggak kok. Nanya doank" kata gue dengan gementar.
Balik dari sekolah gue terus ngebayangin tuh cewe. Gue nggak bisa ngilangin die dari pikiran gue. Gila cantik banget. Bibirnya yang kecil dan tipis, buah dadanya yang montok (mungkin boleh dibilang lebih besar dari ukuran teman sebayanya), betisnya yang putih dan mulus, pokoknya absolutely perfect. Gue cuma bisa ngebayangin kalo-kalo die mau ama gue.
Di suatu pagi yang cerah (gue belajar kalimat kayak gini waktu kelas 4 SD), gue ama nyokap pergi ke deretan toko-toko di deket rumah. Maksudnya sih mau nyari toko musik, soalnya gue mau belajar main gitar. Setelah kira-kira 1 bulan baru gue tau bahwa guru gitar gue sama ama adiknya Molly. Terus guru gue tu nyaranin kita berdua ngadain latihan bersama di rumahnya. Gue girang banget. Mungkin ada kesempatan gue ngeliatin wajah cantik kakaknya. Yah.. walaupun kagak "buat" ngeliat wajahnya juga udah cukup.
Waktu liburan semester adiknya (biar lebih gampang gue tulis Jason) ngundang gue ke rumahnya untuk latihan gitar barengan. Terus gue tanya ada siapa aja di rumahnya.
"Gue ama kakak gue doank kok" jawabnya. Wah.. berdebar-debar nih rasanya. Tapi gue juga rasa diri gue sendiri bodoh. Soalnya die aja kagak kenal gue, malahan cuma ngobrol sekali-sekali melalui chatting. Tapi gue ngak peduli.
Jason sebenarnya belom mastiin kapan gue bisa dateng ke rumahnya. Tapi gue ngak peduli dateng ke rumahnya hari itu karena gue cuma ada waktu hari itu. Sampai di depan pagarnya gue neken bell. Kelihatannya sepi. Tiba-tiba pagar terbuka (pagar automatik nih) terus kakaknya muncul.
"Nyari siapa?".
"Jason" gue bilang.
"Wah, maaf, Jasonnya nggak ada tuh."
Wah.. sekarang baru gue sadar suara Molly ternyata lembut lagi 'cute'.
"Oh.. ya udah, terima kasih."
Gue muterin badan gue, belagak mau pergi gitu. Tiba-tiba suara yang lembut itu terdengar lagi.
"Eh.. nggak masuk dulu? Daripada capek bolak-balik mendingan tunggu di sini."
Wah!! Peluang emas!
Terus gue masuk dan dihidangin minuman dingin ama Molly. Terus dia duduk dihadapan gue ngajakin gue ngobrolin sesuatu. Dalam sekelip mata, pemandangan di depan gue menjadi sangat indah. Kebetulan dia memakai baju T-Shirt tipis dan skirt pendek jadi gue bisa ngeliat bahagian pahanya yang putih mulus. Sekali-sekala gue ngelirik ke bagian dada dan pahanya. Gue rasa sih dia tau tapi dia belagak nggak peduli.
"Kapan Jason balik?" tanya gue.
"Nggak tau kayaknya sih nanti jam 6"
Gue ngelirik jam tangan gue. Sekarang jam 2 petang.
Kira-kira selama 15 menit kami ngobrol kosong. Tiba-tiba ntah gimana jam di meja sebelahnya jatuh. Kami terkejut dan dia terus membereskan benda-benda yang berselerak. Dari belakang gue bisa ngeliat pinggulnya yang putih mulus. Tiba tiba jeritan kecilnya menyadarkan lamunan gue. Ternyata jarinya terluka kena kaca. Naluri lelaki gue bangkit dan terus memegang jarinya. Tanpa pikir panjang gue isep aja darah yang ada di jarinya. Waktu darahnya udah beku gue mengangkat wajah gue. Ternyata selama ini die ngeliatin gue. Tiba-tiba dia ngomong
"Ron, kok lu ganteng banget sih?"
Gue hanya tersipu-sipu. Terus gue diajakin ke tingkat atas untuk ngambil obat luka. Waktu duduk di sofa, gue usapin aja tuh ubat ke jarinya. Tiba-tiba datang permintaan yang tidak disangka-sangka.
"Ron, cium gue dong, boleh nggak?".
Gue bengong doank nggak tau mo jawab apaan. Tapi bibirnya udah deket banget ama bibir gue. Langsung gue lumat bibir mungilnya. Dia memejamkan matanya dan gue nyoba untuk mendesak lidah gue masuk ke dalam mulutnya. Dia membalas dengan melumat bibir gue. Tanpa sadar tangan tangan gue udah merayap ke bagian dadanya dan meremas-remas payudaranya yang montok dari luar pakaiannya. Dia mendesah lirih. Dan mendengarnya, ciuman gue menjadi semakin buas.
Kini bibir gue turun ke lehernya dan kembali melumat dan menggigit-gigit kecil lehernya sambil tangan gue bergerak ke arah skirt pendeknya dan berusaha meraba-raba pahanya yang putih dan mulus. Tiba-tiba tangannya membuka resleting celana gue dan coba meraih anu gue. Gue semakin ganas. Gue elus-elus celana dalamnya dari luar dan tangan gue satu lagi meremas-remas payudaranya yang montok. Dia mendesah dan melenguh.
Akhirnya gue berhenti melumat bibir dan lehernya. Gue coba melepaskan t-shirtnya yang berwarna pink. Tetapi tangannya mencegah.
"Ke kamar gue aja, yuk!"
Ajaknya sambil menuntun tangan gue. Gue sih ikut aja. Gue kunci pintu kamarnya dan langsung gue raih t-shirtnya hingga dia hanya mengenakan bra putih dan skirt birunya. Gue kembali melumat bibirnya dan coba membuka kaitan branya dari belakang. Sekarang die bener-bener telanjang dada. Langsung gue lumat payudaranya. Gue remas-remas dan gue jilatin puting kiri dan kanannya.
Tanpa disadari dia mengerang.
"ummh..ahh..!"
Gue malah lebih bernafsu. Tiba-tiba tangannya yang lembut meraih penis gue yang sangat besar. Kira-kira 14 cm panjangnya. Dia langsung mengelus-elus dan mulai mengocok penis gue itu. Gue mengerang
"Ahh..Molly..terusin..ahh!"
Kira-kira 15 menit gue melumat payudaranya. Sekarang gue nyoba ngebuka skirt hitamnya. Setelah terlepas gue tidurin dia di ranjang dan kembali melumat bibirnya sambil mengusap-usap vaginanya dari luar CDnya dan tangan gue yang satu lagi memelintir puting payudara kanannya.
"Ahh.. Daron.. ummhh!" Erangnya.
Akhirnya kami berdiri. Dia melepaskan baju dan celana gue dan meraih penis gue yang sangat tegang. Dia nyuruh gue duduk. Terus dia jongkok di depan gue. Dia nyium kepala penis gue dan menjilatnya. Kemudian die berusaha mengulum dan menghisap penis gue yang besar. Gue mengerang keenakan.
"Ummhh..Molly..!!"
Akhirnya gue nggak tahan dan menyuruhnya berhenti. Gue nggak mau keluar terlalu awal.
Terus perlahan-lahan gue lepasin celana dalam putihnya dan memandang sebuah lubang berwarna merah jambu dengan bulu-bulu yang halus dan tidak terlalu banyak di sekelilingnya. Langsung gue tidurin dan gue kangkangin kakinya. Kelihatan vaginanya mulai merekah. Gue yang udah nggak tahan terus menjilati dan menghisap-hisap bahagian selangkangan dan menuju ke arah vaginanya. Gue isep dan jilatin klitorisnya. Molly menggelinjang keenakan sambil mendesah dan mengerang.
"Awwhh.. uhh.. Darroonn..!!
Tiba tiba orgasme pertamanya keluar. Tubuhnya menggelinjang dan dia menjambak rambut gue dan sprei di ranjangnya.
Kemudian gue melebarkan kedua kakinya dan mengarahkan penis gue ke arah lubang kenikmatannya. Sebelum gue masukkin gue gesekin dulu penis gue di pintu lubang vaginanya. Dia mendesah kenikmatan. Akhirnya gue dorong penis gue ke dalam vaginanya. Terasa agak sempit kerana baru 1/3 dari penis gue masuk. Perlahan-lahan gue tarik lagi dan gue dorong sekuat-kuatnya. Ketiga kalinya baru berhasil masuk sepenuhnya.
"Aawwhh..sakit, Ron!!"
Dia mengerang kesakitan. Maka gue berhenti sejenak nunggu rasa sakit dia hilang. Akhirnya gue mulai bergerak maju mundur. Semakin lama gerakan gue semakin cepat. Terasa penis gue bergesekan dengan dinding vaginanya. Kami berdua mengerang kenikmatan.
"Ahh..Molly..enakk!!"
"Mmhh..awwhh..Ron, terus, cepet lagi!"
Gue semakin bernafsu dan mempercepat genjotan gue. Akhirnya dia menjerit dan mengerang tanda keluarnya orgasme ke dua.
Lantas kami berdiri dan gue puter badannya hingga membelakangi gue (doggy style). Gue tundukkin badannya dan gue arahin penis gue ke arah vaginanya dan gue genjot sekali lagi. Kedua payudaranya berayun-ayun mengikut gerakan genjotan gue. Gue pun meremas-remas pantatnya yang mulus dan kemudian ke depan mencari putingnya yang sangat tegang. Kami berdua banjir keringat.
Gue puter putingnya semakin keras dan payudaranya gue remas-remas sekuat-kuatnya.
"Ahh, Daron..gue pingin keluar..!!" jeritnya.
Terus gue percepat gerakan gue dan die menjerit untuk orgasmenya yang kali ketiga. Gue pikir-pikir gue ni kuat juga ya.. Tapi gue juga merasa mo keluar sekarang. Gue nggak sampai hati ngeluarin sperma gue di vaginanya. Langsung gue cabut penis gue dari vaginanya dan gue puter badannya. Gue arahin penis gue ke mulutnya yang langsung mengulum dan melumat penis gue maju mundur. Gue mengerang kenikmatan
"Akhh..Mol, gue keluar..!!"
Gue semburin sperma gue didalam mulutnya dan ditelannya. Sebagian mengalir keluar melalui celah bibirnya. Terus penis gue dibersihin dan dijilatin dari sisa-sisa sperma.
Kemudian gue ngeliat jam di meja. Pukul 5.30!! Mati kalau nggak cepet-cepet. Selepas kami memakai baju semula dia ngucap terima kasih ke gue.
"Makasih, Ron! Belum pernah gue ngrasa sebahagia ini. Sebenarnya dari pertama kali gue ngeliat loe gue udah suka" Katanya.
"Oh, emang mungkin jodoh kali soalnya waktu ngeliat loe di gerbang sekolah gue juga udah suka." kata gue.
"Tapi gimana dengan adik loe?"
"Nggak apa-apa, dia juga nggak bakalan marah. Adik gue bentar lagi datang. Jadi latihan bareng nggak?"
"Nggak, ah. Males, udah letih latihan tadi" kata gue sambil tersenyum.
Dia pun balas tersenyum. Akhirnya gue balik rumah dengan perasaan gembira. Mimpi gue udah tercapai.
TAMAT
Coretan Panas
Coretan Panas, Cerita Panas, Koleksi Cerita Seks, Cerita Mesum, Cerita Memek, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Erotis, Cerita Saru, Cerita 17tahun dan Cerita Dewasa Terbaik
Tuesday, November 18, 2008
Masa Kecilku di Palembang
Panggil saja nama saya Johan, dan saya akan menceritakan kisah nyata yang terjadi pada diri saya ketika saya masih berumur sekitar 13 tahun ketika keluarga kami tinggal di Palembang. Pada saat itulah saya pertama kali mengalami "Pengalaman" gituan dan dengan seorang perempuan yang jauh lebih tua.
*****
Mungkin pada waktu seumur-umur seperti itulah memang seorang anak laki-laki mulai mengalami masa puber, dimana saya mulai tertarik akan lawan jenis dan akan hubungan antara laki-laki dan perempuan, walaupun saya tidak banyak mengerti mengenai akan hal itu. Mungkin sudah waktunya saya harus mengalaminya dan saya tidak bisa melupakan bagaimana kami disekolah mulai membaca dan mengedarkan cerita-cerita porno yang stensilan ataupun diketik biasa dengan menggunakan kertas karbon.
Saya masih ingat sekali ketika saya pertama kali dipinjami satu stensilan cerita porno yang berjudul "Isteri Serdadu" dan setiap malam saya baca cerita itu sambil bermain-main dengan kemaluanku sendiri sampai suatu saat saya mengalami "Klimaks" dan kemaluanku memuncratkan cairan mani yang jernih. Pada saat itu aku perhatikan bahwa mani-ku jernih dan tidak seperti yang di blue-film yang pernah saya tonton beberapa tahun kemudian dimana mani yang dikeluarkan oleh pemain-pemain film itu selalu putih dan kental. Baru setelah kira-kira 2-3 tahun kemudian, mani yang kukeluarkan mulai menjadi kental dan keputih-putihan seperti cairan air tajin (kanji).
Pada waktu itu ada sepasang suami iseri yang baru kawin yang menyewa satu kamar didalam rumah kami sementara mereka mencari rumah kontrakan. Rumah kami cukup besar dan mereka memasak sendiri dengan menggunakan dapur di bagian belakang rumah. Saya sering mendengar mereka bercengkerama didalam kamar mereka dan si isteri sering ketawa cekikikan, tetapi saya belum begitu mengerti dan belum bisa membayangkan kira-kira apa sih yang mereka sedang lakukan didalam kamar. Tetapi saya mulai ingin tahu terutama setelah membaca cerita-cerita porno stensilan yang saya pinjam dari teman-teman disekolah.
Kamar tidurku kebetulan bersebelahan dengan kamar tidur mereka dan dibatasi oleh dinding Papan. Satu malam, ketika saya mendengar sang isteri ketawa cekikikan, saya coba mengintip dan saya menemukan celah-celah diantara Papan kayu yang membatasi kamar kami. Saya melihat dengan jelas bagaimana mereka berdua sedang duduk dipinggir tempat tidur, tubuh si isteri terbuka sampai di pinggang dan si suami sedang meremas-remas buah dada isterinya. Kemaluanku menjadi tegang sekali dan dada saya berdebar-debar dengan sangat kencang dan lututku terasa lemas.
Kemudian si suami mulai mengisap-isap pentil buah dada isterinya yang sangat montok dan mulus dan tanpa terasa tanganku mulai mempermainkan kemaluanku sendiri. Tidak lama kemudian mereka bangkit dari tempat tidur dan si isteri kemudian membaringkan diri ditempat tidur dengan pantatnya pas berada dipinggiran tempat tidur. Rambut kemaluannya kelihatan sangat hitam dan lebat dan membukit dan kedua kakinya terjuntai kelantai. Si suami kemudian berlutut didepan kemaluan isterinya dan si isteri mengangkat kedua kakinya dan meletakkannya diatas bahu suaminya. Saya melihat si suami membenamkan wajahnya kedalam bukit hitam kemaluan isterinya dan saya hanya bisa mengira-ngira bahwa dia pasti sedang menciumi atau menjilati kemaluan isterinya. Isterinya menggeliat-geliat dan tangannya meremas-remas rambut kepala suaminya.
Setelah bermain seperti itu beberapa lama, si suami berdiri dan mereka kelihatan berbisik-bisik satu sama lain. Si isteri kemudian berdiri dan mengambil selimut dari tempat tidur dan mengembangkannya di lantai. Dasternya jatuh kelantai dan saya sangat terrangsang melihat tubuhnya yang telanjang bulat. Buah dadanya berayun-ayun naik turun dan saya bisa melihat celah-celah pahanya yang mengkilat karena basah. Dia kemudian membaringkan diri diatas selimut dilantai dengan kakinya mengarah ke tempat dimana saya mengintip. Ketika dia merenggangkan kakinya, saya bisa melihat bibir kemaluannya yang merah dan basah. Seakan-akan saya bisa mengulurkan tanganku dan menyentuhnya karena jaraknya hanya kira-kira dua meter dari dinding dimana saya mengintip.
Kemudian si suami membuka celana dalamnya dan kelihatanlah kemaluannya yang sudah berdiri tegak lurus yang panjangnya ada kira-kira 10 centimeter tetapi kelihatannya sangat besar batangnya. Dia berlutut diantara kaki isterinya dan isterinya mengangkat lututnya sehingga pahanya menjadi lebih terbuka. Saya hanya bisa melihat dari belakang ketika si suami naik menindih isterinya. Setelah dia menekan dan memasukkan kemaluannya kedalam kemaluan isterinya, kaki isterinya naik dan melingkari kedua paha suaminya dan kemudian bokong suaminya kelihatan naik turun dengan gerakan yang teratur.
Tanganku sendiri sudah basah oleh lendir mani dari sudah saya keluarkan dari kemaluanku dan rasanya nikmat sekali; jauh lebih nikmat daripada ketika onani dengan membayangkan adegan-adegan yang tertulis di buku stensilan - disini saya melihat sendiri dengan mata kepala saya sendiri lelaki dan perempuan yang sedang bersenggama.
Saya terus mengintip dan setelah si suami memompa isterinya kira-kira 5 menit, pantatnya mulai bergerak naik turun dengan sangat cepat dan saya melihat tiba-tiba otot-otot dipantatnya menjadi keras dan dia menekan dalam-dalam dan tangan isterinya merangkul kepalanya erat-erat. Saya merasa sangat iri melihat kemesraan dan kenikmatan mereka berdua dimana mereka boleh menikmati sesuatu yang menjadi rahasia buat saya pada saat itu. Mereka tergeletak diam bertindihan seperti itu beberapa menit dan kemudian si suami menggulingkan tubuhnya kesamping dan berbaring disamping isterinya. Kemaluannya kelihatan lemas dan basah dan dicelah-celah paha isterinya saya melihat cairan putih mengalir sampai jatuh keselimut tempat dia berbaring. Kemudian isterinya mengambil celana dalam suaminya yang terletak dilantai dan dengan itu dia menyeka kemaluannya sendiri dan kemudian batang kemaluan suaminya.
Sayapun diam-diam dan pelan-pelan kembali ke tempat tidurku dan didalam gelap saya mulai mengocok kemaluanku kembali sampai saya ejakulasi untuk kedua kalinya dan kemudian saya tertidur dengan lelap.
Sekolah SMP yang saya ikuti adalah sekolah sore yang mulai dari pukul 12 siang sampai pukul 4 sore. Setiap pagi saya tinggal dirumah sendirian karena orang tua saya pergi bekerja ke kantor dan saudara-saudara saya yang lain bersekolah di pagi hari. Satu hari saya sedang mengerjakan PR di meja makan ketika saya kembali mendengar suara si isteri yang sedang ketawa cekikikan di dalam kamar mereka. Saya segera meninggalkan meja makan dan masuk kedalam kamar tidurku untuk mengintip adegan yang sangat menggairahkan itu.
Si isteri sedang menungging di atas tempat tidur dan ketika saya menyaksikan pantatnya yang bulat dan putih mulus itu, mani saya rasanya hampir muncrat saat itu juga. Si suami berlutut dilantai dan menjilati kemaluan isterinya dari belakang. Aduh alangkah enaknya, saya berkata dalam hati. Kapan saya bisa menikmati yang seperti itu, kata saya ngiri.
Sedang asyik-asyiknya nonton, tiba-tiba seseorang menepuk pantatku dari belakang. Saya hampir pingsan karena terkejut karena saya mengira bahwa orang tua saya sudah pulang dan saya tertangkap basah mengintip orang bersenggama. Tetapi ketika saya menoleh ke belakang, saya melihat si Ayu', tetangga dari sebelah dan dia tersenyum dan berbisik, "Hayo, ketahuan ngintip..!"
Saya merasa lemas dan sangat malu dan ketakutan dan sayapun merebahkan diri diatas tempat tidur sambil tengkurap untuk menenangkan diriku. Nah, disini saya perlu menjelaskan sedikit mengenai tetangga kami, si Ayu'. Dia tinggal bersama tiga orang anaknya yang masih kecil-kecil karena suaminya tinggal di Tanjung Karang dengan isteri mudanya. Suaminya sangat jarang datang mengunjungi dia. Selama 2 tahun kami bertetangga, saya mengingat bahwa suaminya hanya pernah datang dua kali.
Seringkali si Ayu' datang "Meminjam" beras atau uang dari Ibu saya karena suaminya terlambat mengirim uang belanja. Dia juga sering meminta kakak saya yang perempuan yang pintar menjahit untuk menjahit bajunya yang kemudian dia akan bayar apabila dia sudah menerima uang dari suaminya.
Kira-kira tiga bulan sebelumnya, ketika saya sedang sendirian di rumah, Ayu' datang dan katanya ingin ngepas bajunya yang sudah hampir selesai dijahit oleh kakak saya. Pada waktu itu tidak ada orang lain dirumah selain saya sendiri. Saya bawa dia masuk kedalam kamar kakak saya untuk mencoba bajunya. Ketika dia meminta saya untuk keluar karena dia harus menanggalkan pakaiannya, saya diam saja dan tidak beranjak.
"E-eh, kamu nggak mau keluar, iya? Mau lihat Ayu' telanjang..?" katanya.
"Boleh kan..?" kata saya berharap.
"Budak nakal.." katanya dan dia memutar tubuhnya membelakangi saya sambil membuka pakaiannya. Oh, lututku menjadi lemas melihat badannya yang putih mulus dan pantatnya yang montok; dia ternyata tidak mengenakan celana dalam! Tanpa saya sadari saya maju dan mengelus pantatnya yang mulus. Dia berbalik dan memukul tangan saya.
"Heh, koq lancang!" katanya setengah marah, setengah bercanda dan mata saya melotot melihat bagian depan tubuhnya yang buat saya begitu indah dan menggiurkan. Saya terpesona melihat perutnya yang sangat mulus dan bersih dan yang paling mempesonakan adalah kemaluannya yang sangat mulus tanpa rambut sedikitpun! Hanya ada kelihatan bibirnya yang kemerah-merahan dengan sedikit warna cokelat menyembul keluar seperti senyum simpul yang agak peot.
"Bandel! Nanti saya bilangin mami kamu, lho!" katanya tetapi dia tidak berusaha menutupi tubuhnya dan mulai mengenakan pakaian baru yang akan dicobanya. Dia mulai mengenakan baju itu dengan menurunkannya mulai dari kepala dan ketika baju itu menutup kepalanya, saya tanpa sadar menulurkan tangan saya dan mengelus bibir kemaluannya. Dia hampir melompat karena kaget tetapi saya segera lari keluar dari kamar.
Nah, kembali kepada peristiwa saat ini, ketika saya tengkurap ditempat tidur, ternyata Ayu' meneruskan untuk mengintip sendiri adegan yang sedang terjadi didalam kamar tidur. Saya tidak menyadarinya tetapi tiba-tiba saya merasa tangannya mengelus punggung saya dan ketika saya berbalik, Ayu' sedang duduk dipinggir tempat tidur dan berbisik, "Mereka lagi ngentot..," katanya dengan nafas yang agak berat.
Saya diam saja karena masih belum pulih dari rasa kaget dan malu, tetapi tiba-tiba Ayu' meraba kearah kemaluanku yang sudah mulai bangun lagi. Saya diam saja dan biarkan dia membuka resleting celana saya dan tangannya kemudian mengelus-elus batang kemaluanku yang sudah berdiri tegak. Dia kemudian berlutut dilantai disisi tempat tidurku dan mulai mengemut kontolku yang masih belum begitu besar. Saya merasa sangat geli dan nikmat dan tiba-tiba saya mengejang dan maniku muncrat didalam mulut Ayu'. Dia teruskan mengisap kontolku yang tetap tegang, lalu kemudian dia membuka dasternya dan naik ketempat tidur. Dia kemudian mengangkangi kepala saya dan menyodorkan kemaluannya yang mulus kewajahku.
Sekarang saya bisa melihat dengan jelas sekali bibir kemaluannya yang sudah basah dan saya bisa mencium sedikit bau amis bekas kencing yang sangat merangsang bagiku. Dia membuka bibir kemaluannya dengan jari2nya dan menekankan kemaluannya yang merah dan basah kewajahku. Saya hampir tidak bisa bernapas dan saya mendorongnya mundur. Oh, saya berkata dalam hati, sekarang saya tidak perlu iri lagi dengan pasangan yang sedang bermain di dalam kamar tidur sebelah. Sekarang saya bisa menikmati hal yang sama dengan Ayu' dan bukan hanya membayangkan adegan-adegan cerita porno stensilan saja.
Ayu' merebahkan dirinya di tempat tidurku dan membuka pahanya lebar-lebar.
"Ayo, masukin ke nonok Ayu'..," katanya berbisik.
Saya menaiki tubuhnya dan menindih perutnya yang hangat dan mulus. Buah dadanya terasa lunak menekan wajahku yang masih basah oleh lendir dari kemaluannya dan saya mencoba untuk memasukkan kontolku kedalam celah-celan bibir kemaluannya. Ayu' menolong saya dengan menutun kemaluanku masuk ke dalam kemaluannya, dan saya merasakan kenikmatan yang amat sangat ketika saya merasakan kehangatan liang kemaluannya yang mengulum batang kemaluanku yang masih remaja itu, dan secara refleks saya mulai memompa naik turun.
Hanya setelah kira-kira 3 menit saja, Ayu' tiba-tiba menjepit pinggangku dengan kakinya yang melingkari pinggulku dan badanya mengejang dan dia mengeluarkan suara seperti orang mengangis. Lalu dia menjadi diam dan saya merasa liang kemaluannya berdenyut-denyut dan batang kemaluanku seperti disedot-sedot. Saya juga tidak tahan lagi dan saya menyemprotkan maniku kembali untuk kedua kalinya. Ayu' merangkul kepala saya ke dadanya dengan sangat erat sampai saya merasa sulit bernapas, dan saya sangat takut jangan sampai suaranya yang seperti orang menangis itu didengar oleh pasangan yang ada didalam kamar sebelah.
Kami diam di dalam posisi seperti itu selama beberapa menit, lalu Ayu' melepaskan rangkulannya dan pahanya mengendor dan jatuh kesamping. Saya mendorong diriku untuk bangun dan saya melihat wajah Ayu' yang kelihatan merah dan matanya tertutup. Saya mencabut kontol saya pelan-pelan dari lubang kemaluan Ayu' yang sudah sangat becek. Gerakan ini membuat gairahku bangkit kembali dan kontolku menjadi keras kembali, dan sambil bertopang kekasur seperti seseorang yang melakukan push-up, sayapun mendorong kemaluanku keluar masuk kemaluan Ayu'. Saking beceknya saya bisa mendengar suara seperti mengocok sabun.
Dengan masih menutup matanya, Ayu' mengimbangi gerakanku dengan pinggulnya, naik turun dan bergoyang kekiri kekanan. Dia menggigit bibir bawahnya dan tiba-tiba dia mengangkat pinggulnya untuk mengantisipasi masuknya kontolku lalu kakinya kembali melilit pinggulku dengan erat dan tiba-tiba dia kentut dengan keras beberapa kali. Entah kenapa saya sangat dirangsang mendengar dia kentut, dan ketika saya merasa bahwa kenikmatan ejakulasi mulai datang, saya menyodok dalam-dalam dan sekali lagi saya semprotkan air maniku didalam lubang kemaluannya dan saya merasakan kembali lubang kemaluannya berdenyut-denyut.
Saya kemudian bangkit dan pergi mandi karena saya harus pergi ke sekolah. kira-kira dua bulan kemudian, pasangan suami isteri itu pindah kerumah kontrakan mereka yang baru. Saya tinggal sendirian dirumah dan hampir setiap hari Ayu' mengajak saya untuk bersetubuh dan kami melakukannya sepuas-puasnya, kadang-kadang bisa sampai 3 kali berturut-turut. Kadang-kadang Ayu' begitu bernafsunya sehingga walaupun dia sedang mens dia sering juga mengajak main.
Kami bertetangga sampai satu tahun lagi sampai keluarga saya pindah ke Jakarta, dan orang-orang tidak ada yang mencurigai perbuatan kami dimana kami melakukan persetubuhan hampir setiap hari. Saya masih begitu muda sehingga kuat melayani Ayu' yang betul-betul sangat haus akan kepuasan karena suaminya hampir tidak pernah datang mengunjungi dia.
Seperti saya katakan tadi diatas, Ayu' mempunyai tiga orang anak. Yang paling tua adalah seorang perempuan yang masih berumur 11 tahun bernama Efi. Saya pernah mempunyai kesempatan untuk menyetubuhi kedua Ibu dan anak sekaligus, tetapi pengalaman itu saya akan ceritakan di kesempatan yang lain.
TAMAT
*****
Mungkin pada waktu seumur-umur seperti itulah memang seorang anak laki-laki mulai mengalami masa puber, dimana saya mulai tertarik akan lawan jenis dan akan hubungan antara laki-laki dan perempuan, walaupun saya tidak banyak mengerti mengenai akan hal itu. Mungkin sudah waktunya saya harus mengalaminya dan saya tidak bisa melupakan bagaimana kami disekolah mulai membaca dan mengedarkan cerita-cerita porno yang stensilan ataupun diketik biasa dengan menggunakan kertas karbon.
Saya masih ingat sekali ketika saya pertama kali dipinjami satu stensilan cerita porno yang berjudul "Isteri Serdadu" dan setiap malam saya baca cerita itu sambil bermain-main dengan kemaluanku sendiri sampai suatu saat saya mengalami "Klimaks" dan kemaluanku memuncratkan cairan mani yang jernih. Pada saat itu aku perhatikan bahwa mani-ku jernih dan tidak seperti yang di blue-film yang pernah saya tonton beberapa tahun kemudian dimana mani yang dikeluarkan oleh pemain-pemain film itu selalu putih dan kental. Baru setelah kira-kira 2-3 tahun kemudian, mani yang kukeluarkan mulai menjadi kental dan keputih-putihan seperti cairan air tajin (kanji).
Pada waktu itu ada sepasang suami iseri yang baru kawin yang menyewa satu kamar didalam rumah kami sementara mereka mencari rumah kontrakan. Rumah kami cukup besar dan mereka memasak sendiri dengan menggunakan dapur di bagian belakang rumah. Saya sering mendengar mereka bercengkerama didalam kamar mereka dan si isteri sering ketawa cekikikan, tetapi saya belum begitu mengerti dan belum bisa membayangkan kira-kira apa sih yang mereka sedang lakukan didalam kamar. Tetapi saya mulai ingin tahu terutama setelah membaca cerita-cerita porno stensilan yang saya pinjam dari teman-teman disekolah.
Kamar tidurku kebetulan bersebelahan dengan kamar tidur mereka dan dibatasi oleh dinding Papan. Satu malam, ketika saya mendengar sang isteri ketawa cekikikan, saya coba mengintip dan saya menemukan celah-celah diantara Papan kayu yang membatasi kamar kami. Saya melihat dengan jelas bagaimana mereka berdua sedang duduk dipinggir tempat tidur, tubuh si isteri terbuka sampai di pinggang dan si suami sedang meremas-remas buah dada isterinya. Kemaluanku menjadi tegang sekali dan dada saya berdebar-debar dengan sangat kencang dan lututku terasa lemas.
Kemudian si suami mulai mengisap-isap pentil buah dada isterinya yang sangat montok dan mulus dan tanpa terasa tanganku mulai mempermainkan kemaluanku sendiri. Tidak lama kemudian mereka bangkit dari tempat tidur dan si isteri kemudian membaringkan diri ditempat tidur dengan pantatnya pas berada dipinggiran tempat tidur. Rambut kemaluannya kelihatan sangat hitam dan lebat dan membukit dan kedua kakinya terjuntai kelantai. Si suami kemudian berlutut didepan kemaluan isterinya dan si isteri mengangkat kedua kakinya dan meletakkannya diatas bahu suaminya. Saya melihat si suami membenamkan wajahnya kedalam bukit hitam kemaluan isterinya dan saya hanya bisa mengira-ngira bahwa dia pasti sedang menciumi atau menjilati kemaluan isterinya. Isterinya menggeliat-geliat dan tangannya meremas-remas rambut kepala suaminya.
Setelah bermain seperti itu beberapa lama, si suami berdiri dan mereka kelihatan berbisik-bisik satu sama lain. Si isteri kemudian berdiri dan mengambil selimut dari tempat tidur dan mengembangkannya di lantai. Dasternya jatuh kelantai dan saya sangat terrangsang melihat tubuhnya yang telanjang bulat. Buah dadanya berayun-ayun naik turun dan saya bisa melihat celah-celah pahanya yang mengkilat karena basah. Dia kemudian membaringkan diri diatas selimut dilantai dengan kakinya mengarah ke tempat dimana saya mengintip. Ketika dia merenggangkan kakinya, saya bisa melihat bibir kemaluannya yang merah dan basah. Seakan-akan saya bisa mengulurkan tanganku dan menyentuhnya karena jaraknya hanya kira-kira dua meter dari dinding dimana saya mengintip.
Kemudian si suami membuka celana dalamnya dan kelihatanlah kemaluannya yang sudah berdiri tegak lurus yang panjangnya ada kira-kira 10 centimeter tetapi kelihatannya sangat besar batangnya. Dia berlutut diantara kaki isterinya dan isterinya mengangkat lututnya sehingga pahanya menjadi lebih terbuka. Saya hanya bisa melihat dari belakang ketika si suami naik menindih isterinya. Setelah dia menekan dan memasukkan kemaluannya kedalam kemaluan isterinya, kaki isterinya naik dan melingkari kedua paha suaminya dan kemudian bokong suaminya kelihatan naik turun dengan gerakan yang teratur.
Tanganku sendiri sudah basah oleh lendir mani dari sudah saya keluarkan dari kemaluanku dan rasanya nikmat sekali; jauh lebih nikmat daripada ketika onani dengan membayangkan adegan-adegan yang tertulis di buku stensilan - disini saya melihat sendiri dengan mata kepala saya sendiri lelaki dan perempuan yang sedang bersenggama.
Saya terus mengintip dan setelah si suami memompa isterinya kira-kira 5 menit, pantatnya mulai bergerak naik turun dengan sangat cepat dan saya melihat tiba-tiba otot-otot dipantatnya menjadi keras dan dia menekan dalam-dalam dan tangan isterinya merangkul kepalanya erat-erat. Saya merasa sangat iri melihat kemesraan dan kenikmatan mereka berdua dimana mereka boleh menikmati sesuatu yang menjadi rahasia buat saya pada saat itu. Mereka tergeletak diam bertindihan seperti itu beberapa menit dan kemudian si suami menggulingkan tubuhnya kesamping dan berbaring disamping isterinya. Kemaluannya kelihatan lemas dan basah dan dicelah-celah paha isterinya saya melihat cairan putih mengalir sampai jatuh keselimut tempat dia berbaring. Kemudian isterinya mengambil celana dalam suaminya yang terletak dilantai dan dengan itu dia menyeka kemaluannya sendiri dan kemudian batang kemaluan suaminya.
Sayapun diam-diam dan pelan-pelan kembali ke tempat tidurku dan didalam gelap saya mulai mengocok kemaluanku kembali sampai saya ejakulasi untuk kedua kalinya dan kemudian saya tertidur dengan lelap.
Sekolah SMP yang saya ikuti adalah sekolah sore yang mulai dari pukul 12 siang sampai pukul 4 sore. Setiap pagi saya tinggal dirumah sendirian karena orang tua saya pergi bekerja ke kantor dan saudara-saudara saya yang lain bersekolah di pagi hari. Satu hari saya sedang mengerjakan PR di meja makan ketika saya kembali mendengar suara si isteri yang sedang ketawa cekikikan di dalam kamar mereka. Saya segera meninggalkan meja makan dan masuk kedalam kamar tidurku untuk mengintip adegan yang sangat menggairahkan itu.
Si isteri sedang menungging di atas tempat tidur dan ketika saya menyaksikan pantatnya yang bulat dan putih mulus itu, mani saya rasanya hampir muncrat saat itu juga. Si suami berlutut dilantai dan menjilati kemaluan isterinya dari belakang. Aduh alangkah enaknya, saya berkata dalam hati. Kapan saya bisa menikmati yang seperti itu, kata saya ngiri.
Sedang asyik-asyiknya nonton, tiba-tiba seseorang menepuk pantatku dari belakang. Saya hampir pingsan karena terkejut karena saya mengira bahwa orang tua saya sudah pulang dan saya tertangkap basah mengintip orang bersenggama. Tetapi ketika saya menoleh ke belakang, saya melihat si Ayu', tetangga dari sebelah dan dia tersenyum dan berbisik, "Hayo, ketahuan ngintip..!"
Saya merasa lemas dan sangat malu dan ketakutan dan sayapun merebahkan diri diatas tempat tidur sambil tengkurap untuk menenangkan diriku. Nah, disini saya perlu menjelaskan sedikit mengenai tetangga kami, si Ayu'. Dia tinggal bersama tiga orang anaknya yang masih kecil-kecil karena suaminya tinggal di Tanjung Karang dengan isteri mudanya. Suaminya sangat jarang datang mengunjungi dia. Selama 2 tahun kami bertetangga, saya mengingat bahwa suaminya hanya pernah datang dua kali.
Seringkali si Ayu' datang "Meminjam" beras atau uang dari Ibu saya karena suaminya terlambat mengirim uang belanja. Dia juga sering meminta kakak saya yang perempuan yang pintar menjahit untuk menjahit bajunya yang kemudian dia akan bayar apabila dia sudah menerima uang dari suaminya.
Kira-kira tiga bulan sebelumnya, ketika saya sedang sendirian di rumah, Ayu' datang dan katanya ingin ngepas bajunya yang sudah hampir selesai dijahit oleh kakak saya. Pada waktu itu tidak ada orang lain dirumah selain saya sendiri. Saya bawa dia masuk kedalam kamar kakak saya untuk mencoba bajunya. Ketika dia meminta saya untuk keluar karena dia harus menanggalkan pakaiannya, saya diam saja dan tidak beranjak.
"E-eh, kamu nggak mau keluar, iya? Mau lihat Ayu' telanjang..?" katanya.
"Boleh kan..?" kata saya berharap.
"Budak nakal.." katanya dan dia memutar tubuhnya membelakangi saya sambil membuka pakaiannya. Oh, lututku menjadi lemas melihat badannya yang putih mulus dan pantatnya yang montok; dia ternyata tidak mengenakan celana dalam! Tanpa saya sadari saya maju dan mengelus pantatnya yang mulus. Dia berbalik dan memukul tangan saya.
"Heh, koq lancang!" katanya setengah marah, setengah bercanda dan mata saya melotot melihat bagian depan tubuhnya yang buat saya begitu indah dan menggiurkan. Saya terpesona melihat perutnya yang sangat mulus dan bersih dan yang paling mempesonakan adalah kemaluannya yang sangat mulus tanpa rambut sedikitpun! Hanya ada kelihatan bibirnya yang kemerah-merahan dengan sedikit warna cokelat menyembul keluar seperti senyum simpul yang agak peot.
"Bandel! Nanti saya bilangin mami kamu, lho!" katanya tetapi dia tidak berusaha menutupi tubuhnya dan mulai mengenakan pakaian baru yang akan dicobanya. Dia mulai mengenakan baju itu dengan menurunkannya mulai dari kepala dan ketika baju itu menutup kepalanya, saya tanpa sadar menulurkan tangan saya dan mengelus bibir kemaluannya. Dia hampir melompat karena kaget tetapi saya segera lari keluar dari kamar.
Nah, kembali kepada peristiwa saat ini, ketika saya tengkurap ditempat tidur, ternyata Ayu' meneruskan untuk mengintip sendiri adegan yang sedang terjadi didalam kamar tidur. Saya tidak menyadarinya tetapi tiba-tiba saya merasa tangannya mengelus punggung saya dan ketika saya berbalik, Ayu' sedang duduk dipinggir tempat tidur dan berbisik, "Mereka lagi ngentot..," katanya dengan nafas yang agak berat.
Saya diam saja karena masih belum pulih dari rasa kaget dan malu, tetapi tiba-tiba Ayu' meraba kearah kemaluanku yang sudah mulai bangun lagi. Saya diam saja dan biarkan dia membuka resleting celana saya dan tangannya kemudian mengelus-elus batang kemaluanku yang sudah berdiri tegak. Dia kemudian berlutut dilantai disisi tempat tidurku dan mulai mengemut kontolku yang masih belum begitu besar. Saya merasa sangat geli dan nikmat dan tiba-tiba saya mengejang dan maniku muncrat didalam mulut Ayu'. Dia teruskan mengisap kontolku yang tetap tegang, lalu kemudian dia membuka dasternya dan naik ketempat tidur. Dia kemudian mengangkangi kepala saya dan menyodorkan kemaluannya yang mulus kewajahku.
Sekarang saya bisa melihat dengan jelas sekali bibir kemaluannya yang sudah basah dan saya bisa mencium sedikit bau amis bekas kencing yang sangat merangsang bagiku. Dia membuka bibir kemaluannya dengan jari2nya dan menekankan kemaluannya yang merah dan basah kewajahku. Saya hampir tidak bisa bernapas dan saya mendorongnya mundur. Oh, saya berkata dalam hati, sekarang saya tidak perlu iri lagi dengan pasangan yang sedang bermain di dalam kamar tidur sebelah. Sekarang saya bisa menikmati hal yang sama dengan Ayu' dan bukan hanya membayangkan adegan-adegan cerita porno stensilan saja.
Ayu' merebahkan dirinya di tempat tidurku dan membuka pahanya lebar-lebar.
"Ayo, masukin ke nonok Ayu'..," katanya berbisik.
Saya menaiki tubuhnya dan menindih perutnya yang hangat dan mulus. Buah dadanya terasa lunak menekan wajahku yang masih basah oleh lendir dari kemaluannya dan saya mencoba untuk memasukkan kontolku kedalam celah-celan bibir kemaluannya. Ayu' menolong saya dengan menutun kemaluanku masuk ke dalam kemaluannya, dan saya merasakan kenikmatan yang amat sangat ketika saya merasakan kehangatan liang kemaluannya yang mengulum batang kemaluanku yang masih remaja itu, dan secara refleks saya mulai memompa naik turun.
Hanya setelah kira-kira 3 menit saja, Ayu' tiba-tiba menjepit pinggangku dengan kakinya yang melingkari pinggulku dan badanya mengejang dan dia mengeluarkan suara seperti orang mengangis. Lalu dia menjadi diam dan saya merasa liang kemaluannya berdenyut-denyut dan batang kemaluanku seperti disedot-sedot. Saya juga tidak tahan lagi dan saya menyemprotkan maniku kembali untuk kedua kalinya. Ayu' merangkul kepala saya ke dadanya dengan sangat erat sampai saya merasa sulit bernapas, dan saya sangat takut jangan sampai suaranya yang seperti orang menangis itu didengar oleh pasangan yang ada didalam kamar sebelah.
Kami diam di dalam posisi seperti itu selama beberapa menit, lalu Ayu' melepaskan rangkulannya dan pahanya mengendor dan jatuh kesamping. Saya mendorong diriku untuk bangun dan saya melihat wajah Ayu' yang kelihatan merah dan matanya tertutup. Saya mencabut kontol saya pelan-pelan dari lubang kemaluan Ayu' yang sudah sangat becek. Gerakan ini membuat gairahku bangkit kembali dan kontolku menjadi keras kembali, dan sambil bertopang kekasur seperti seseorang yang melakukan push-up, sayapun mendorong kemaluanku keluar masuk kemaluan Ayu'. Saking beceknya saya bisa mendengar suara seperti mengocok sabun.
Dengan masih menutup matanya, Ayu' mengimbangi gerakanku dengan pinggulnya, naik turun dan bergoyang kekiri kekanan. Dia menggigit bibir bawahnya dan tiba-tiba dia mengangkat pinggulnya untuk mengantisipasi masuknya kontolku lalu kakinya kembali melilit pinggulku dengan erat dan tiba-tiba dia kentut dengan keras beberapa kali. Entah kenapa saya sangat dirangsang mendengar dia kentut, dan ketika saya merasa bahwa kenikmatan ejakulasi mulai datang, saya menyodok dalam-dalam dan sekali lagi saya semprotkan air maniku didalam lubang kemaluannya dan saya merasakan kembali lubang kemaluannya berdenyut-denyut.
Saya kemudian bangkit dan pergi mandi karena saya harus pergi ke sekolah. kira-kira dua bulan kemudian, pasangan suami isteri itu pindah kerumah kontrakan mereka yang baru. Saya tinggal sendirian dirumah dan hampir setiap hari Ayu' mengajak saya untuk bersetubuh dan kami melakukannya sepuas-puasnya, kadang-kadang bisa sampai 3 kali berturut-turut. Kadang-kadang Ayu' begitu bernafsunya sehingga walaupun dia sedang mens dia sering juga mengajak main.
Kami bertetangga sampai satu tahun lagi sampai keluarga saya pindah ke Jakarta, dan orang-orang tidak ada yang mencurigai perbuatan kami dimana kami melakukan persetubuhan hampir setiap hari. Saya masih begitu muda sehingga kuat melayani Ayu' yang betul-betul sangat haus akan kepuasan karena suaminya hampir tidak pernah datang mengunjungi dia.
Seperti saya katakan tadi diatas, Ayu' mempunyai tiga orang anak. Yang paling tua adalah seorang perempuan yang masih berumur 11 tahun bernama Efi. Saya pernah mempunyai kesempatan untuk menyetubuhi kedua Ibu dan anak sekaligus, tetapi pengalaman itu saya akan ceritakan di kesempatan yang lain.
TAMAT
Monday, November 17, 2008
Marlena
Hai, perkenalkan.. namaku Andrew xx, anak bungsu pasangan Ronny xx dan Widya xx (samaran). Keduanya pengusaha-pengusaha senior di Indonesia. Meski terlalu kecil untuk bersaing dengan Liem Sioe Liong atau Prajogo Pangestu, tapi kami masih cukup punya namalah di Jakarta. Apalagi kalo di lokasi pabrik Papa di Semarang atau konveksi Mama di Tangerang.. Eh, aku lupa. Aku biasa dipanggil Andru, tapi di rumah aku dipanggil A Bee atau Abi. By the way, sebenarnya ini adalah kisah tahun 1990. Ya, ini adalah kisah 13 tahun yang lalu..
Tahun itu, aku baru naik kelas 2 SMP. Umurku saat itu masih 13 tahun dan akan 14 Desember nanti. Mm.. SMP-ku dulu lumayan ngetop, sekarang ngga terlalu.. sekarang cuma tinggal ngetop mahal dan borjunya aja. Aku sendiri termasuk yang 'miskin' di sana, abis aku cuma diantar jemput sama ciecie-ku aja sedang yang laen kadang dianter jemput sama sopir pake mobil sendiri (baca: yang dikasih ortunya buat dia)
Kakak perempuanku yang sulung, Sinta, tapi dipanggilnya Sian buat temen sekolah/kuliahnya. Cie Sian baru-baru aja mulai kuliah. Usianya waktu itu 18 tahun. Sedang kakak perempuanku yang kedua, Sandra, yang biasa dipanggil Sandra atau Apin, baru masuk SMA dan usianya 15. Hehehe.. kalo berangkat aku dan Cie Pin suka nebeng Cie Sian. Tapi kalo pulang, Cie Pin naik bis sedang aku dijemput Cie Sian. Tapi mulai kelas 2 ini aku sudah bertekat pulang naik metro mini atau bajaj sama temen-temen. Cie Sian cuman tersenyum aja aku bilang gitu..
Cuma gara-gara naik bis itu, Tante Vi, sekretaris Mama khusus buat di rumah –dan gara-gara kekhususannya itu kami suka ejek dia butler alias "kepala pelayan" hehehe- jadi sedikit sewot. Tapi bagusnya, uang sakuku jadi bertambah. Katanya sih buat naik taksi atau makan di jalan kalo laper. Ya, lumayanlah. Buat ukuran anak SMP tahun 1990, yang meskipun di sekolahan termasuk yang miskin, tapi uang sakuku yang duaratus ribu sehari mungkin ngga kebayang sama temen-temenku yang sok kaya. Lagian aku buat apa bilang-bilang.. kalo gini kan ketauan mana yang temen mana yang bukan.. soalnya anak SMP ku itu dari dulunya, juga pada waktu itu, bahkan sampai sekarang. Terkenal matre.
Well, dan gara-gara kata matre itu pula yang bikin aku bisa ngeseks sama Vonny, anak kelas 3 yang sangat cantik tapi sangat memilih pasangan jalannya itu. Juga sama Mbak Maya, temen SMA nya Cie Pin. Hehehe, untung aja Ci Pin ngga pernah tau sampe sekarang.. pasti heboh waktu itu kalo dia tahu.
Eh, tapi.. aku pertama kali ngerasain yang namanya 'ngentot' bukan sama mereka ini loh.. Pasti kalian ngga pernah kebayang deh sama siapa aku pertama kali ngerasain badan cewek. Oh, bukan sama Tante Vi tadi.. apalagi sama perek atau pelacur (itu sih jijay!hii..) Mau tahu? Sama seorang sales promotion girl bernama Marlena.
Ceritanya, siang-siang pulang sekolah kami iseng pengen tau seperti apa sih yang namanya Pameran Produk Indonesia (PPI) di silang Monas. Well, kami liat-liat di sana ternyata sepi-sepi aja kecuali di beberapa stand/gedung pameran seperti mobil. Dan di stand itulah saat itu aku tersadar sudah terpisah sendirian dari temen-temenku.. Rese' nih pada ngga bilang-bilang kalo kehilangan..
"Siang, Ko.. pulang sekolah ya?" seorang dara putih manis berlesung pipit dan berambut ikal sepundak menegurku dengan senyum yang paaling indah menawan yang pernah kusaksikan seumur hidupku. Aku balas tersenyum pada SPG yang ramah tapi agak sok akrab itu, "Iya Cie..", Aku panggil dia Cie sebab jelas-jelas usianya lebih tua daripada aku, mungkin 21 atau 22 tahunan. Aku kan masih 13 tahun dan pasti keliatan karena aku kurus, kecil, pendek, dan masi pake celana SMP..
Ciecie itu tertawa sumringah, "Ih, kamu ini pasti langsung kemari abis sekolah.. bandel, ya?!" candanya dengan senyum menggoda. Aku terkekeh juga, meski rada keki dibilang bandel, "Emang iya. Tapi aku kan udah bilang Cie Sian mau kemari..", Ciecie itu tersenyum ramah, "Ciecie kamu umur berapa?", "18..", jawabnya.
Dia tersenyum, "Mmh ya bolehlah.. berarti kamu ngga kelayapan.."
Aku tertawa, "Hehehe ciecie bisa aja.. "
Lalu aku menudingnya, "Ciecie ini namanya siapa?"
Dengan gaya bak peragawati, dia membetulkan posisi nametag-nya yang miring sehingga dapat jelas kubaca, "M-a-r-l-e-n-a.. Namanya cantik, Cie.."
Dia tersenyum, "Aduh makasih banget, tapinya ngga ada recehan nih.. pake brosur aja ya?"
Aku tersenyum dan mengambil juga brosur yang ia tawarkan.
"Wow, ni mobil keren juga, nih.." aku sampai bersiul terkagum-kagum pada barang dagangannya.. (well, saat itu teknologi DOHC baru pertama kali muncul di Indonesia.. wajar dong kalo aku saat itu kagum berat..)
"Iya, dong.. siapa dulu yang jualan" katanya tersenyum sambil menepuk dada.
Dan saat itulah aku mulai memperhatikan baju kausnya ketatnya yang menonjolkan buah dadanya yang lumayan besar.. hmm.. dan rok mininya yang ketat tipis sepaha itu, seolah-olah bila kakinya terbuka sedikit lebih lebar maka aku dapat melihat celana dalamnya.. Maka tidak usah ditunggu lagi, aku segera mengikuti kemanapun ia bergerak menerangkan presisi dan kemampuan mobil itu, sambil bersyukur jadi orang pendek.
Hehehee.. Beneran deh, dengan tinggiku saat itu yang 134 cm, kalian seolah-olah bisa mengintip isi rok mini Cie Lena yang tingginya 170 cm lebih dan pake sepatu hak tinggi pula. Makanya aku tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk duduk di dalam mobil sementara ciecie itu menjelaskan dari luar dengan sebelah kaki menginjak sandaran kaki..
Tapi aku yakin mukaku menjadi kemerah-merahan, sebab ciecie ini dari tadi bagaikan tertawa maklum dan betul-betul sapuan matanya menyapu wajahku terus-menerus.. sampai tiba-tiba aku bagai tersadar dari lamunan..
"..gimana? udah keliatan belon?"
aku terkaget-kaget di tempat duduk menatap wajahnya yang tersenyum manis, "apanya, nih?"
dia tersenyum lalu gerakan matanya menunjuk arah diantara kedua kakinya yang membuka sambil berkata pelan, "..celana dalemnya ciecie.."
nah, kebayang kan gimana malunya dan merahnya mukaku saat itu ditembak langsung begitu.. untung dia ngomongnya ngga kenceng. Lalu dia mendekatkan diri padaku dan berkata, "dari tadi ciecie liat kamu berusaha liat dalemannya ciecie, jadi tadi ciecie sengaja angkat kaki sedikit biar kamu engga penasaran.. udah liat, kan? Ciecie pake warna coklat muda..". Aku yakin mukaku semerah kepiting rebus. Tapi Cie Lena tersenyum maklum dan membimbingku bangkit dari tempat duduk sopir dan berkata keras, "Ikut Ciecie ya Ko kecil.. Ciecie akan kasi liat kemampuan ini mobil supaya bisa bilang-bilang sama Papa, ya?"
Dan seorang pria muda berdasi yang berdiri tidak jauh dari kami tersenyum lebar mendengar ucapannya itu sambil mengacungkan ibu jari. Tapi kulihat Cie Lena cuek aja, malah mengerdipkan sebelah matanya padaku.
Kami menuju pelataran parkir luar dimana sebuah mobil serupa dipamerkan –dan nampaknya bisa dicoba. Cie Lena memintaku duduk di depan sedang dia sendiri menyetir.
Gugup juga aku waktu liat dia di kursi sopir duduk agak mekangkang sehingga dengan rok mini super pendeknya aku tahu pasti terdapat celah terbuka yang bila aku duduknya maju sedikit pasti aku bisa melihat.. ehmm.. anunya.. yang katanya coklat muda itu..
Cie Lena tertawa geli melihatku rada panik. Melajukan mobil keluar kompleks silang Monas, ia berkata, "Nah sekarang kamu bisa liat celana dalam Ciecie puas-puas tanpa perlu takut ketauan.."
Aku sangat malu. Tapi aku tidak bisa menahan diriku untuk menyandarkan kepalaku ke dashboard sehingga bisa mengintip sesuatu diantara kedua paha mulus ciecie ini..
Dia tersenyum, "Namamu siapa sih, Say?"
"A Bee."
Dia tersenyum, "Nama yang bagus."
Lalu dia menoleh menatapku sebentar, "Kamu belum pernah liat cewek telanjang ya, Say?"
Aku menggeleng pelan.
"Pengen tau, ya?" dia tersenyum, "Pasti pernah nyoba ngintipin ciecie-mu ya?"
Kali ini aku mengangguk pelan.
Dia tertawa.
"Mau liat Ciecie telanjang ngga, Say?"
Aku cuma bisa menelan ludah gugup. Ciecie seseksi ini mau telanjang di depanku?
Dia tersenyum, "Tapi Say, Ciecie boleh minta duit kamu sedikit ya? Ciecie perlu bayar uang kuliah sama beli buku nih.."
Aku masih terdiam membayangkan dia telanjang di depanku.. Waah, pasti di antara kakinya itu ada..
"Kamu boleh liat badan Ciecie semuanya, Say.." katanya memutus lamunanku, "Ciecie sayang sama kamu, abis kamu imut sih.."
"Ciecie emang butuhnya berapa duit?" aku memberanikan diri bertanya.
Dia tersenyum dan jarinya menunjuk angka 1..
"I Pay.."
Cuma segitu? Yah, kalo cuma segitu sih.. uang sakuku sehari juga lebih dari itu.. Aduh, dengan uang segitu, dia mau telanjang di depanku supaya dia bisa kuliah..
"Cie.." kataku nekat, gejolak di kepalaku sudah memuncak di napas dan kontolku nih..
"..tapinya aku boleh cium Ciecie, ya?"
Cie Lena agak kaget, aku terlalu polos atau kurang ajar, ya?
Tapi dia tersenyum.
"Makasih, A Bee Sayang.."
Lalu, Cie Lena mengarahkan mobil contoh itu ke sebuah tempat di Kota (aku ngga tau namanya, waktu itu kami kan tinggalnya di Pondok Indah sedang sejauh-jauhnya aku main kan cuma di Blok M). Ia memasukkan mobil ke garasi sebuah rumah kecil di pemukiman yang padat dan jalannya ampun deh jeleknyaa..
Lalu Cie Lena menyilakan aku keluar. Sempat kulihat ia tersenyum pada seorang Empeh-empeh yang lewat, Kudengar ia membahasakan aku ini adik sepupu yang hari ini dititip karena orang tuanya sedang pergi. Wah, kalau sampe sebegitu-begitunya, ini pasti beneran tempat tinggalnya.. Lalu aku mengikutinya masuk ke dalam rumah itu. (Hihihi aku perhatikan ia mengambil anak kunci pintu depan dari balik keset.. Kalo aku maling, habis sudah isi rumah ini..)
"Ini kontrakan Ciecie.." katanya sambil menunjuk ke ruangan dalam, "Ciecie tinggal berempat di sini."
"Yang lainnya kalo ngga kerja ya kuliah.." katanya saat aku bertanya mana yang lain.
Ia membuka kamarnya dan menyilakan aku masuk sementara ia ke ruangan lain –mungkin mengambil minuman. Aku perhatikan kamarnya sangat rapi, mirip seperti kamarnya Ci Sian. Bedanya hanya buku-buku kuliahannya sangat sedikit sedang di kamarnya Ci Sian kemanapun kita memandang isinya buku.. Ah, Ciecie ini memang butuh bantuan banyak.
Lalu Cie Lena datang membawa minuman. Tersenyum ramah. Meletakkan gelas di meja belajarnya lalu mengunci pintu dan berdiri bersandar di pintu sambil memandangiku. Aku duduk di kursi belajarnya, setengah gugup. Habis ini, aku akan melihat cewek bugil asli-aslian di depanku.. Nampaknya dia sangat mengerti kegugupanku karena ia lalu berjongkok di sampingku dan memelukku erat-erat. Menciumku pelan. Lalu berkata, "Udah siap liat bodi Ciecie?", Aku mengangguk perlahan. Dia tersenyum dan berdiri sambil membelai pipiku. Ia mulai berdiri menjaga sedikit jarak agar aku bisa melihat semua dengan jelas.
Sebetulnya kalo dipikir-pikir saat itu ia melakukannya dengan cepat, kok.. Tapi dalam tegangku, semua gerakannya jadi slow motion. Ia mulai dengan membuka kaus ketat tipisnya. Melemparnya ke tempat tidur. Tersenyum lebar, ia menepuk perutnya yang putih kecoklatan itu sambil membuat gerakan menciumku.. Lalu ia menarik sesuatu di belakang rok mininya sehingga terjatuh ia menutupi jemari-jemari kakinya menampakkan celana dalam coklat muda yang tadi ia katakan..
Sampai di sini, aku tidak kuat duduk.. batang kontolku menegang dan sakit kalo aku tetap duduk. Ia malah mendekat dan memelukku. Mmmhh.. meski jadi sedikit sesak napas, tapi aku sangat senang.. wajahku kini terbenam di antara belahan buah dadanya.. sedang perutnya menempel pada dadaku.. Oh, aku tentu saja balas memeluknya.. dan terpeluk olehku pinggul dan pantatnya yang sekel itu.. Dan saat terpegang olehku celana dalamnya, spontan aku masukkan jari-jariku ke dalamnya, membuatnya menjerit kecil.. "Aih.. ngga sabaran banget sih Ko kecilku ini.."
Spontan ia melucuti celana dalamnya lalu mengangkat kaki kirinya memeluk pantatku sehingga rambut tipis jembutnya menggesek-gesek perutku.. Aduh ciecie ini.. aku kan pengin liat.. Tapi ia menciumku di pipi dan membimbingku ke cermin yang tertempel di lemarinya memperlihatkan seluruh badan telanjangnya kecuali di sekitar tetek itu.. Aku mengerti. Aku ke belakangnya dan membuka kaitan BH nya sehingga nampak juga akhirnya puncak gunung yang coklat muda indah itu.. membuatku segera menarik tubuhnya menghadapku.. dan mulai meremasinya buah dada itu.. Ia sedikit melenguh dan terduduk di kursi.. Menyandarkan punggungnya di sandaran kursi sehingga dadanya membusung sedang posisi pinggul dan otomatis memeknya tersodor bagai ingin disajikan.. Aku ciumi teteknya itu lalu aku hisap kuat-kuat membuatnya menggelinjang sampai akhirnya dengan satu sentakan ia mendorongku jatuh ke tempat tidurrnya..
Ia bangkit berdiri setengah membuka pahanya sambil bertolak pinggang menonjolkan dadanya yang masih mancung dan ranum itu..
Aduh aku ngga kuat lagi. Aku buka celana ku sehingga batang kontolku mencuat keluar dengan bebas mengambil posisi tempur.. kucopot juga bajuku sehingga tinggal singletku. Sementara itu ia hanya tersenyum saja.
Lalu ia memegang kontolku, yang segera saja semakin tegang dan membesar..
"Aduh si Ko kecil ini.." katanya sambil menggeleng-gelengkan kepala, "Udah kerangsang, ya?"
"Iya, cie.. "
Dia cuma tercekikik, dengan genggamannya menahan kulit kulup ku agar tidak menutupi kepala kontolku, ia menotol-notolkan telunjuknya pada kepala kontolku.. dan setiap kali jarinya menyentuh kulit kepala kontolku, setiap kali itu aku merasa tersetrum oleh rasa geli-geli yang aneh..
"Hhh..," aku sampai mendesah kenikmatan, "Cie, 'maen' yuk?"
Dia menatapku geli..
"Maen petak umpet?"
Aku menggeleng tak sabar, "Bukaan. Kayak yang di film-film.."
"Film apa? Donald Duck?"
"Be Ef, Cie.. Ngentot.." akhirnya keluar juga kata itu dari mulutku..
Tapi dia malah menowel hidungku, "Anak bandel, ya? Kecil-kecil udah nonton BF. Kamu udah pernah 'maen', ya? sama siapa?"
Aku menggeleng pelan, "Nonton doang. Pengen sama Ciecie.."
"Tapi ciecie mana puas 'maen' sama kamu. Kamu kan masih anak kecil.."
Lalu dia menunjuk burung-ku
"Punya kamu itu kekecilan. Lagian kamu orang kan belum pernah 'maen', belon tau harus ngapain.."
Adduuh.. aku udah kepengen banget niih..
"Cie Len.. boleh dong, ya? aku kasi Ciecie tiga ratus deh.." aku merengek..
Dia malah tertawa, "Kamu ini mesti anak orang super kaya.. buang duit kayak buang sampah.."
Adduuh.. tolong Cie.. cepet dong..
Dia lalu mencium bibirku sehingga batang kontolku tak urung menyentuh daerah sekitar pangkal pahanya..
"Duit segitu itu separuh uang kuliah Ciecie satu semester, tau nggak?!"
Adduuh Ciecie ini gimana sii.. aku udah ngga tahan nii..
"Cie Len.. ayo dong Cie.."
Cie Lena menghela napas panjang, lalu menatapku sambil menggigit-gigit bibirnya sebelum akhirnya berkata "Sebetulnya Ciecie ngga pengen begini. Tadinya niat Ciecie sama kamu tuh cuma telanjang aja.."
"Tapi Ciecie memang butuh uangnya.."
Lalu ia menghela napas panjang lagi, "Tapi kamu ini masih anak kecil. Ciecie ngga mau ngerusak kamu.."
Aku menatapnya protes. Ia pasti melihat tatapan protesku, tapi ia nampak berpikir keras. Tapi akhirnya ia menggelengkan kepala lalu mencium bibirku. Lalu tubuh telanjangnya itu menelungkup menindih tubuh telanjangku..Ia menciumiku sementara tangan kirinya menyentuh-sentuh kepala kontolku dan ampun deh rasanya luar biasa.. (ternyata butuh beberapa tahun kemudian baru aku sadar kalo orang belum pernah kepegang cewek, cukup disentuh kepala kontolnya rasanya sudah selangit..)
Aku meronta, menggelinjang keenakan.. sekaligus tidak puas.. aku ingin ngentot! Dan akhirmya ia memenuhi keinginanku.. ia menjejakkan kaki kirinya di atas ranjang sedang kaki kanannya di lantai, dalam posisi setengah berlutut sehingga kepala kontolku (yang mungkin masi terlalu kecil buat dia karena usiaku toh juga masi kecil) sedikit melesak di antara dua bukit berhutan jarang itu.. Lalu.. ia menekan pantatnya sedang ia membusungkan dadanya dan mendongak sehingga pandanganku hanya berisi payudara dan puting susu kecoklatannya itu.. plus bonus ujung hidungnya..
Slepp.. nampaknya kepala kontolku sudah mulai melesak masuk.. Ia lalu mengambil posisi berlutut, kedua lututnya tertekuk di atas kasur dan pinggulnya menindihku.. Lalu ia sekali lagi mendesakkan pinggulnya.. Bless.. akhirnya masuk juga.. Aku terpesona merasakan gesekan kontolku dengan dinding dalam memeknya.. Ia tersenyum lagi. Lalu mulai menggoyang-goyangkan pantatnya.. membuat sensasi luar biasa pada setiap gerakannya yang membuat kontolku bergesekan dengan dinding memeknya.. Ohh.. hh.. Badanku rasanya pelan-pelan terbakar oleh perasaan geli-geli yang menjalar yang dingin..
Lalu ia semakin mempercepat gerakannya. Membuat jalaran geli tadi semakin melebar ke seluruh permukaan kulit tubuhku dan pada saat nampaknya tak tertahankan lagi.. tiba-tiba..
Srr.. srr.. srr.. kurasakan aku 'kencing' dan perasaan geli itu mulai menguap meninggalkan bekas bergetar dingin pada sekujur badanku.. Gerakan Cie Lena berhenti.. Kontolku sudah terlalu lemas sehingga tidak dapat bertahan lebih lama dalam liang memeknya.. Cie Lena memelukku sekali lagi.. Menciumku..
"Gimana, Bee..? Kesampaian, ya..?" katanya dengan senyum menggoda..
"Enak kan 'maen' sama Ciecie..?"
Aku.. aku tidak dapat menjawab. Aku menutup mataku saja sambil tersenyum lebar..
Dan aku pikir dia puas dengan jawaban itu. Soalnya dia mulai menciumku dan memainkan burungku sekali lagi dengan jemari lentiknya..
Ah.. Cie Lena.
Sekarang ini, 13 tahun kemudian, dia masih belum menikah dan kini bekerja sebagai karyawanku di sebuah kawasan perkantoran di xx.. Ya tentu saja kami masih sering melakukannya. Tapi mungkin tidak terlalu sering karena kami masing-masing sudah punya pacar. Hanya saja, ketika kenangan atau gairah itu datang, sedang pacarku tidak ada di tempat, aku tahu ke mana aku bisa menyalurkan hasratku..
TAMAT
Tahun itu, aku baru naik kelas 2 SMP. Umurku saat itu masih 13 tahun dan akan 14 Desember nanti. Mm.. SMP-ku dulu lumayan ngetop, sekarang ngga terlalu.. sekarang cuma tinggal ngetop mahal dan borjunya aja. Aku sendiri termasuk yang 'miskin' di sana, abis aku cuma diantar jemput sama ciecie-ku aja sedang yang laen kadang dianter jemput sama sopir pake mobil sendiri (baca: yang dikasih ortunya buat dia)
Kakak perempuanku yang sulung, Sinta, tapi dipanggilnya Sian buat temen sekolah/kuliahnya. Cie Sian baru-baru aja mulai kuliah. Usianya waktu itu 18 tahun. Sedang kakak perempuanku yang kedua, Sandra, yang biasa dipanggil Sandra atau Apin, baru masuk SMA dan usianya 15. Hehehe.. kalo berangkat aku dan Cie Pin suka nebeng Cie Sian. Tapi kalo pulang, Cie Pin naik bis sedang aku dijemput Cie Sian. Tapi mulai kelas 2 ini aku sudah bertekat pulang naik metro mini atau bajaj sama temen-temen. Cie Sian cuman tersenyum aja aku bilang gitu..
Cuma gara-gara naik bis itu, Tante Vi, sekretaris Mama khusus buat di rumah –dan gara-gara kekhususannya itu kami suka ejek dia butler alias "kepala pelayan" hehehe- jadi sedikit sewot. Tapi bagusnya, uang sakuku jadi bertambah. Katanya sih buat naik taksi atau makan di jalan kalo laper. Ya, lumayanlah. Buat ukuran anak SMP tahun 1990, yang meskipun di sekolahan termasuk yang miskin, tapi uang sakuku yang duaratus ribu sehari mungkin ngga kebayang sama temen-temenku yang sok kaya. Lagian aku buat apa bilang-bilang.. kalo gini kan ketauan mana yang temen mana yang bukan.. soalnya anak SMP ku itu dari dulunya, juga pada waktu itu, bahkan sampai sekarang. Terkenal matre.
Well, dan gara-gara kata matre itu pula yang bikin aku bisa ngeseks sama Vonny, anak kelas 3 yang sangat cantik tapi sangat memilih pasangan jalannya itu. Juga sama Mbak Maya, temen SMA nya Cie Pin. Hehehe, untung aja Ci Pin ngga pernah tau sampe sekarang.. pasti heboh waktu itu kalo dia tahu.
Eh, tapi.. aku pertama kali ngerasain yang namanya 'ngentot' bukan sama mereka ini loh.. Pasti kalian ngga pernah kebayang deh sama siapa aku pertama kali ngerasain badan cewek. Oh, bukan sama Tante Vi tadi.. apalagi sama perek atau pelacur (itu sih jijay!hii..) Mau tahu? Sama seorang sales promotion girl bernama Marlena.
Ceritanya, siang-siang pulang sekolah kami iseng pengen tau seperti apa sih yang namanya Pameran Produk Indonesia (PPI) di silang Monas. Well, kami liat-liat di sana ternyata sepi-sepi aja kecuali di beberapa stand/gedung pameran seperti mobil. Dan di stand itulah saat itu aku tersadar sudah terpisah sendirian dari temen-temenku.. Rese' nih pada ngga bilang-bilang kalo kehilangan..
"Siang, Ko.. pulang sekolah ya?" seorang dara putih manis berlesung pipit dan berambut ikal sepundak menegurku dengan senyum yang paaling indah menawan yang pernah kusaksikan seumur hidupku. Aku balas tersenyum pada SPG yang ramah tapi agak sok akrab itu, "Iya Cie..", Aku panggil dia Cie sebab jelas-jelas usianya lebih tua daripada aku, mungkin 21 atau 22 tahunan. Aku kan masih 13 tahun dan pasti keliatan karena aku kurus, kecil, pendek, dan masi pake celana SMP..
Ciecie itu tertawa sumringah, "Ih, kamu ini pasti langsung kemari abis sekolah.. bandel, ya?!" candanya dengan senyum menggoda. Aku terkekeh juga, meski rada keki dibilang bandel, "Emang iya. Tapi aku kan udah bilang Cie Sian mau kemari..", Ciecie itu tersenyum ramah, "Ciecie kamu umur berapa?", "18..", jawabnya.
Dia tersenyum, "Mmh ya bolehlah.. berarti kamu ngga kelayapan.."
Aku tertawa, "Hehehe ciecie bisa aja.. "
Lalu aku menudingnya, "Ciecie ini namanya siapa?"
Dengan gaya bak peragawati, dia membetulkan posisi nametag-nya yang miring sehingga dapat jelas kubaca, "M-a-r-l-e-n-a.. Namanya cantik, Cie.."
Dia tersenyum, "Aduh makasih banget, tapinya ngga ada recehan nih.. pake brosur aja ya?"
Aku tersenyum dan mengambil juga brosur yang ia tawarkan.
"Wow, ni mobil keren juga, nih.." aku sampai bersiul terkagum-kagum pada barang dagangannya.. (well, saat itu teknologi DOHC baru pertama kali muncul di Indonesia.. wajar dong kalo aku saat itu kagum berat..)
"Iya, dong.. siapa dulu yang jualan" katanya tersenyum sambil menepuk dada.
Dan saat itulah aku mulai memperhatikan baju kausnya ketatnya yang menonjolkan buah dadanya yang lumayan besar.. hmm.. dan rok mininya yang ketat tipis sepaha itu, seolah-olah bila kakinya terbuka sedikit lebih lebar maka aku dapat melihat celana dalamnya.. Maka tidak usah ditunggu lagi, aku segera mengikuti kemanapun ia bergerak menerangkan presisi dan kemampuan mobil itu, sambil bersyukur jadi orang pendek.
Hehehee.. Beneran deh, dengan tinggiku saat itu yang 134 cm, kalian seolah-olah bisa mengintip isi rok mini Cie Lena yang tingginya 170 cm lebih dan pake sepatu hak tinggi pula. Makanya aku tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk duduk di dalam mobil sementara ciecie itu menjelaskan dari luar dengan sebelah kaki menginjak sandaran kaki..
Tapi aku yakin mukaku menjadi kemerah-merahan, sebab ciecie ini dari tadi bagaikan tertawa maklum dan betul-betul sapuan matanya menyapu wajahku terus-menerus.. sampai tiba-tiba aku bagai tersadar dari lamunan..
"..gimana? udah keliatan belon?"
aku terkaget-kaget di tempat duduk menatap wajahnya yang tersenyum manis, "apanya, nih?"
dia tersenyum lalu gerakan matanya menunjuk arah diantara kedua kakinya yang membuka sambil berkata pelan, "..celana dalemnya ciecie.."
nah, kebayang kan gimana malunya dan merahnya mukaku saat itu ditembak langsung begitu.. untung dia ngomongnya ngga kenceng. Lalu dia mendekatkan diri padaku dan berkata, "dari tadi ciecie liat kamu berusaha liat dalemannya ciecie, jadi tadi ciecie sengaja angkat kaki sedikit biar kamu engga penasaran.. udah liat, kan? Ciecie pake warna coklat muda..". Aku yakin mukaku semerah kepiting rebus. Tapi Cie Lena tersenyum maklum dan membimbingku bangkit dari tempat duduk sopir dan berkata keras, "Ikut Ciecie ya Ko kecil.. Ciecie akan kasi liat kemampuan ini mobil supaya bisa bilang-bilang sama Papa, ya?"
Dan seorang pria muda berdasi yang berdiri tidak jauh dari kami tersenyum lebar mendengar ucapannya itu sambil mengacungkan ibu jari. Tapi kulihat Cie Lena cuek aja, malah mengerdipkan sebelah matanya padaku.
Kami menuju pelataran parkir luar dimana sebuah mobil serupa dipamerkan –dan nampaknya bisa dicoba. Cie Lena memintaku duduk di depan sedang dia sendiri menyetir.
Gugup juga aku waktu liat dia di kursi sopir duduk agak mekangkang sehingga dengan rok mini super pendeknya aku tahu pasti terdapat celah terbuka yang bila aku duduknya maju sedikit pasti aku bisa melihat.. ehmm.. anunya.. yang katanya coklat muda itu..
Cie Lena tertawa geli melihatku rada panik. Melajukan mobil keluar kompleks silang Monas, ia berkata, "Nah sekarang kamu bisa liat celana dalam Ciecie puas-puas tanpa perlu takut ketauan.."
Aku sangat malu. Tapi aku tidak bisa menahan diriku untuk menyandarkan kepalaku ke dashboard sehingga bisa mengintip sesuatu diantara kedua paha mulus ciecie ini..
Dia tersenyum, "Namamu siapa sih, Say?"
"A Bee."
Dia tersenyum, "Nama yang bagus."
Lalu dia menoleh menatapku sebentar, "Kamu belum pernah liat cewek telanjang ya, Say?"
Aku menggeleng pelan.
"Pengen tau, ya?" dia tersenyum, "Pasti pernah nyoba ngintipin ciecie-mu ya?"
Kali ini aku mengangguk pelan.
Dia tertawa.
"Mau liat Ciecie telanjang ngga, Say?"
Aku cuma bisa menelan ludah gugup. Ciecie seseksi ini mau telanjang di depanku?
Dia tersenyum, "Tapi Say, Ciecie boleh minta duit kamu sedikit ya? Ciecie perlu bayar uang kuliah sama beli buku nih.."
Aku masih terdiam membayangkan dia telanjang di depanku.. Waah, pasti di antara kakinya itu ada..
"Kamu boleh liat badan Ciecie semuanya, Say.." katanya memutus lamunanku, "Ciecie sayang sama kamu, abis kamu imut sih.."
"Ciecie emang butuhnya berapa duit?" aku memberanikan diri bertanya.
Dia tersenyum dan jarinya menunjuk angka 1..
"I Pay.."
Cuma segitu? Yah, kalo cuma segitu sih.. uang sakuku sehari juga lebih dari itu.. Aduh, dengan uang segitu, dia mau telanjang di depanku supaya dia bisa kuliah..
"Cie.." kataku nekat, gejolak di kepalaku sudah memuncak di napas dan kontolku nih..
"..tapinya aku boleh cium Ciecie, ya?"
Cie Lena agak kaget, aku terlalu polos atau kurang ajar, ya?
Tapi dia tersenyum.
"Makasih, A Bee Sayang.."
Lalu, Cie Lena mengarahkan mobil contoh itu ke sebuah tempat di Kota (aku ngga tau namanya, waktu itu kami kan tinggalnya di Pondok Indah sedang sejauh-jauhnya aku main kan cuma di Blok M). Ia memasukkan mobil ke garasi sebuah rumah kecil di pemukiman yang padat dan jalannya ampun deh jeleknyaa..
Lalu Cie Lena menyilakan aku keluar. Sempat kulihat ia tersenyum pada seorang Empeh-empeh yang lewat, Kudengar ia membahasakan aku ini adik sepupu yang hari ini dititip karena orang tuanya sedang pergi. Wah, kalau sampe sebegitu-begitunya, ini pasti beneran tempat tinggalnya.. Lalu aku mengikutinya masuk ke dalam rumah itu. (Hihihi aku perhatikan ia mengambil anak kunci pintu depan dari balik keset.. Kalo aku maling, habis sudah isi rumah ini..)
"Ini kontrakan Ciecie.." katanya sambil menunjuk ke ruangan dalam, "Ciecie tinggal berempat di sini."
"Yang lainnya kalo ngga kerja ya kuliah.." katanya saat aku bertanya mana yang lain.
Ia membuka kamarnya dan menyilakan aku masuk sementara ia ke ruangan lain –mungkin mengambil minuman. Aku perhatikan kamarnya sangat rapi, mirip seperti kamarnya Ci Sian. Bedanya hanya buku-buku kuliahannya sangat sedikit sedang di kamarnya Ci Sian kemanapun kita memandang isinya buku.. Ah, Ciecie ini memang butuh bantuan banyak.
Lalu Cie Lena datang membawa minuman. Tersenyum ramah. Meletakkan gelas di meja belajarnya lalu mengunci pintu dan berdiri bersandar di pintu sambil memandangiku. Aku duduk di kursi belajarnya, setengah gugup. Habis ini, aku akan melihat cewek bugil asli-aslian di depanku.. Nampaknya dia sangat mengerti kegugupanku karena ia lalu berjongkok di sampingku dan memelukku erat-erat. Menciumku pelan. Lalu berkata, "Udah siap liat bodi Ciecie?", Aku mengangguk perlahan. Dia tersenyum dan berdiri sambil membelai pipiku. Ia mulai berdiri menjaga sedikit jarak agar aku bisa melihat semua dengan jelas.
Sebetulnya kalo dipikir-pikir saat itu ia melakukannya dengan cepat, kok.. Tapi dalam tegangku, semua gerakannya jadi slow motion. Ia mulai dengan membuka kaus ketat tipisnya. Melemparnya ke tempat tidur. Tersenyum lebar, ia menepuk perutnya yang putih kecoklatan itu sambil membuat gerakan menciumku.. Lalu ia menarik sesuatu di belakang rok mininya sehingga terjatuh ia menutupi jemari-jemari kakinya menampakkan celana dalam coklat muda yang tadi ia katakan..
Sampai di sini, aku tidak kuat duduk.. batang kontolku menegang dan sakit kalo aku tetap duduk. Ia malah mendekat dan memelukku. Mmmhh.. meski jadi sedikit sesak napas, tapi aku sangat senang.. wajahku kini terbenam di antara belahan buah dadanya.. sedang perutnya menempel pada dadaku.. Oh, aku tentu saja balas memeluknya.. dan terpeluk olehku pinggul dan pantatnya yang sekel itu.. Dan saat terpegang olehku celana dalamnya, spontan aku masukkan jari-jariku ke dalamnya, membuatnya menjerit kecil.. "Aih.. ngga sabaran banget sih Ko kecilku ini.."
Spontan ia melucuti celana dalamnya lalu mengangkat kaki kirinya memeluk pantatku sehingga rambut tipis jembutnya menggesek-gesek perutku.. Aduh ciecie ini.. aku kan pengin liat.. Tapi ia menciumku di pipi dan membimbingku ke cermin yang tertempel di lemarinya memperlihatkan seluruh badan telanjangnya kecuali di sekitar tetek itu.. Aku mengerti. Aku ke belakangnya dan membuka kaitan BH nya sehingga nampak juga akhirnya puncak gunung yang coklat muda indah itu.. membuatku segera menarik tubuhnya menghadapku.. dan mulai meremasinya buah dada itu.. Ia sedikit melenguh dan terduduk di kursi.. Menyandarkan punggungnya di sandaran kursi sehingga dadanya membusung sedang posisi pinggul dan otomatis memeknya tersodor bagai ingin disajikan.. Aku ciumi teteknya itu lalu aku hisap kuat-kuat membuatnya menggelinjang sampai akhirnya dengan satu sentakan ia mendorongku jatuh ke tempat tidurrnya..
Ia bangkit berdiri setengah membuka pahanya sambil bertolak pinggang menonjolkan dadanya yang masih mancung dan ranum itu..
Aduh aku ngga kuat lagi. Aku buka celana ku sehingga batang kontolku mencuat keluar dengan bebas mengambil posisi tempur.. kucopot juga bajuku sehingga tinggal singletku. Sementara itu ia hanya tersenyum saja.
Lalu ia memegang kontolku, yang segera saja semakin tegang dan membesar..
"Aduh si Ko kecil ini.." katanya sambil menggeleng-gelengkan kepala, "Udah kerangsang, ya?"
"Iya, cie.. "
Dia cuma tercekikik, dengan genggamannya menahan kulit kulup ku agar tidak menutupi kepala kontolku, ia menotol-notolkan telunjuknya pada kepala kontolku.. dan setiap kali jarinya menyentuh kulit kepala kontolku, setiap kali itu aku merasa tersetrum oleh rasa geli-geli yang aneh..
"Hhh..," aku sampai mendesah kenikmatan, "Cie, 'maen' yuk?"
Dia menatapku geli..
"Maen petak umpet?"
Aku menggeleng tak sabar, "Bukaan. Kayak yang di film-film.."
"Film apa? Donald Duck?"
"Be Ef, Cie.. Ngentot.." akhirnya keluar juga kata itu dari mulutku..
Tapi dia malah menowel hidungku, "Anak bandel, ya? Kecil-kecil udah nonton BF. Kamu udah pernah 'maen', ya? sama siapa?"
Aku menggeleng pelan, "Nonton doang. Pengen sama Ciecie.."
"Tapi ciecie mana puas 'maen' sama kamu. Kamu kan masih anak kecil.."
Lalu dia menunjuk burung-ku
"Punya kamu itu kekecilan. Lagian kamu orang kan belum pernah 'maen', belon tau harus ngapain.."
Adduuh.. aku udah kepengen banget niih..
"Cie Len.. boleh dong, ya? aku kasi Ciecie tiga ratus deh.." aku merengek..
Dia malah tertawa, "Kamu ini mesti anak orang super kaya.. buang duit kayak buang sampah.."
Adduuh.. tolong Cie.. cepet dong..
Dia lalu mencium bibirku sehingga batang kontolku tak urung menyentuh daerah sekitar pangkal pahanya..
"Duit segitu itu separuh uang kuliah Ciecie satu semester, tau nggak?!"
Adduuh Ciecie ini gimana sii.. aku udah ngga tahan nii..
"Cie Len.. ayo dong Cie.."
Cie Lena menghela napas panjang, lalu menatapku sambil menggigit-gigit bibirnya sebelum akhirnya berkata "Sebetulnya Ciecie ngga pengen begini. Tadinya niat Ciecie sama kamu tuh cuma telanjang aja.."
"Tapi Ciecie memang butuh uangnya.."
Lalu ia menghela napas panjang lagi, "Tapi kamu ini masih anak kecil. Ciecie ngga mau ngerusak kamu.."
Aku menatapnya protes. Ia pasti melihat tatapan protesku, tapi ia nampak berpikir keras. Tapi akhirnya ia menggelengkan kepala lalu mencium bibirku. Lalu tubuh telanjangnya itu menelungkup menindih tubuh telanjangku..Ia menciumiku sementara tangan kirinya menyentuh-sentuh kepala kontolku dan ampun deh rasanya luar biasa.. (ternyata butuh beberapa tahun kemudian baru aku sadar kalo orang belum pernah kepegang cewek, cukup disentuh kepala kontolnya rasanya sudah selangit..)
Aku meronta, menggelinjang keenakan.. sekaligus tidak puas.. aku ingin ngentot! Dan akhirmya ia memenuhi keinginanku.. ia menjejakkan kaki kirinya di atas ranjang sedang kaki kanannya di lantai, dalam posisi setengah berlutut sehingga kepala kontolku (yang mungkin masi terlalu kecil buat dia karena usiaku toh juga masi kecil) sedikit melesak di antara dua bukit berhutan jarang itu.. Lalu.. ia menekan pantatnya sedang ia membusungkan dadanya dan mendongak sehingga pandanganku hanya berisi payudara dan puting susu kecoklatannya itu.. plus bonus ujung hidungnya..
Slepp.. nampaknya kepala kontolku sudah mulai melesak masuk.. Ia lalu mengambil posisi berlutut, kedua lututnya tertekuk di atas kasur dan pinggulnya menindihku.. Lalu ia sekali lagi mendesakkan pinggulnya.. Bless.. akhirnya masuk juga.. Aku terpesona merasakan gesekan kontolku dengan dinding dalam memeknya.. Ia tersenyum lagi. Lalu mulai menggoyang-goyangkan pantatnya.. membuat sensasi luar biasa pada setiap gerakannya yang membuat kontolku bergesekan dengan dinding memeknya.. Ohh.. hh.. Badanku rasanya pelan-pelan terbakar oleh perasaan geli-geli yang menjalar yang dingin..
Lalu ia semakin mempercepat gerakannya. Membuat jalaran geli tadi semakin melebar ke seluruh permukaan kulit tubuhku dan pada saat nampaknya tak tertahankan lagi.. tiba-tiba..
Srr.. srr.. srr.. kurasakan aku 'kencing' dan perasaan geli itu mulai menguap meninggalkan bekas bergetar dingin pada sekujur badanku.. Gerakan Cie Lena berhenti.. Kontolku sudah terlalu lemas sehingga tidak dapat bertahan lebih lama dalam liang memeknya.. Cie Lena memelukku sekali lagi.. Menciumku..
"Gimana, Bee..? Kesampaian, ya..?" katanya dengan senyum menggoda..
"Enak kan 'maen' sama Ciecie..?"
Aku.. aku tidak dapat menjawab. Aku menutup mataku saja sambil tersenyum lebar..
Dan aku pikir dia puas dengan jawaban itu. Soalnya dia mulai menciumku dan memainkan burungku sekali lagi dengan jemari lentiknya..
Ah.. Cie Lena.
Sekarang ini, 13 tahun kemudian, dia masih belum menikah dan kini bekerja sebagai karyawanku di sebuah kawasan perkantoran di xx.. Ya tentu saja kami masih sering melakukannya. Tapi mungkin tidak terlalu sering karena kami masing-masing sudah punya pacar. Hanya saja, ketika kenangan atau gairah itu datang, sedang pacarku tidak ada di tempat, aku tahu ke mana aku bisa menyalurkan hasratku..
TAMAT
Maria... Maria...
Maria. Itu namaku. Kedua orang tuaku meninggal karena kecelakaan ketika aku berusia 11 tahun. Saat itu, aku benar-benar sendirian. Rasa takut dan kesepian menyerang hati dan pikiranku. Yang paling menyedihkan adalah, aku sama sekali tidak pernah dikenalkan ataupun berjumpa dengan kerabat ayah maupun ibu. Aku tidak pernah bertanya. Selama ini aku hanya mengenal ayah dan ibu saja. Dan itu sudah lebih dari cukup bagiku. Kami bertiga sangat bahagia.
Aku tidak ingat, bagaimana aku bisa sampai di panti asuhan itu. Yayasan Bunda Erika, aku membacanya di sebuah papan nama di depan pintu masuk bangunan itu. Di sana, banyak anak-anak yang sebaya denganku. Kehadiran mereka membuatku setidaknya "lupa" akan kemalangan yang baru saja menimpaku. Tidak lamapun, aku merasa kalau aku telah menemukan rumah baru bagiku. Enam bulan pun berlalu.
Pada suatu hari yang cerah, mendadak kami dibangunkan oleh Bunda Risa, salah satu pengurus di tempat kami.
"Ayo bangun, cepat mandi, pakai pakaian terbaik kalian, setelah itu kalian harus berkumpul di aula. Kita akan kedatangan seseorang yang sangat istimewa", katanya sambil tersenyum hangat.
Dan aku pun bertanya, "Bunda, tamu istimewanya siapa sih? Artis ya?"
"Mungkin ya..", kata Bunda Risa sambil tertawa kecil.
"Karena dia adalah putra tunggal dari pemilik yayasan ini.."
Tak kusangka, pertemuanku dengan Erik Torian bisa mengubah hidupku, seluruhnya. Saat dia melewati barisan anak-anak yang lain, dia tiba-tiba berhenti tepat di depanku. Senyuman misterius menghiasi wajahnya. Dengan posisi membungkuk, dia mengamati wajahku dengan teliti. Temannya yang ikut bersamanya pun ikut memperhatikan diriku.
"Ada apa Torian? Apa kau kenal dengan anak ini?", tanyanya.
"Tidak", Erik masih memandangiku sambil memegang mukaku, seolah-olah aku tidak bernyawa.
"Sempurna" katanya dingin.
"Seperti boneka.."
Aku yakin sekali dia bergumam ["..boneka yang aku idam-idamkan"]
Lalu dia melepaskan wajahku dan langsung meninggalkanku begitu saja.
Sehari setelah kunjungan itu, Erik bersama temannya itu kembali mengunjungi yayasan, untuk mengadopsi diriku.
"Halo.. Maria" Erik melemparkan senyum yang berbeda dari kemarin.
"Mulai saat ini, aku-lah yang akan merawat dan mengurus Maria. Kamu tidak harus memanggil aku 'ayah' atau sebutan lainnya, panggil saja aku Erik."
Sambil mengalihkan pandangannya ke temannya, dia melanjutkan,"Nah.., ini adalah temanku, namanya Tomi."
Akupun menyunggingkan senyuman ke arah Tomi yang membalasku dengan senyuman hangat.
Aku sama sekali tidak percaya bahwa ternyata Erik tinggal sendirian di rumah megah seperti ini dan masih berusia 24 tahun saat itu. Diam-diam, aku kagum dengan penampilan Erik dan Tomi yang sangat menarik. Berada di tengah-tengah mereka saja sudah sangat membuatku special. Erik sangatlah baik padaku. Dia selalu membelikan baju-baju indah dan boneka porselain untuk dipajang dikamar tidurku. Dia sangat memanjakan aku. Tapi, dia juga bersikap disiplin. Aku tidak diperbolehkan untuk keluar rumah selain ke sekolah tanpa dirinya.
Empat bulan berlalu, rasa sayangku terhadap Erik mulai bertambah. Hari itu, aku mulai merasa bosan di rumah dan Erik belum pulang dari kantor. Aku pun menunggunya untuk pulang sambil bermain Play Station di kamarku. Tepat jam 10.30 malam, aku mendengar suara pintu di sebelah kamarku berbunyi.
"Erik sudah pulang!!", pikirku senang.
Aku pun berlari keluar kamar untuk menyambutnya. Tapi, di depan kamar Erik aku berhenti. Pintunya terbuka sedikit. Dan aku bisa tahu apa yang terjadi di dalam sana. Erik bersama seorang wanita yang sangat cantik, berambut panjang, kulitnya pun sempurna. Aku hanya bisa terdiam terpaku. Aku melihat Erik mulai menciumi bibir wanita itu dengan penuh nafsu. Tangannya meraba-raba dan meremas payudara wanita itu.
"Ohh..Erik"
Pelan-pelan, tangan Erik menyingkap rok wanita itu dan menari-nari di sekitar pinggul dan pahanya. Tak lama, Erik sudah habis melucuti pakaian wanita itu. Erik merebahkan wanita itu ke tempat tidur dan menindihnya, tangan Erik bermain-main dengan tubuh wanita itu, menciuminya dengan membabi buta, menciumi leher, menciumi payudara wanita itu sambil meremas-remasnya.
"Ohh..Eriik.." Aku mendengar desahan wanita itu.
Aku melihatnya. Aku tidak percaya bahwa aku menyaksikan itu semua. Tapi, aku tidak bergerak sedikit pun. Aku tidak bisa.
Erik pun membuka resleting celananya dan mengeluarkan 'senjata'nya, kedua kaki wanita itu dipegang dengan tangan Erik dan Erik segera menancapkan 'senjata'nya ke liang wanita yang sudah basah itu dengan sangat kasar. Wanita itu mengerang dengan keras. Tanpa sadar, pipiku sudah dibasahi oleh air mata. Hatiku terasa sakit dan ngilu. Tapi, aku tetap tidak bisa beranjak dari sana. Aku tetap melihat perbuatan Erik tanpa berkedip sambil berlinang air mata.
Erik masih melanjutkan permainannya bersama wanita cantik itu, dia menggerakkan pinggulnya maju dan mundur dengan sangat cepat. Teriakan kepuasan dari wanita itu pun membahana di seluruh ruangan. Sepuluh menit setelah itu, Erik terlihat kejang sesaat sambil mengerang tertahan. Erik pun menghela napas dan beristirahat sejenak, masih dalam rangkulan wanita itu. Permainan berakhir.
Tapi aku masih mematung di depan kamarnya, memperhatikan Erik dari sebelah pintu yang sedikit terbuka. Aku tidak mau bergerak juga, seolah-olah aku sengaja ingin ditemukan oleh Erik. Benar saja, aku melihat Erik berbenah memberesi bajunya dan bergerak menuju pintu. Dia membuka pintu dan melihat diriku mematung sambil menangis di sana. Dia memperhatikanku sejenak dan senyuman misterius itu hadir lagi.
Dia pun membungkukkan tubuhnya,
"Hey, tukang ngintip cilik. Aku nggak marah kok. Hanya saja, aku sudah mempersiapkan hukuman yang tepat untukmu. Tapi, tidak saat ini. Ayo, aku temani kamu sampai kamu tertidur. Kalau kamu capek, besok bolos saja."
Erik pun menggendongku yang masih terisak kekamar tidurku. Dan semalaman dia tidur sambil memelukku dengan hangat.
"Aku..aku..sayang Erik"
"Erik adalah milikku..hanya milikku seorang"
Pikiranku berputar-putar memikirkan hal itu. Tak lama, aku pun tertidur lelap.
Hari ini adalah ulang tahunku yang ke-14. Aku senang sekali, karena Erik telah mempersiapkan sebuah pesta ulang tahun untukku di sebuah hotel bintang 5. Ballroom hotel itu sangat indah, Erik mempersiapkannya secara spesial. Aku pun mengenakan gaun berwarna putih yang baru dibelikan Erik. Kata Erik, aku sangat cantik dengan baju itu, "Kamu cocok sekali dengan warna putih, sangat matching dengan warna kulitmu.. Dan lagi, sekarang.. kamu semakin cantik."
Teman-teman perempuanku juga berdecak kagum melihat penampilanku saat itu.
"Kamu cantik ya Maria? Beruntung sekali kamu punya ayah angkat seperti Erik.."
Kata Sara, teman baikku sambil tertawa meledek. Sara melirik ke arah Erik yang sedang duduk di meja pojok bersama Tomi.
"Hey Maria, Erik itu ganteng banget ya? Temennya juga.." ujar Sara sambil tertawa kecil.
Aku pun hanya bisa tertawa, aku pun menetujuinya. Akhir-akhir ini, kami memang jadi sering membicarakan soal cowok. Mungkin karena puber. Tak lama, Aryo temanku yang sepertinya suka denganku datang, sambil menyerahkan hadiah, dia mencium kedua pipiku. Tanpa sadar pipiku bersemu merah.
Setelah pesta usai, Erik mengajakku istirahat di kamar hotel. Aku lumayan capek, tapi aku senang. Dan setiba di kamar, aku memeluk Erik sambil mengucapkan terima kasih.
"Terima kasih Erik..aku sayang sekali sama Erik.."
Erik pun membalas pelukanku sejenak dan kemudian melepasnya, dan dia memegang kedua lenganku sambil memandangku dengan serius. Aku pun merasa heran dan sedikit takut.
"..Erik? Kenapa? Marah yaa? Aku..melakukan kesalahan apa?"
Tanpa banyak bicara, Erik menggeretku ke tempat tidur, mencopot dasinya dan menggunakannya untuk mengikat kedua tanganku dengan kencang. Aku memekik dan mulai menangis.
"Eriik!! Sakit!! Kenapa??!!"
Dia melihatku dengan pandangan marah. Kemudian berteriak,
"Kenapa??!! Kenapa katamu?! Kamu itu perempuan apa??!! Masih kecil sudah kenal laki-laki!! Sudah kuputuskan! Kamu harus di hukum atas perbuatanmu barusan dan perbuatanmu 2 tahun yang lalu!!"
Deg. Jantungku terasa berhenti mengingat kejadian itu.
"Erik marah..", pikirku.
Aku pun merasa ketakutan. Aku takut dibenci. Aku tidak mau kehilangan lagi orang yang kusayangi.
Tiba-tiba, Erik menarik gaunku dengan sangat kasar sehingga menjadi robek. Aku berteriak.
"Ini akibatnya kalau jadi perempuan genit!!"
Erik menariknya lagi untuk kedua kalinya, pakaian dalamku semakin terlihat. Celana dalamku juga akan dilepasnya.
"Erriik!! Jangaan!!", aku berteriak ketakutan.
Terlambat, aku sudah telanjang total. Hanya sisa-sisa gaunku-lah yang masih menyembunyikan bagian-bagian tubuhku sedikit. Erik melihatku dengan penuh nafsu. Nafasnya terdengar berat penuh dengan kemarahan dan birahi. Dia pun menahan tanganku yang terikat dan mendekatkan bibirnya ke bibirku.
"Aku harus menjadi orang pertama yang.."
Erik tidak menyelesaikan kata-katanya dan mulai melumat bibirku dengan sedikit kasar.
"Hmmphh.."
Untuk pertama kalinya aku merasakan ada getaran yang aneh pada tubuhku. Sensasi yang tidak pernah kurasakan sebelumnya.
Erik terus berlanjut menciumku, aku bisa merasakan lidahnya memijat lidahku. Aku pun mengikuti permainannya, sedikit takut, sedikit ingin tahu. Erik mulai meremas-remas payudaraku yang belum tumbuh seutuhnya.
"Ahh.."
Aku mulai menikmati getaran aneh pada diriku.
"Panas..badanku terasa panas..Erik.." pikirku dalam hati.
Erik melanjutkan ciumannya ke leher dan menggigitnya sedikit, remasan tangannya di payudaraku makin kuat.
"Ahh..!!" nafasku makin memburu.
Tiba-tiba Erik berhenti dan melihatku sambil tersenyum misterius.
"Hmm..kamu menyukainya bukan? Ya kan, setan cilik?"
Mukaku bersemu merah, tapi terlalu takut untuk berbicara, tubuhku bergetar hebat. Erik melepaskan kemejanya dan celananya, masih memandangiku. Aku terlalu malu untuk memandang wajahnya.
"Aku rasa, kamu sudah siap untuk permainan selanjutnya.."
Erik tertawa kecil, sedikit kemarahan masih tersisa pada dirinya. Erik kembali menciumiku, kali ini dia meremas payudaraku sambil menghisapnya.
"Hhh..!!"
"Tidak apa-apa..kalau Erik..tidak apa-apa." pikirku.
Aku memejamkan mataku erat-erat ketika Erik mulai memasukkan 'senjata'nya ke dalam diriku.
"Emm.." aku tidak berani bilang kalau aku merasa sakit.
Erik mulai tidak sabar, dan dia memasukkannya dengan kasar.
"Aaahh..!!"
Aku menjerit dan mulai menangis lagi. 'Senjata'nya sudah memasuki diriku seutuhnya dan sakit yang kurasakan itu sedikit aneh, ada kenikmatan di dalamnya. Aku mulai sedikit meronta sambil berteriak. Tapi Erik menahanku dengan kuat. Erik menciumi diriku yang bergetar hebat dengan sedikit paksa. Bosan dengan posisinya, Erik membalikkan posisi tubuhku menjadi telungkup.
"Erriik..!! tidaak!!" aku sangat malu melakukan posisi itu.
Tetapi Erik tidak peduli dan melanjutkan kembali permainannya. Setiap kali tubuh Erik menghentak, aku menjerit sekeras-kerasnya. Erik melakukan gerakan menghentak itu secara teratur, dan tiba-tiba aku merasakan getaran yang sangat hebat dalam diriku, aku merasakan 'liang'ku
menyempit karena otot-otot di tubuhku menjadi tegang. Aku pun berteriak lebih keras dari sebelumnya.
"Ohh..Maria."
Aku merasakan tangan Erik meremas pinggulku dengan kuat. Tubuh Erik mengejang, dan cairan deras pun mengalir dari 'liang'ku. Aku mendesah panjang. Tubuhku masih bergetar. Erik masih menindihku dan mulai menciumi punggungku.
"Hhhmm.. pilihanku memang selalu tepat", gumamnya.
Aku memilih untuk diam. Erik bergeser ke sampingku. Dia memandangiku yang masih berlinang air mata. Tersenyum Erik mengecup kepalaku sambil mengelusnya.
"Maria, kamu adalah milikku seorang.. tidak ada satupun yang boleh menyentuhmu tanpa seizin-ku."
Erik memeluk tubuhku yang kecil dengan erat.
"Ya Erik..aku adalah milikmu. Aku akan melakukan apa saja yang kau perintahkan, asal kau tidak membenciku." Aku masih terisak.
"Anak bodoh.. Aku tidak akan pernah membencimu Maria.."
Pelukan Erik semakin erat. Mukaku terasa panas. Dan aku segera membenamkan diriku ke dalam pelukan Erik.
"Terima kasih..Erik."
TAMAT
Aku tidak ingat, bagaimana aku bisa sampai di panti asuhan itu. Yayasan Bunda Erika, aku membacanya di sebuah papan nama di depan pintu masuk bangunan itu. Di sana, banyak anak-anak yang sebaya denganku. Kehadiran mereka membuatku setidaknya "lupa" akan kemalangan yang baru saja menimpaku. Tidak lamapun, aku merasa kalau aku telah menemukan rumah baru bagiku. Enam bulan pun berlalu.
Pada suatu hari yang cerah, mendadak kami dibangunkan oleh Bunda Risa, salah satu pengurus di tempat kami.
"Ayo bangun, cepat mandi, pakai pakaian terbaik kalian, setelah itu kalian harus berkumpul di aula. Kita akan kedatangan seseorang yang sangat istimewa", katanya sambil tersenyum hangat.
Dan aku pun bertanya, "Bunda, tamu istimewanya siapa sih? Artis ya?"
"Mungkin ya..", kata Bunda Risa sambil tertawa kecil.
"Karena dia adalah putra tunggal dari pemilik yayasan ini.."
Tak kusangka, pertemuanku dengan Erik Torian bisa mengubah hidupku, seluruhnya. Saat dia melewati barisan anak-anak yang lain, dia tiba-tiba berhenti tepat di depanku. Senyuman misterius menghiasi wajahnya. Dengan posisi membungkuk, dia mengamati wajahku dengan teliti. Temannya yang ikut bersamanya pun ikut memperhatikan diriku.
"Ada apa Torian? Apa kau kenal dengan anak ini?", tanyanya.
"Tidak", Erik masih memandangiku sambil memegang mukaku, seolah-olah aku tidak bernyawa.
"Sempurna" katanya dingin.
"Seperti boneka.."
Aku yakin sekali dia bergumam ["..boneka yang aku idam-idamkan"]
Lalu dia melepaskan wajahku dan langsung meninggalkanku begitu saja.
Sehari setelah kunjungan itu, Erik bersama temannya itu kembali mengunjungi yayasan, untuk mengadopsi diriku.
"Halo.. Maria" Erik melemparkan senyum yang berbeda dari kemarin.
"Mulai saat ini, aku-lah yang akan merawat dan mengurus Maria. Kamu tidak harus memanggil aku 'ayah' atau sebutan lainnya, panggil saja aku Erik."
Sambil mengalihkan pandangannya ke temannya, dia melanjutkan,"Nah.., ini adalah temanku, namanya Tomi."
Akupun menyunggingkan senyuman ke arah Tomi yang membalasku dengan senyuman hangat.
Aku sama sekali tidak percaya bahwa ternyata Erik tinggal sendirian di rumah megah seperti ini dan masih berusia 24 tahun saat itu. Diam-diam, aku kagum dengan penampilan Erik dan Tomi yang sangat menarik. Berada di tengah-tengah mereka saja sudah sangat membuatku special. Erik sangatlah baik padaku. Dia selalu membelikan baju-baju indah dan boneka porselain untuk dipajang dikamar tidurku. Dia sangat memanjakan aku. Tapi, dia juga bersikap disiplin. Aku tidak diperbolehkan untuk keluar rumah selain ke sekolah tanpa dirinya.
Empat bulan berlalu, rasa sayangku terhadap Erik mulai bertambah. Hari itu, aku mulai merasa bosan di rumah dan Erik belum pulang dari kantor. Aku pun menunggunya untuk pulang sambil bermain Play Station di kamarku. Tepat jam 10.30 malam, aku mendengar suara pintu di sebelah kamarku berbunyi.
"Erik sudah pulang!!", pikirku senang.
Aku pun berlari keluar kamar untuk menyambutnya. Tapi, di depan kamar Erik aku berhenti. Pintunya terbuka sedikit. Dan aku bisa tahu apa yang terjadi di dalam sana. Erik bersama seorang wanita yang sangat cantik, berambut panjang, kulitnya pun sempurna. Aku hanya bisa terdiam terpaku. Aku melihat Erik mulai menciumi bibir wanita itu dengan penuh nafsu. Tangannya meraba-raba dan meremas payudara wanita itu.
"Ohh..Erik"
Pelan-pelan, tangan Erik menyingkap rok wanita itu dan menari-nari di sekitar pinggul dan pahanya. Tak lama, Erik sudah habis melucuti pakaian wanita itu. Erik merebahkan wanita itu ke tempat tidur dan menindihnya, tangan Erik bermain-main dengan tubuh wanita itu, menciuminya dengan membabi buta, menciumi leher, menciumi payudara wanita itu sambil meremas-remasnya.
"Ohh..Eriik.." Aku mendengar desahan wanita itu.
Aku melihatnya. Aku tidak percaya bahwa aku menyaksikan itu semua. Tapi, aku tidak bergerak sedikit pun. Aku tidak bisa.
Erik pun membuka resleting celananya dan mengeluarkan 'senjata'nya, kedua kaki wanita itu dipegang dengan tangan Erik dan Erik segera menancapkan 'senjata'nya ke liang wanita yang sudah basah itu dengan sangat kasar. Wanita itu mengerang dengan keras. Tanpa sadar, pipiku sudah dibasahi oleh air mata. Hatiku terasa sakit dan ngilu. Tapi, aku tetap tidak bisa beranjak dari sana. Aku tetap melihat perbuatan Erik tanpa berkedip sambil berlinang air mata.
Erik masih melanjutkan permainannya bersama wanita cantik itu, dia menggerakkan pinggulnya maju dan mundur dengan sangat cepat. Teriakan kepuasan dari wanita itu pun membahana di seluruh ruangan. Sepuluh menit setelah itu, Erik terlihat kejang sesaat sambil mengerang tertahan. Erik pun menghela napas dan beristirahat sejenak, masih dalam rangkulan wanita itu. Permainan berakhir.
Tapi aku masih mematung di depan kamarnya, memperhatikan Erik dari sebelah pintu yang sedikit terbuka. Aku tidak mau bergerak juga, seolah-olah aku sengaja ingin ditemukan oleh Erik. Benar saja, aku melihat Erik berbenah memberesi bajunya dan bergerak menuju pintu. Dia membuka pintu dan melihat diriku mematung sambil menangis di sana. Dia memperhatikanku sejenak dan senyuman misterius itu hadir lagi.
Dia pun membungkukkan tubuhnya,
"Hey, tukang ngintip cilik. Aku nggak marah kok. Hanya saja, aku sudah mempersiapkan hukuman yang tepat untukmu. Tapi, tidak saat ini. Ayo, aku temani kamu sampai kamu tertidur. Kalau kamu capek, besok bolos saja."
Erik pun menggendongku yang masih terisak kekamar tidurku. Dan semalaman dia tidur sambil memelukku dengan hangat.
"Aku..aku..sayang Erik"
"Erik adalah milikku..hanya milikku seorang"
Pikiranku berputar-putar memikirkan hal itu. Tak lama, aku pun tertidur lelap.
Hari ini adalah ulang tahunku yang ke-14. Aku senang sekali, karena Erik telah mempersiapkan sebuah pesta ulang tahun untukku di sebuah hotel bintang 5. Ballroom hotel itu sangat indah, Erik mempersiapkannya secara spesial. Aku pun mengenakan gaun berwarna putih yang baru dibelikan Erik. Kata Erik, aku sangat cantik dengan baju itu, "Kamu cocok sekali dengan warna putih, sangat matching dengan warna kulitmu.. Dan lagi, sekarang.. kamu semakin cantik."
Teman-teman perempuanku juga berdecak kagum melihat penampilanku saat itu.
"Kamu cantik ya Maria? Beruntung sekali kamu punya ayah angkat seperti Erik.."
Kata Sara, teman baikku sambil tertawa meledek. Sara melirik ke arah Erik yang sedang duduk di meja pojok bersama Tomi.
"Hey Maria, Erik itu ganteng banget ya? Temennya juga.." ujar Sara sambil tertawa kecil.
Aku pun hanya bisa tertawa, aku pun menetujuinya. Akhir-akhir ini, kami memang jadi sering membicarakan soal cowok. Mungkin karena puber. Tak lama, Aryo temanku yang sepertinya suka denganku datang, sambil menyerahkan hadiah, dia mencium kedua pipiku. Tanpa sadar pipiku bersemu merah.
Setelah pesta usai, Erik mengajakku istirahat di kamar hotel. Aku lumayan capek, tapi aku senang. Dan setiba di kamar, aku memeluk Erik sambil mengucapkan terima kasih.
"Terima kasih Erik..aku sayang sekali sama Erik.."
Erik pun membalas pelukanku sejenak dan kemudian melepasnya, dan dia memegang kedua lenganku sambil memandangku dengan serius. Aku pun merasa heran dan sedikit takut.
"..Erik? Kenapa? Marah yaa? Aku..melakukan kesalahan apa?"
Tanpa banyak bicara, Erik menggeretku ke tempat tidur, mencopot dasinya dan menggunakannya untuk mengikat kedua tanganku dengan kencang. Aku memekik dan mulai menangis.
"Eriik!! Sakit!! Kenapa??!!"
Dia melihatku dengan pandangan marah. Kemudian berteriak,
"Kenapa??!! Kenapa katamu?! Kamu itu perempuan apa??!! Masih kecil sudah kenal laki-laki!! Sudah kuputuskan! Kamu harus di hukum atas perbuatanmu barusan dan perbuatanmu 2 tahun yang lalu!!"
Deg. Jantungku terasa berhenti mengingat kejadian itu.
"Erik marah..", pikirku.
Aku pun merasa ketakutan. Aku takut dibenci. Aku tidak mau kehilangan lagi orang yang kusayangi.
Tiba-tiba, Erik menarik gaunku dengan sangat kasar sehingga menjadi robek. Aku berteriak.
"Ini akibatnya kalau jadi perempuan genit!!"
Erik menariknya lagi untuk kedua kalinya, pakaian dalamku semakin terlihat. Celana dalamku juga akan dilepasnya.
"Erriik!! Jangaan!!", aku berteriak ketakutan.
Terlambat, aku sudah telanjang total. Hanya sisa-sisa gaunku-lah yang masih menyembunyikan bagian-bagian tubuhku sedikit. Erik melihatku dengan penuh nafsu. Nafasnya terdengar berat penuh dengan kemarahan dan birahi. Dia pun menahan tanganku yang terikat dan mendekatkan bibirnya ke bibirku.
"Aku harus menjadi orang pertama yang.."
Erik tidak menyelesaikan kata-katanya dan mulai melumat bibirku dengan sedikit kasar.
"Hmmphh.."
Untuk pertama kalinya aku merasakan ada getaran yang aneh pada tubuhku. Sensasi yang tidak pernah kurasakan sebelumnya.
Erik terus berlanjut menciumku, aku bisa merasakan lidahnya memijat lidahku. Aku pun mengikuti permainannya, sedikit takut, sedikit ingin tahu. Erik mulai meremas-remas payudaraku yang belum tumbuh seutuhnya.
"Ahh.."
Aku mulai menikmati getaran aneh pada diriku.
"Panas..badanku terasa panas..Erik.." pikirku dalam hati.
Erik melanjutkan ciumannya ke leher dan menggigitnya sedikit, remasan tangannya di payudaraku makin kuat.
"Ahh..!!" nafasku makin memburu.
Tiba-tiba Erik berhenti dan melihatku sambil tersenyum misterius.
"Hmm..kamu menyukainya bukan? Ya kan, setan cilik?"
Mukaku bersemu merah, tapi terlalu takut untuk berbicara, tubuhku bergetar hebat. Erik melepaskan kemejanya dan celananya, masih memandangiku. Aku terlalu malu untuk memandang wajahnya.
"Aku rasa, kamu sudah siap untuk permainan selanjutnya.."
Erik tertawa kecil, sedikit kemarahan masih tersisa pada dirinya. Erik kembali menciumiku, kali ini dia meremas payudaraku sambil menghisapnya.
"Hhh..!!"
"Tidak apa-apa..kalau Erik..tidak apa-apa." pikirku.
Aku memejamkan mataku erat-erat ketika Erik mulai memasukkan 'senjata'nya ke dalam diriku.
"Emm.." aku tidak berani bilang kalau aku merasa sakit.
Erik mulai tidak sabar, dan dia memasukkannya dengan kasar.
"Aaahh..!!"
Aku menjerit dan mulai menangis lagi. 'Senjata'nya sudah memasuki diriku seutuhnya dan sakit yang kurasakan itu sedikit aneh, ada kenikmatan di dalamnya. Aku mulai sedikit meronta sambil berteriak. Tapi Erik menahanku dengan kuat. Erik menciumi diriku yang bergetar hebat dengan sedikit paksa. Bosan dengan posisinya, Erik membalikkan posisi tubuhku menjadi telungkup.
"Erriik..!! tidaak!!" aku sangat malu melakukan posisi itu.
Tetapi Erik tidak peduli dan melanjutkan kembali permainannya. Setiap kali tubuh Erik menghentak, aku menjerit sekeras-kerasnya. Erik melakukan gerakan menghentak itu secara teratur, dan tiba-tiba aku merasakan getaran yang sangat hebat dalam diriku, aku merasakan 'liang'ku
menyempit karena otot-otot di tubuhku menjadi tegang. Aku pun berteriak lebih keras dari sebelumnya.
"Ohh..Maria."
Aku merasakan tangan Erik meremas pinggulku dengan kuat. Tubuh Erik mengejang, dan cairan deras pun mengalir dari 'liang'ku. Aku mendesah panjang. Tubuhku masih bergetar. Erik masih menindihku dan mulai menciumi punggungku.
"Hhhmm.. pilihanku memang selalu tepat", gumamnya.
Aku memilih untuk diam. Erik bergeser ke sampingku. Dia memandangiku yang masih berlinang air mata. Tersenyum Erik mengecup kepalaku sambil mengelusnya.
"Maria, kamu adalah milikku seorang.. tidak ada satupun yang boleh menyentuhmu tanpa seizin-ku."
Erik memeluk tubuhku yang kecil dengan erat.
"Ya Erik..aku adalah milikmu. Aku akan melakukan apa saja yang kau perintahkan, asal kau tidak membenciku." Aku masih terisak.
"Anak bodoh.. Aku tidak akan pernah membencimu Maria.."
Pelukan Erik semakin erat. Mukaku terasa panas. Dan aku segera membenamkan diriku ke dalam pelukan Erik.
"Terima kasih..Erik."
TAMAT
Sunday, November 16, 2008
Mantan Anak Ibu Kost
Pengalaman aku kali ini berawal beberapa tahun yang lalu, sekitar tahun 1993 - 1996. Saat itu aku baru saja mendapatkan kerjaku di kota Surabaya sehingga untuk mendapatkan rumah dalam waktu dekat tidak mungkin aku lakukan karena terus terang saja, aku belum mendapatkan tabungan yang cukup untuk membeli rumah. Akhirnya aku putuskan untuk kost didaerah dekat kantor.
Akhirnya aku dapatkan tempat kost yang aku inginkan, perlu pembaca ketahui, nenek kostku mempunyai cucu perempuan yang saat itu masih berada dibawah bangku SMP, sebut saja namanya Endah. Endah adalah sosok yang mengasyikkan jika dilihat, walaupun dia masih dibangku SMP, Endah mempunyai bentuk tubuh yang montok dan setelah aku banding-bandingkan, Endah mirip dengan seorang selebitris di Indonesia yang masih single sampai sekarang. Oya, sebelumnya namaku Dandy, 30 tahun seorang karyawan di salah satu perusahaan di Surabaya.
Singkat cerita, tanpa terasa 2 tahun sudah aku menjalani masa kostku dan karena aku termasuk orang yang supel, aku cepat beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Dan karakter aku itu membuat Endah yang semakin hari semakin ranum dan sexy, tergila-gila dengan aku. Sampai suatu hari aku beranikan diri untuk mencium bibirnya, diluar dugaanku Endah membalas dengan buasnya. Sampai akhirnya aktivitas itu menjadi kegiatan rutin antara aku dengan Endah, sepulang kantor atau memanfaatkan waktu-waktu sepi di kost-kostan. Setiap melakukan hal itu, tanganku yang bandel juga tidak lupa menyelinap di balik CD nya dan sedikit menggesek-gesekan jari telunjukku di ujung clitorisnya. Dan walaupun aku hanya menggesekkan adik kecilku tetapi setiap aktivitas itu, aku selalu mencapai klimaks. 4 tahun ternyata waktu yang sedikit untuk menikmati hal itu. Sampai akhirnya aku harus keluar dari kost-kostan dan Endah harus kuliah di kota dingin Malang.
Setelah sekian tahun lamanya aku tidak mendengar kabar tentang Endah, di tahun 2001 aku iseng-iseng call Endah di rumahnya dan walhasil dari obrolan pertama di telepon tersebut, aku dapatkan nomor phone dia di Malang dan juga dia memberikan nomor HP. Akhirnya kita berdua sering kontak via telephone, walaupun aku sudah berstatus nggak bujang lagi, tetapi dia tetap saja bilang kalau masih sayang sama aku. Sampai akhirnya kita janjian untuk ketemu saat dia week end, karena setiap hari itu Endah selalu rajin pulang ke Surabaya.
Pucuk ditunggu ulam pun tiba, dengan perasaan deg-degan akhirnya aku bertemu dengan sosok Endah yang dulu masih lugu dan centil, sekarang tumbuh menjadi gadis yang sexy, sintal dengan ukuran bra 34. Waw, semakin aku menelan ludah setiap melihat tubuhnya yang sexy.
"Mas Dandy, gimana khabarnya," tanya Endah merusak pikiranku yang jorok.
"Ee.. baik, bagaimana dengan kamu?" jawabku gugup.
Kita berdua bercerita panjang lebar setelah sekaian lama nggak ketemu, Sampai akhirnya aku harus antar dia balik ke rumahnya di sUrabaya.
"En, kamu sudah punya pacar..?" tanyaku.
"Lagi blank nih Mas.. " jawab Endha tangkas
"O yah, kamu masih inget nggak saat aku ajarin kamu berciuman dulu?" godaku.
"Ihh, Mas Dandy emang bandel kok," sambil mencubit lenganku.
"Aow..," aku meringis kesakitan.
"Kamu mau nggak kalau aku terusin pelajarannya," tanyaku sekali lagi.
"Mau aja asal Mas yang ajarin," jawaban Endah membuat aku merinding.
Setelah kita bercanda dan bercerita panjang lebar, akhirnya aku menawarkan diri untuk ketemu minggu depannya lagi.
"Endah, minggu depan ketemu lagi yuk," ajakku.
"Boleh deh Mas..," jawab Endah dengan ceria.
"Tapi nginep ya di hotel?" godaku.
"Lho ngapain?" Endah balas bertanya.
"Katanya mau lanjutin pelajarannya.." aku mencoba memancing .
"Nakaall Mas Dandy.. nih."
Tanpa terasa akhirnya Endah harus turun di dekat rumahnya.
"Ma kasih ya Mas, sampai ketemu minggu depan," sambil pamit Endah mengecup pipiku. Alamak, darah mudaku bergejolak menerima sentuhan bibirnya yang mungil. Aku perhatikan lenggak-lenggok pinggulnya meninggalkan mobil starletku, sembari aku membayangkan seandainya aku bisa menikmati tubuh kamu Endah, duh betapa bahagainya diriku.
Satu minggu tanpa terasa aku lewatin, sampailah aku ketemu dengan Endah. Kali ini aku sudah booking hotel berbintang di pinggiran kota untuk satu malam. Tepat pukul 16.30, sepulang kantor aku bergegas mengemasi pekerjaan aku dan meluncur di tempat yang sudah kita sepakati bersama.
Bulu kudukku merinding saat dia memasuki mobilku, parfumnya yang harum sontak menggugah saraf kelaki-lakianku.
Tanpa pikir panjang, aku segera meluncur menuju hotel yang sudah aku booking sehari sebelumnya. Jujur saja, buat Endah ini adalah hal yang pertama masuk di hotel, sehingga dia sedikit kaku untuk lingkungan yang ada. Setelah chek ni, aku bergegas menuju lift untuk langsung ke kamar.
"Mas, aku mau mandi dulu ya..?" pinta Endah.
"Oke silahkan, apa mau aku mandiin," godaku.
"Nggak ah, nakal Mas Dandy nih.." sambil menjawab seperti itu, Endah bergegas menuju kamar mandi, dengan dibalut sehelai handuk, Endah berjalan gontai menuju kamar mandi. Mataku benar-benar tidak bisa berkedip melihat pemandangan tubuh Endah yang benar-benar menggairahkan. Pikiranku melayang saat membayangkan kemolekan tubuhnya.
20 menit berikutnya Endah keluar kamar mandi dengan menggunakan gaun tidur yang tipis, hingga membuat darah sex aku naik ke ubun-ubun. Akan tetapi aku berusaha mengendalikan gejolak nafsuku di depan Endah karena memang di depan dia, aku adalah figur seorang kakak yang baik.
"O ya Endah, kamu mau makan apa sekalian pesannya," tanyaku untuk menutupi gejolak bathinku.
"Terserah Mas deh," jawabnya.
Singkat cerita, waktu sudah menunjukkan pukul 20.15 menit dan tanpa terasa kami sudah bercerita panjang lebar, untuk sekedar melepas kangen. Kita berdua bercengkrama, bercanda cerita tentang apapun, sampai akhirnya..
"En, kamu serius mau lanjutin pelajarannya," tanyaku serius.
"He eh Mas Dandy," jawabnya.
"Endah.." aku tidak meneruskan pertanyaanku karena dengan cepat aku langsung menyerbu bibir Endah yang mungil.
"Mas.." Endah mendesah sambil memeluk badanku erat, tangannya yang bandel mulai meraba daerah sensitifku, sesekali memainkan rambutku. Endah mengelus kudukku sehingga membuat aku terangsang hebat.
Lidah Endah yang nakal, sesekali mengimbangi lidahku yag menjelajah seluruh bibirnya. Jemariku mulai bergerilya untuk melepas pengait BH Endah. Pengait BH nya terlepas,
"Mas.. kamu memang guru yang baik," sambil aku benamkan dalam-dalam wajahku dalam belahan payudaranya yang montok.
Sekitar 15 aku bercumbu dengan Endah, aku semakin penasaran dengan apa yang ada dibalik CD nya. Dengan perlahan aku mulai berusaha membuka CD yang dikenakan oleh Endah dan kegiatan aku semakin mudah karena Endah berusaha mengangkat pantatnya sehingga memudahkan aku untuk mempreteli CD nya. Alamak! bulu yang tumbuh masih halus sekali dan baunya wow.. ranum sekali segar, tanpa berpikir panjang aku segera membuka kedua pahanya dan mengunci dengan lenganku sehingga vagina Endah yang masih merah terpampang jelas didepan mataku. Dengan usapan halus, lidahku yang bandel mulai menjelajahi setiap mm permukaan vagina Endah.
"Oh.. Mas Dandy.. asyik sekali Mas.. ughh," rintih Endah saat lidahku mulai nakal menguak lubang surganya. Tubuh Endah seperti cacing kepanasan menerima setiapa jilatan lidahku, hisapan lidahku dan sesekali mengangkat pantatnya saat lidahku masuk dalam-dalam lubang vaginanya. Sesekali tangannya meremas rambutku yang sedikit gondrong, dan hal itu membuat gairahku semakin naik.
"Mas Dandy.. enak sekali Mas.. oh.. kenapa nggak dulu-dulu Mas," rengek Endah sambil melihat lidahku sedang mengerjai vaginanya. Clitorisnya yang semakin membesar memudahkanku untuk membuat Endah melayang. Ternyata Endah type orang yang mudah orgasme terbukti 15 menit pertama dia mengerang sambil menaik turunkan pantatnya.
"Mas.. Mas Dandy, Endah kebelet pipis Mas.. aduh," rintih Enda.
"Pipis aja sayang di mulut Mas.." jawabku.
"Mas.. aduh.. Endah nggak kuat.." Endah menjerit lirih sambil menggapitkan kedua pahanya di kepalaku. Dengan cekatan aku langsung membuka lebar mulutku dan cairan yang keluar begitu banyak sehingga aku merasakan minum air putih.
"Aduh Mas Dandy.. sudah sayang.. uh.. nikmat sekali Mas, kamu memang pandai dalam bercinta aakhh.." kata Endah. Aku tidak mendengar kan rintihannya, karena aku berkonsentrasi untuk ronde berikutnya karena aku ingin Endah merasakan nikmatnya bercinta dengan aku.
Setelah cairan yang keluar aku berihkan dengan cara aku jilatin, Endah kembali terangsang saat clitorisnya aku gesek dengan batang kemaluanku.
"Wow.. panjang sekali Mas Dandy.. aku suka banget."
Endah mulai menjilati dan mengulum batang kemaluanku, sepertinya dia sangat pandai mengoral cowok.
"Aakhh.. Endah.. kamu pinter tuh," erangku.
Endah tidak menjawab pujianku, dia semakin lahap menelan dan mengulum serta meghisap penisku, aku merem melek setiap penisku masuk dalam mulutnya.
Dasar aku, dengan kecepatan yang tidak diduga, aku langsung meraih selangkangan Endah sehingga posisi kamu menjadi 69. Kita berdua saling membuat rangsangan pada daerah-daerah yang sensitif.
Tidak selang berapa lama,
"Mmm, Mas Dandy.. aku.. pipis lagi.. oh.." Endah menggelepar kedua kalinya menerima serangan lidahku dan aku tidak tinggal diam, segera aku membalikan tubuh Endah dihadapanku dan,
"Endah kamu masih virgin?" tanyaku.
"Mungkin sudah tidak Mas,?" jawab Endah.
Aku sedikit kaget sembari bertanya, "Siapa yang lakukan pertama?"
"Aku pernah jatuh Mas, terus ngeluarin darah."
Sambil membisikna kata mesra, aku berusaha mencari lubang untuk adik kecilku yang sudah mulai menegang 7 kali lipat dari biasanya. Dengan bantuan sisa cairan yang masih ada di sekitar vagina Endah, penisku mulai mencari lubangnya dan bless.
"Mas Dandy.. enak sekali sayang."
Endah membantu mempermudah aku untuk memasukan penisku, sambil mendekap tubuhku, dia mulai memutar pinggulnya, sehingga penisku terasa ada yang memijit.
"Ooh.. Mas Dandy, kenapa tidak dari dulu kau berikan kenikmatan ini padaku.." Endah berkelenjotan menerima sodokan penisku.
"Crek crekk crek" penisku keluar masuk dalam lubang vaginanya yang sudah mulai becek dan basah kuyup.
"Mas.. Endah, pipis lagi.. ahh.." Endah menjerit panjang saat orgasme yang ketiga diraihnya.
Aku sudah tidak mempedulikan keadaan dia yang masih lemas setelah 3 kali orgasme, aku langsung membalik tubuh Endah sehingga posisi Endah sekarang seperti doggi style. Dengan leluasa aku bisa mengentot Endah dari belakang dengan keringat bercucuran.
"Mas.. kamu memang jago.. ooh.. uughh.." Endah merintih saat penisku masuk semua sampai pangkal batang kemaluanku. Tangannya yang halus hanya bisa mencengkeran seprei hotel saat menahan kenikmatan yang aku berikan. Pikiranku hanya satu, aku harus bisa memberikan kepuasan yang abadi untuk Endah, sehingga kalau dia butuh lagi pasti mencariku.
45 menit sudah pergumulan ini terjadi, entah berapa kali sudah Endah orgasme. Sampai akhirnya aku sendiri sudah merasakan klimaks sudah di ubun-ubun.
"Endah.. Mas mau keluar nih..," rintihku.
"Iya Mas, jangan dikeluarin didalam ya Mas..," pinta Endah.
"Iyaa.. sayang.. duh, tubuh kamu benar-benar montok sayang.. uughh."
Aku merintih saat dia mulai meggoyang untuk ke sekian kalinya, gila gadis muda yang dulu aku kenal masih lugu, sekarang sudah menjadi pasanganku untuk bercinta.
"Endah.. ohh Mas keluar..," secepat kilat aku mencabut penisku dan mengarahkan ke mulut Endah.
"Aowww.." spermaku muncrat diwajah Endah. Endah menjilati penisku dengn lahap sampai tidak tesisa sedikitpun spermaku yang keluar.
"Mas, kamu memang guru jempolan.. aku sudah 9 kali orgasme, Mas Dandy baru sekali.. kamu hebat Mas," cerita Endah.
"Kamu suka sayang," tanyaku.
"Suka banget, kamu maukan selalu berikan kenikmatan itu untukku?" balas Endah bertanya.
"Iya sayang, aku janji memberikan kenikmatan itu."
Endah memelukku dan membimbing aku untuk ke kamar mandi, dan dalam kamar mandipun aku juga melakukan lagi sampai pukul 3 dini hari. Sangat romantis bercinta dengan mantan anak ibu kost, karena dia juga baru pertama ini mengalami orgasme yang luar biasa dan sampai sekarang aku masih kontak-kontak sama dia, tepatnya saat dia butuh, aku segera atur jadwalku.
TAMAT
Akhirnya aku dapatkan tempat kost yang aku inginkan, perlu pembaca ketahui, nenek kostku mempunyai cucu perempuan yang saat itu masih berada dibawah bangku SMP, sebut saja namanya Endah. Endah adalah sosok yang mengasyikkan jika dilihat, walaupun dia masih dibangku SMP, Endah mempunyai bentuk tubuh yang montok dan setelah aku banding-bandingkan, Endah mirip dengan seorang selebitris di Indonesia yang masih single sampai sekarang. Oya, sebelumnya namaku Dandy, 30 tahun seorang karyawan di salah satu perusahaan di Surabaya.
Singkat cerita, tanpa terasa 2 tahun sudah aku menjalani masa kostku dan karena aku termasuk orang yang supel, aku cepat beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Dan karakter aku itu membuat Endah yang semakin hari semakin ranum dan sexy, tergila-gila dengan aku. Sampai suatu hari aku beranikan diri untuk mencium bibirnya, diluar dugaanku Endah membalas dengan buasnya. Sampai akhirnya aktivitas itu menjadi kegiatan rutin antara aku dengan Endah, sepulang kantor atau memanfaatkan waktu-waktu sepi di kost-kostan. Setiap melakukan hal itu, tanganku yang bandel juga tidak lupa menyelinap di balik CD nya dan sedikit menggesek-gesekan jari telunjukku di ujung clitorisnya. Dan walaupun aku hanya menggesekkan adik kecilku tetapi setiap aktivitas itu, aku selalu mencapai klimaks. 4 tahun ternyata waktu yang sedikit untuk menikmati hal itu. Sampai akhirnya aku harus keluar dari kost-kostan dan Endah harus kuliah di kota dingin Malang.
Setelah sekian tahun lamanya aku tidak mendengar kabar tentang Endah, di tahun 2001 aku iseng-iseng call Endah di rumahnya dan walhasil dari obrolan pertama di telepon tersebut, aku dapatkan nomor phone dia di Malang dan juga dia memberikan nomor HP. Akhirnya kita berdua sering kontak via telephone, walaupun aku sudah berstatus nggak bujang lagi, tetapi dia tetap saja bilang kalau masih sayang sama aku. Sampai akhirnya kita janjian untuk ketemu saat dia week end, karena setiap hari itu Endah selalu rajin pulang ke Surabaya.
Pucuk ditunggu ulam pun tiba, dengan perasaan deg-degan akhirnya aku bertemu dengan sosok Endah yang dulu masih lugu dan centil, sekarang tumbuh menjadi gadis yang sexy, sintal dengan ukuran bra 34. Waw, semakin aku menelan ludah setiap melihat tubuhnya yang sexy.
"Mas Dandy, gimana khabarnya," tanya Endah merusak pikiranku yang jorok.
"Ee.. baik, bagaimana dengan kamu?" jawabku gugup.
Kita berdua bercerita panjang lebar setelah sekaian lama nggak ketemu, Sampai akhirnya aku harus antar dia balik ke rumahnya di sUrabaya.
"En, kamu sudah punya pacar..?" tanyaku.
"Lagi blank nih Mas.. " jawab Endha tangkas
"O yah, kamu masih inget nggak saat aku ajarin kamu berciuman dulu?" godaku.
"Ihh, Mas Dandy emang bandel kok," sambil mencubit lenganku.
"Aow..," aku meringis kesakitan.
"Kamu mau nggak kalau aku terusin pelajarannya," tanyaku sekali lagi.
"Mau aja asal Mas yang ajarin," jawaban Endah membuat aku merinding.
Setelah kita bercanda dan bercerita panjang lebar, akhirnya aku menawarkan diri untuk ketemu minggu depannya lagi.
"Endah, minggu depan ketemu lagi yuk," ajakku.
"Boleh deh Mas..," jawab Endah dengan ceria.
"Tapi nginep ya di hotel?" godaku.
"Lho ngapain?" Endah balas bertanya.
"Katanya mau lanjutin pelajarannya.." aku mencoba memancing .
"Nakaall Mas Dandy.. nih."
Tanpa terasa akhirnya Endah harus turun di dekat rumahnya.
"Ma kasih ya Mas, sampai ketemu minggu depan," sambil pamit Endah mengecup pipiku. Alamak, darah mudaku bergejolak menerima sentuhan bibirnya yang mungil. Aku perhatikan lenggak-lenggok pinggulnya meninggalkan mobil starletku, sembari aku membayangkan seandainya aku bisa menikmati tubuh kamu Endah, duh betapa bahagainya diriku.
Satu minggu tanpa terasa aku lewatin, sampailah aku ketemu dengan Endah. Kali ini aku sudah booking hotel berbintang di pinggiran kota untuk satu malam. Tepat pukul 16.30, sepulang kantor aku bergegas mengemasi pekerjaan aku dan meluncur di tempat yang sudah kita sepakati bersama.
Bulu kudukku merinding saat dia memasuki mobilku, parfumnya yang harum sontak menggugah saraf kelaki-lakianku.
Tanpa pikir panjang, aku segera meluncur menuju hotel yang sudah aku booking sehari sebelumnya. Jujur saja, buat Endah ini adalah hal yang pertama masuk di hotel, sehingga dia sedikit kaku untuk lingkungan yang ada. Setelah chek ni, aku bergegas menuju lift untuk langsung ke kamar.
"Mas, aku mau mandi dulu ya..?" pinta Endah.
"Oke silahkan, apa mau aku mandiin," godaku.
"Nggak ah, nakal Mas Dandy nih.." sambil menjawab seperti itu, Endah bergegas menuju kamar mandi, dengan dibalut sehelai handuk, Endah berjalan gontai menuju kamar mandi. Mataku benar-benar tidak bisa berkedip melihat pemandangan tubuh Endah yang benar-benar menggairahkan. Pikiranku melayang saat membayangkan kemolekan tubuhnya.
20 menit berikutnya Endah keluar kamar mandi dengan menggunakan gaun tidur yang tipis, hingga membuat darah sex aku naik ke ubun-ubun. Akan tetapi aku berusaha mengendalikan gejolak nafsuku di depan Endah karena memang di depan dia, aku adalah figur seorang kakak yang baik.
"O ya Endah, kamu mau makan apa sekalian pesannya," tanyaku untuk menutupi gejolak bathinku.
"Terserah Mas deh," jawabnya.
Singkat cerita, waktu sudah menunjukkan pukul 20.15 menit dan tanpa terasa kami sudah bercerita panjang lebar, untuk sekedar melepas kangen. Kita berdua bercengkrama, bercanda cerita tentang apapun, sampai akhirnya..
"En, kamu serius mau lanjutin pelajarannya," tanyaku serius.
"He eh Mas Dandy," jawabnya.
"Endah.." aku tidak meneruskan pertanyaanku karena dengan cepat aku langsung menyerbu bibir Endah yang mungil.
"Mas.." Endah mendesah sambil memeluk badanku erat, tangannya yang bandel mulai meraba daerah sensitifku, sesekali memainkan rambutku. Endah mengelus kudukku sehingga membuat aku terangsang hebat.
Lidah Endah yang nakal, sesekali mengimbangi lidahku yag menjelajah seluruh bibirnya. Jemariku mulai bergerilya untuk melepas pengait BH Endah. Pengait BH nya terlepas,
"Mas.. kamu memang guru yang baik," sambil aku benamkan dalam-dalam wajahku dalam belahan payudaranya yang montok.
Sekitar 15 aku bercumbu dengan Endah, aku semakin penasaran dengan apa yang ada dibalik CD nya. Dengan perlahan aku mulai berusaha membuka CD yang dikenakan oleh Endah dan kegiatan aku semakin mudah karena Endah berusaha mengangkat pantatnya sehingga memudahkan aku untuk mempreteli CD nya. Alamak! bulu yang tumbuh masih halus sekali dan baunya wow.. ranum sekali segar, tanpa berpikir panjang aku segera membuka kedua pahanya dan mengunci dengan lenganku sehingga vagina Endah yang masih merah terpampang jelas didepan mataku. Dengan usapan halus, lidahku yang bandel mulai menjelajahi setiap mm permukaan vagina Endah.
"Oh.. Mas Dandy.. asyik sekali Mas.. ughh," rintih Endah saat lidahku mulai nakal menguak lubang surganya. Tubuh Endah seperti cacing kepanasan menerima setiapa jilatan lidahku, hisapan lidahku dan sesekali mengangkat pantatnya saat lidahku masuk dalam-dalam lubang vaginanya. Sesekali tangannya meremas rambutku yang sedikit gondrong, dan hal itu membuat gairahku semakin naik.
"Mas Dandy.. enak sekali Mas.. oh.. kenapa nggak dulu-dulu Mas," rengek Endah sambil melihat lidahku sedang mengerjai vaginanya. Clitorisnya yang semakin membesar memudahkanku untuk membuat Endah melayang. Ternyata Endah type orang yang mudah orgasme terbukti 15 menit pertama dia mengerang sambil menaik turunkan pantatnya.
"Mas.. Mas Dandy, Endah kebelet pipis Mas.. aduh," rintih Enda.
"Pipis aja sayang di mulut Mas.." jawabku.
"Mas.. aduh.. Endah nggak kuat.." Endah menjerit lirih sambil menggapitkan kedua pahanya di kepalaku. Dengan cekatan aku langsung membuka lebar mulutku dan cairan yang keluar begitu banyak sehingga aku merasakan minum air putih.
"Aduh Mas Dandy.. sudah sayang.. uh.. nikmat sekali Mas, kamu memang pandai dalam bercinta aakhh.." kata Endah. Aku tidak mendengar kan rintihannya, karena aku berkonsentrasi untuk ronde berikutnya karena aku ingin Endah merasakan nikmatnya bercinta dengan aku.
Setelah cairan yang keluar aku berihkan dengan cara aku jilatin, Endah kembali terangsang saat clitorisnya aku gesek dengan batang kemaluanku.
"Wow.. panjang sekali Mas Dandy.. aku suka banget."
Endah mulai menjilati dan mengulum batang kemaluanku, sepertinya dia sangat pandai mengoral cowok.
"Aakhh.. Endah.. kamu pinter tuh," erangku.
Endah tidak menjawab pujianku, dia semakin lahap menelan dan mengulum serta meghisap penisku, aku merem melek setiap penisku masuk dalam mulutnya.
Dasar aku, dengan kecepatan yang tidak diduga, aku langsung meraih selangkangan Endah sehingga posisi kamu menjadi 69. Kita berdua saling membuat rangsangan pada daerah-daerah yang sensitif.
Tidak selang berapa lama,
"Mmm, Mas Dandy.. aku.. pipis lagi.. oh.." Endah menggelepar kedua kalinya menerima serangan lidahku dan aku tidak tinggal diam, segera aku membalikan tubuh Endah dihadapanku dan,
"Endah kamu masih virgin?" tanyaku.
"Mungkin sudah tidak Mas,?" jawab Endah.
Aku sedikit kaget sembari bertanya, "Siapa yang lakukan pertama?"
"Aku pernah jatuh Mas, terus ngeluarin darah."
Sambil membisikna kata mesra, aku berusaha mencari lubang untuk adik kecilku yang sudah mulai menegang 7 kali lipat dari biasanya. Dengan bantuan sisa cairan yang masih ada di sekitar vagina Endah, penisku mulai mencari lubangnya dan bless.
"Mas Dandy.. enak sekali sayang."
Endah membantu mempermudah aku untuk memasukan penisku, sambil mendekap tubuhku, dia mulai memutar pinggulnya, sehingga penisku terasa ada yang memijit.
"Ooh.. Mas Dandy, kenapa tidak dari dulu kau berikan kenikmatan ini padaku.." Endah berkelenjotan menerima sodokan penisku.
"Crek crekk crek" penisku keluar masuk dalam lubang vaginanya yang sudah mulai becek dan basah kuyup.
"Mas.. Endah, pipis lagi.. ahh.." Endah menjerit panjang saat orgasme yang ketiga diraihnya.
Aku sudah tidak mempedulikan keadaan dia yang masih lemas setelah 3 kali orgasme, aku langsung membalik tubuh Endah sehingga posisi Endah sekarang seperti doggi style. Dengan leluasa aku bisa mengentot Endah dari belakang dengan keringat bercucuran.
"Mas.. kamu memang jago.. ooh.. uughh.." Endah merintih saat penisku masuk semua sampai pangkal batang kemaluanku. Tangannya yang halus hanya bisa mencengkeran seprei hotel saat menahan kenikmatan yang aku berikan. Pikiranku hanya satu, aku harus bisa memberikan kepuasan yang abadi untuk Endah, sehingga kalau dia butuh lagi pasti mencariku.
45 menit sudah pergumulan ini terjadi, entah berapa kali sudah Endah orgasme. Sampai akhirnya aku sendiri sudah merasakan klimaks sudah di ubun-ubun.
"Endah.. Mas mau keluar nih..," rintihku.
"Iya Mas, jangan dikeluarin didalam ya Mas..," pinta Endah.
"Iyaa.. sayang.. duh, tubuh kamu benar-benar montok sayang.. uughh."
Aku merintih saat dia mulai meggoyang untuk ke sekian kalinya, gila gadis muda yang dulu aku kenal masih lugu, sekarang sudah menjadi pasanganku untuk bercinta.
"Endah.. ohh Mas keluar..," secepat kilat aku mencabut penisku dan mengarahkan ke mulut Endah.
"Aowww.." spermaku muncrat diwajah Endah. Endah menjilati penisku dengn lahap sampai tidak tesisa sedikitpun spermaku yang keluar.
"Mas, kamu memang guru jempolan.. aku sudah 9 kali orgasme, Mas Dandy baru sekali.. kamu hebat Mas," cerita Endah.
"Kamu suka sayang," tanyaku.
"Suka banget, kamu maukan selalu berikan kenikmatan itu untukku?" balas Endah bertanya.
"Iya sayang, aku janji memberikan kenikmatan itu."
Endah memelukku dan membimbing aku untuk ke kamar mandi, dan dalam kamar mandipun aku juga melakukan lagi sampai pukul 3 dini hari. Sangat romantis bercinta dengan mantan anak ibu kost, karena dia juga baru pertama ini mengalami orgasme yang luar biasa dan sampai sekarang aku masih kontak-kontak sama dia, tepatnya saat dia butuh, aku segera atur jadwalku.
TAMAT
Liah Anak Penjual Papan
Sewaktu aku masih duduk di SMTP di Kota Kecamatanku, selain bertugas mengurus kerbau sehari-hari, aku juga seringkali membantu orangtua dalam menanggulangi keperluan hidup keluarga, seperti bertani, berkebun dan ikut dagang. Bertani dan berkebun sudah menjadi pekerjaan pokok bagi kami sekeluarga, namun berdagang merupakan pekerjaan tambahan yang aku coba geluti saat kecilku yakni ikut-ikut sama Om dan sepupuku yang kebetulan mereka berprofesi selaku pedagang papan.
*****
Waktu itu, aku bersama Om dan sepupuku setiap hari Sabtu Pagi berangkat menunggangi kuda menuju suatu daerah pegunungan pada salah satu daerah kecamatan yang bertetangga dengan wilayah kecamatanku. Kami rata-rata harus menempuh perjalanan sehari penuh baru tiba di daerah pegunungan tersebut untuk membeli papan lalu kami jual kembali ke kampungku dan ke kampung-kampung lain yang membutuhkannya. Karena jarak antara kampung kami dengan tempat produksi papan itu cukup jauh, maka tidak heran jika setiap kami berangkat mesti bermalam di daerah tersebut. Tapi karena sudah menjadi langganan kami sejak lama, maka kami bersama rombongan cukup akrab dengan para penjual papan, termasuk keluarganya.
Suatu hari, tepatnya Minggu pagi, seperti biasanya, kami berangkat ke hutan lewat beberapa gunung bersama penjual papan guna memilih dan memikul papan-papan yang hendak kami bawa pulang dan mengumpulkannya di pinggir jalan yang memudahkan bagi kuda mengangkutnya. Namun, tiba-tiba aku merasa malas jalan menelusuri bukit dan hutan. Apalagi di daerah itu hawanya sangat dingin sampai-sampai aku jarang mandi di daerah itu, karena hampiar seharian penuh terasa dingin. Aku cari alasan agar aku bisa diizinkan pulang ke rumah.
"Anis, kenapa kamu berhenti" tanya Omku ketika aku mendadak jongkok sambil memijit perut.
"Aduh, sakit sekali Om, aahh, perutku terasa tertusuk jarum," alasanku sambil mengurut-urut perutku.
Untung Om dan sepupuku tidak terlalu memeriksa kondisi perutku, sehingga mereka tidak terlalu curiga jika sikapku itu hanya alasan semata agar aku tidak dipaksa memikul papan.
"Kalau begitu, biar kamu diantar saja sepupumu pulang ke rumah, nanti ia menyusul. Lagi pula khan ada Liah yang menemanimu di rumah," kata penjual papan itu dan menyinggung nama anak satu-satunya perempuan yang tinggal jaga rumah sambil masak.
"Tak usah diantar pulang, biar aku sendiri ke rumah, khan masih dekat" kataku menolak diantar karena memang sakit perutku hanya alasan.
Sesampainya aku di rumah penjual papan itu, aku langsung ke tempat tidur yang memang selalu kami tempati tidur bersama rombongan. Setelah Liah keluar, nampaknya ia sedikit kaget melihatku berbaring dalam keadaan terbungkus sarung di seluruh tubuhku dari ujung kaki hingga ujung kepala karena cuacanya masih sangat dingin.
"Kok tidak ikut ke lokasi ambil papan kak?" tanya Liah padaku penuh kehati-hatian sambil mendekatiku.
"Ak.. aku sakit peruut dik.. Jadi aku disuruh pulang istirahat" jawabku dengan suara seperti layaknya orang sakit.
"Sakit sekali kak, perlu obat..?" tanya Liah seolah menghawatirkanku.
"Iyah.., apa ada minyak sumbawanya dik?" jawabku lagi.
"Ada kak, tapi bagus jika pakai minyak Etin, kebetulan Mamaku jika sakit perut, ia biasa meminum minyak Etin, lalu menggosokkan sedikit ke bagian perutnya yang sakit," kata Liah serius.
Ia nampak berlari masuk ke kamar orangtuanya yang terletak di bagian dalam rumah itu. Tak lama kemudian, LiaHPun muncul di samping tempat tidurku sambil berdiri memegang sebotol minyak Etin dengan segelas air putih, lalu menjulurkan padaku.
"Ini Kak minyak Etinnya. Silahkan diminum sedikit, lalu sapukan juga sebagian ke bagian perutmu yang sakit," katanya dengan suara lembut.
"Terima kasih dik, kamu baik sekali padaku. Untung saja kamu ada di rumah, jika tidak, tentu aku kesulitan cari obat," kataku merayunya.
"Mamamu kemana dik? Kok tidak kelihatan," tanyaku pura-pura meskipun sejak subuh tadi aku lihat Mamanya Liah berangkat ke pasar dengan jalan kaki bersama tetangganya sambil menjunjung gula merah untuk dijualnya.
"Ia ke pasar sejak tadi subuh kak. Maklum pasarnya agak jauh dari sini, sehingga ia terpaksa cepat-cepat berangkatnya untuk jualan gula merah".
Kami memang sempat terlibat dalam perbincangan setelah aku meminum dan menggosokkan ke perutku obat yang diberikannya itu. Liah adalah gadis yang kuyakini masih perawan desa karena jarang bergaul di luar rumah, bahkan belum pernah kulihat jalan sama lelaki. Tubuhnya agak langsing, warna kulitnya putih bersih dan mulus karena jarang kena sinar matahari apalagi cuacanya sangat dingin, sehingga keadaan gadisnya mungkin tak jauh beda dengan gadis-gadis Bandung yang konon umumnya cantik-cantik. Liah masih terus berdiri di samping tempat tidurku itu sambil menjawab seluruh pertanyaan basa basiku. Kadang kami bertatapan muka sambil melempar senyum. Kami sering saling memandangi tubuh masing-masing.
Sedikit demi sedikit jantungku mulai berdebar pertanda ada sesuatu yang muncul dan tidak biasa terpikir. Entah apa hal seperti itu juga dialami Liah, tapi aku mulai merasakannya dan memikirkannya. aku diam sejenak memikirkan alasan apa lagi yang harus kutunjukkan sehingga jantungku bisa tenang dan tanda tanya hatiku bisa terjawab.
"Aduh.. Aahh.. Iihh.. Kambuh lagi sakit perutku Liah, tolong aku dik.." sikapku pura-pura kesakitan agar Liah mau menyentuh tubuhku, karena aku mulai merasakan ada gejolak birahi atau cinta dari lubuk hatiku.
"Ada apa kak, apanya yang sakit," tanya Liah seolah bingung melihatku. Ia seolah jalan di tempat antara mau maju mendekatiku dengan mau lari cari bantuan orang lain atau mungkin cari obat yang lain. Entah apa..
"Toolongngng Dik Liah.. Bantu aakuu.. Ssaakiit sekalii.." teriakku sedikit teriak seolah kesakitan.
"Mau dibantu bagaimana kak? Aku harus berbuat apa kak..?" tanya Liah kebingungan dan ingin sekali menolongku tapi ia nampaknya ragu juga menyentuh tubuhku, apalagi memegangi perutku yang sedikit terbuka.
"Tolong disapukan ini ke perutku Liah. aku sakit sekali," jeritku sedikit tertahan sambil menyerahkan minyak Etin itu ke Liah.
LiaHPun meraih dengan cepatnya, lalu tanpa pikir dan ragu lagi, ia langsung menyentuh perutku yang masih terbungkus sarung, sehingga sarungku jadi basah akibat minyak Etin. Mungkin ia tidak sadar kalau perutku dilapisi kain sarung atau takut menyentuh langsung karena tidak biasa. Tangan kananku langsung memegang tangan kanannya lalu tangan kiriku menyingkap sarungku ke atas hingga ke dadaku. Terbukalah sedikit perutku, namun Liah nampak malu memandanginya, tapi aku menuntun tangannya yang sudah diolesi minyak Etin ke perutku. Terasa agak gemetar menyentuh kulit perutku, tapi ia tidak menolak merabanya, malah sedikit mulai bergerak menyapukan tangannya itu. Liah tetap saja menoleh ke arah lain, tapi lagi-lagi aku minta agar ia menumpahkan semua minyak Etin itu ke atas perutku. Akhirnya ia terpaksa melihatnya dan mulai menggosoknya.
Sungguh hangat, lembut dan nikmat sekali sentuhan telapak tangan Liah di perutku. Meskipun agak malu-malu, tapi ia tetap menolongku dengan menggosok-gosok terus perutku, lalu aku berkata pelan sekali.
"Liah, kamu tidak keberatan khan bila kamu terpaksa menyentuh kulitku?"
"Ti.. Tidak kak, sebab Kak khan sakit. Lagi pula aku hanya menolong kak"
"Jadi kamu tidak jijik dan tidak takut padaku Liah?" tanyaku singkat
"Kenapa jijik dan takut kak. Kita khan sudah seperti keluarga. Lagi pula siapa lagi yang mau menolong Kak kalau bukan saya" jawabnya seolah lebih berani dan sudah tidak malu serta tidak gemetar lagi.
"Aku betul-betul beruntung hari ini. aku ditemani oleh seorang gadis cantik yang setia menolongku di kala sakit. Mungkin inilah hikmah dari sakit perutku," ocehanku merayu Liah yang sedang memegangi terus perutku walaupun tak ada rasa sakit sedikitpun, melainkan hanya rasa rindu, nafsu birahi dan kenikmatan semata yang kurasakan.
"Ih.. Kak Anis.. Gombal ni yeah.." ucapnya sambil memutar sedikit perutku seolah ia mencubitnya.
"Sudah berhenti rasa sakitnya kak?" tanya Liah sambil menarik tangannya
"Masih sedikit sakit dik.. Jangan dihentikan dulu yach.. Nanti tambah sakit lagi. Biar lama-lama kunikmati sentuhan tanganmu yang lembut ini. Lagi pula khan Mama dan papamu masih lama pulangnya" kataku sambil meminta agar Liah tetap menempelkan tangan mulusnya di perutku.
"Yah deh, jika memang itu maumu. Tapi jangan macam-macam yach?" katanya
"Ok deh, aku akan mendengar permintaanmu" jawabku singkat, namun aku mencoba menempelkan kedua tanganku di atas tangannya yang sedang mengelus perutku. LiaHPun nampaknya ikut menikmati sedikit sentuhanku.
Karena aku semakin penasaran ingin menyentuh lebih banyak tubuh Liah akibat mulai terangsang dibuatnya, maka kucoba sedikit memiringkan tubuhku ke arah Liah yang sedang duduk di tepi tempat tidurku dengan kaki terjulur ke luar, sehingga penisku yang sejak tadi bergerak-gerak dari dalam celanaku dan mulai membesar mengacung ke atas sedikit menyentuh pinggul Liah. LiaHPun nampaknya tidak bergerak, malah sedikit termenung tunduk. Aku coba lebih rapatkan lagi selangkanganku ke pinggulnya, tapi ia tetap diam. Kali ini aku coba angkat tanganku hingga bertengger di atas kedua paha Liah yang terbungkus sarung, namun Liah mengangkatnya kebelakang, sehingga aku hanya bisa merapatkan ke punggungnya. Libidoku terasa semakin naik dan sulit kukendalikan, maka aku pura-pura lupa atas janjiku untuk tidak macam-macam. aku lingkarkan tanganku ke pinggangnya lalu kurangkul erat-erat, sehingga Liah terlihat menggigit bibirnya sambil menunduk tanpa bersuara. Mungkin ia juga terangsang dan menikmatinya.
Akhirnya aku beranikan diri meningkatkan reaksiku dengan meraih tangan kanan Liah lalu membawanya ke selengkanganku yang masih terbungkus sarung dan celana. Tangan LiaHPun terasa lemas dan menuruti saja. Tak lama tangan Liah tergeletak lemas di atas selangkanganku yang berisi tonjolan keras dan sedikit berdenyut itu, aku lalu menyingkap sedikit sarungku ke atas dan membawa tangan Liah masuk ke selangkanganku lewat bagian atas celanaku sehingga tangannya yang hangat bersentuhan langsung dengan penisku yang keras dan mulai basah ujungnya. Tangan Liah yang tadinya lemas kini mulai bertenaga juga dan bergerak menelusuri celah-celah celanaku hingga ia menggenggam penisku. Malah tanpa kutuntun dan kuajak lagi, tangannya mulai sedikit menggocok kemaluanku sehingga aku semakin panas dan ingin segera membuka seluruh penghalangnya.
"Dik Liah, maaf Dik yach jika terpaksa aku mengabaikan janjiku tadi. aku sama sekali tidak mampu lagi menahan cinta dan rasa rinduku padamu sayang. Semoga kamu juga bisa bahagia dan menikmatinya," bisikku.
"Terserah kak, asal kamu mau tanggung jawab nantinya," katanya singkat.
Tanpa kujawab lagi perkataannya itu, aku langsung menurunkan celanaku hingga terbuka semuanya, lalu kutarik tubuh Liah agar masuk ke arahku lebih rapat. Iapun nampaknya pasrah tanpa komentar, malah membaringkan mukanya ke perutku, ke bahuku dan ke wajahku. aku baringkan ia di atas kasur dengan terlentang, lalu kukecup seluruh tubuhnya mulai dari dahi, pipi, dagu, leher dan berhenti di mulut serta bibirnya. Iapun menyambut kecupanku itu dengan sedikit membuka mulutnya seolah memberi kesempatan padaku untuk memasukkan lidahku ke dalam rongga mulutnya. Cukup lama aku bermain lidah hingga tanganku bergerak menelusuri daster yang dikenakan Liah. Tangankupun menemukan dua benda kenyal, hangat, mungil, agak keras serta mulus yang terasa ujungnya mengeras.
"Buka pakaiannya yach sayang.." pintaku berbisik di telinganya.
Namun Liah tidak bergerak sedikitpun. Tapi aku tetap beranikan diri membuka sendiri pakainnya dengan mengangkatnya ke atas hingga terbuka lewat kepalanya. Terlihatlah perutnya yang rata, putuh dan mulus, meski masih terbungkus bagian bawahnya dengan sarung. Sedang bagian atasnya sisa selembar kain yang kecil melingkar di dadanya dengan warna putih sehingga kedua benda yang kupegang tadi belum kelihatan dengan jelas. Namun itu tak bertahan lama karena aku segera melepaskannya dengan mudah, lalu aku leluasa menjilatinya, mengisap-isap putingnya dan meremas-remasnya. Akibatnya LiaHPun bergerak-gerak seiring dengan gerakan tangan dan mulutku secara bergantian. Bahkan kali ini ia tak sadar sehingga mengangkat pinggulnya yang masih terbungkus sarung dan menyentuh benda yang ada di selangkanganku yang tak terlapisi kain sedikitpun. Liah menggelinjang bagaikan cacing ketika aku menyapu perut dan pusarnya dengan lidah. Kakinya terangkat sehingga dengan sendirinya sarungnya tersingkap ke atas yang memperlihatkan paha mulusnya.
"Boleh saya buka sarungnya sayang?" tanyaku berbisik, namun lagi-lagi ia tak bersuara kecuali sedikit mengangguk.
Akupun segera menurunkannya dengan ujung kakiku hingga terlepas. Tinggallah celana colornya yang berwarna hitam. Tapi itupun tak lama, sebab aku susul dengan jepitan ujung kaki lalu menurunkannya hingga terlepas semuanya. Kamipun sudah telanjang bulat. Suasana dingin di rumah itu semakin hilang seiring dengan meningkatnya permainan kami. Keringat kami mulai bercucuran. Kutingkatkan gerakanku dengan menjilati bagian bawah pusarnya hingga lidahku menyentuh daging yang terbelah dua dengan baunya yang khas, warna kulitnya agak putih, tonjolan yang menancap di antara kedua bibirnya agak kemerahan dan sedikit keras lagi indah. Kuputar-putar lidahku dan kugocok-gocokkan ke luar masuk pada benda mungil nan indah itu, sehingga Liah terengah-engah dengan nafas terputus-putus, bahkan sedikit bergelinjang keenakan.
"Kak, cepat masukin dong, aku sudah nggak tahan nih.. Aahh.. Uuhh.." pinta Liah tiba-tiba, sehingga aku semakin mempercepat permainanku.
Kali ini kurenggangkan kedua pahanya sehingga terlihat dengan jelas benda khusus dan sasaran utama bagi setiap laki-laki itu. Namun karena Liah masih mudah, sehingga wajar jika belum terlihat jelas bulu-bulu yang tumbuh di atasnya. Tapi aku senang karena terasa lembut, jelas dan mudah dijamah. aku merasakan ada cairan hangat yang mulai mengalir dari dalam perutku dan lubang yang sedikit menganga di bawah hidungku juga nampaknya sudah tidak sabaran menunggu hantaman penisku yang dari tadi bergerak mencari pasangan dan lawannya. Lubang kemaluan Liah semakin basah oleh cairan pelicin, sehingga aku segera mengarahkan ujung penisku menancap ke lubang itu. Cukup lama berkenalan di luar pintu dari kedua benda asing itu, seolah mereka bicara dengan mesra.
Tanpa kusadari dan kusengaja, ujung penisku masuh pelan-pelan akibat sambutan pantat Liah yang terangkat tinggi-tinggi sehingga sulit aku hindari pertemuannya. Namun sesampai di leher penisku, terasa agak sulit masuk seolah ada pelapis yang menghalangi. Kami saling berusaha, namun tetap sulit. Dalam hati saya mungkin karena baru kali ini ada benda seperti miliku masuk ke lubang Liah sehingga masih sempit. Setelah aku berjuang keras, membantu dengan kedua tanganku membuka kedua bibir lubang Liah, menggerak-gerakkan ke kiri dan ke kanan yang disambut pula oleh gerakan pinggul Liah yang berputar, bahkan aku letakkan bantal guling mengganjal pinggul Liah, akhirnya masuk juga sedikit demi sedikit meskipun nampaknya Liah kesakitan dan memaksa.
"Auhh.. Aaahh.. Uuuhh.. Mmmhh.. Khh.." suara Liah yang sedikit keras terdengar ketika penisku masuk senti demi senti hingga amblas ditelan oleh vagina Liah yang sempit, mulus dan basah itu.
Setelah amblas, akupun semakin mempercepat gocokannya seiring dengan gerakan pinggul Liah yang nampaknya tidak mau diam. Suara nafas kami yang saling memburuh mewarnai kesunyian di ruangan itu. Baru aku mau coba terapkan posisi yang lain, misalnya tidur telentang dengan Liah mengangkangiku atau Liah nungging lalu aku menusuk vaginanya dari belakang atau kami sama-sama duduk dan lain-lainnya, tapi tiba-tiba sekujur tubuh Liah gemetaran, menarik rambutku, memelukku dengan keras dan menggigitku sedikit, lalu seolah menjepit kemaluanku dengan keras sehingga terasa berdenyut-denyut, yang akhirnya Liah lemas lunglai dan matanya tertutup tanmpa sedikitpun bergerak.
Maka terpaksa aku urungkan niatku, apalagi hampir bersamaan itu pula aku didesak oleh cairan hangat dari dalam yang seolah memaksa mau tumpah, yang akhirnya kuturuti saja tumpah di dalam lubang Liah yang sudah lemas, sehingga kuyakini tumpahnya hanya di bagian luar saja.
Belum mataku tertidur setelah menyelesaikan tugas dan merasa terobati oleh Liah, tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut di depan rumah. Mak cepat-cepat kubungkus diriku dengan sarung, lalu kubangunkan Liah yang baru saja mulai tertidur. Liah pun segera bangkit mengenakan pakaiannya seperti semula setelah ia melap tubuhnya yang basah dengan kain sarung yang ada di dekatku. Bersamaan dengan keluarnya Liah dari ruangan di mana aku tadi diobati, pintu rumaHPun kedengaran terbuka dan suara maka LiaHPun sangat jelas memanggil Liah untuk membantu mengangkat barang-barang belanja serta sisa jualannya di pasar. Liah terdengar berlari dari dalam setelah kedengaran ada air yang jatuh.
Mungkin Liah baru saja membersihkan vaginanya atau badannya yang kelepotan cairan kental. Namun hingga kami kembali ke daerahku bersama rOmbongan dengan membawa papan dagangan kami, tidak seorangpun yang pernah curiga atas apa yang telah kami peraktekkan bersama Liah sewaktu aku sedang sakit pura-pura.
Saat itulah awal dari perjalanan sexku bersama manusia. Hari-hari berikutnya, kami masih beberapa kali melakukannya dengan suka sama suka baik ketika kami berdua di rumahnya maupun ketika kami jalan-jalan ke gunung dan hutan. Tapi sayangnya, sejak aku melanjutkan pendidikan ke kota Kabupaten, aku belum pernah ketemu lagi, bahkan hingga saat aku memiliki 2 orang anak saat ini, kabarnyapun tak pernah terdengar.
TAMAT
*****
Waktu itu, aku bersama Om dan sepupuku setiap hari Sabtu Pagi berangkat menunggangi kuda menuju suatu daerah pegunungan pada salah satu daerah kecamatan yang bertetangga dengan wilayah kecamatanku. Kami rata-rata harus menempuh perjalanan sehari penuh baru tiba di daerah pegunungan tersebut untuk membeli papan lalu kami jual kembali ke kampungku dan ke kampung-kampung lain yang membutuhkannya. Karena jarak antara kampung kami dengan tempat produksi papan itu cukup jauh, maka tidak heran jika setiap kami berangkat mesti bermalam di daerah tersebut. Tapi karena sudah menjadi langganan kami sejak lama, maka kami bersama rombongan cukup akrab dengan para penjual papan, termasuk keluarganya.
Suatu hari, tepatnya Minggu pagi, seperti biasanya, kami berangkat ke hutan lewat beberapa gunung bersama penjual papan guna memilih dan memikul papan-papan yang hendak kami bawa pulang dan mengumpulkannya di pinggir jalan yang memudahkan bagi kuda mengangkutnya. Namun, tiba-tiba aku merasa malas jalan menelusuri bukit dan hutan. Apalagi di daerah itu hawanya sangat dingin sampai-sampai aku jarang mandi di daerah itu, karena hampiar seharian penuh terasa dingin. Aku cari alasan agar aku bisa diizinkan pulang ke rumah.
"Anis, kenapa kamu berhenti" tanya Omku ketika aku mendadak jongkok sambil memijit perut.
"Aduh, sakit sekali Om, aahh, perutku terasa tertusuk jarum," alasanku sambil mengurut-urut perutku.
Untung Om dan sepupuku tidak terlalu memeriksa kondisi perutku, sehingga mereka tidak terlalu curiga jika sikapku itu hanya alasan semata agar aku tidak dipaksa memikul papan.
"Kalau begitu, biar kamu diantar saja sepupumu pulang ke rumah, nanti ia menyusul. Lagi pula khan ada Liah yang menemanimu di rumah," kata penjual papan itu dan menyinggung nama anak satu-satunya perempuan yang tinggal jaga rumah sambil masak.
"Tak usah diantar pulang, biar aku sendiri ke rumah, khan masih dekat" kataku menolak diantar karena memang sakit perutku hanya alasan.
Sesampainya aku di rumah penjual papan itu, aku langsung ke tempat tidur yang memang selalu kami tempati tidur bersama rombongan. Setelah Liah keluar, nampaknya ia sedikit kaget melihatku berbaring dalam keadaan terbungkus sarung di seluruh tubuhku dari ujung kaki hingga ujung kepala karena cuacanya masih sangat dingin.
"Kok tidak ikut ke lokasi ambil papan kak?" tanya Liah padaku penuh kehati-hatian sambil mendekatiku.
"Ak.. aku sakit peruut dik.. Jadi aku disuruh pulang istirahat" jawabku dengan suara seperti layaknya orang sakit.
"Sakit sekali kak, perlu obat..?" tanya Liah seolah menghawatirkanku.
"Iyah.., apa ada minyak sumbawanya dik?" jawabku lagi.
"Ada kak, tapi bagus jika pakai minyak Etin, kebetulan Mamaku jika sakit perut, ia biasa meminum minyak Etin, lalu menggosokkan sedikit ke bagian perutnya yang sakit," kata Liah serius.
Ia nampak berlari masuk ke kamar orangtuanya yang terletak di bagian dalam rumah itu. Tak lama kemudian, LiaHPun muncul di samping tempat tidurku sambil berdiri memegang sebotol minyak Etin dengan segelas air putih, lalu menjulurkan padaku.
"Ini Kak minyak Etinnya. Silahkan diminum sedikit, lalu sapukan juga sebagian ke bagian perutmu yang sakit," katanya dengan suara lembut.
"Terima kasih dik, kamu baik sekali padaku. Untung saja kamu ada di rumah, jika tidak, tentu aku kesulitan cari obat," kataku merayunya.
"Mamamu kemana dik? Kok tidak kelihatan," tanyaku pura-pura meskipun sejak subuh tadi aku lihat Mamanya Liah berangkat ke pasar dengan jalan kaki bersama tetangganya sambil menjunjung gula merah untuk dijualnya.
"Ia ke pasar sejak tadi subuh kak. Maklum pasarnya agak jauh dari sini, sehingga ia terpaksa cepat-cepat berangkatnya untuk jualan gula merah".
Kami memang sempat terlibat dalam perbincangan setelah aku meminum dan menggosokkan ke perutku obat yang diberikannya itu. Liah adalah gadis yang kuyakini masih perawan desa karena jarang bergaul di luar rumah, bahkan belum pernah kulihat jalan sama lelaki. Tubuhnya agak langsing, warna kulitnya putih bersih dan mulus karena jarang kena sinar matahari apalagi cuacanya sangat dingin, sehingga keadaan gadisnya mungkin tak jauh beda dengan gadis-gadis Bandung yang konon umumnya cantik-cantik. Liah masih terus berdiri di samping tempat tidurku itu sambil menjawab seluruh pertanyaan basa basiku. Kadang kami bertatapan muka sambil melempar senyum. Kami sering saling memandangi tubuh masing-masing.
Sedikit demi sedikit jantungku mulai berdebar pertanda ada sesuatu yang muncul dan tidak biasa terpikir. Entah apa hal seperti itu juga dialami Liah, tapi aku mulai merasakannya dan memikirkannya. aku diam sejenak memikirkan alasan apa lagi yang harus kutunjukkan sehingga jantungku bisa tenang dan tanda tanya hatiku bisa terjawab.
"Aduh.. Aahh.. Iihh.. Kambuh lagi sakit perutku Liah, tolong aku dik.." sikapku pura-pura kesakitan agar Liah mau menyentuh tubuhku, karena aku mulai merasakan ada gejolak birahi atau cinta dari lubuk hatiku.
"Ada apa kak, apanya yang sakit," tanya Liah seolah bingung melihatku. Ia seolah jalan di tempat antara mau maju mendekatiku dengan mau lari cari bantuan orang lain atau mungkin cari obat yang lain. Entah apa..
"Toolongngng Dik Liah.. Bantu aakuu.. Ssaakiit sekalii.." teriakku sedikit teriak seolah kesakitan.
"Mau dibantu bagaimana kak? Aku harus berbuat apa kak..?" tanya Liah kebingungan dan ingin sekali menolongku tapi ia nampaknya ragu juga menyentuh tubuhku, apalagi memegangi perutku yang sedikit terbuka.
"Tolong disapukan ini ke perutku Liah. aku sakit sekali," jeritku sedikit tertahan sambil menyerahkan minyak Etin itu ke Liah.
LiaHPun meraih dengan cepatnya, lalu tanpa pikir dan ragu lagi, ia langsung menyentuh perutku yang masih terbungkus sarung, sehingga sarungku jadi basah akibat minyak Etin. Mungkin ia tidak sadar kalau perutku dilapisi kain sarung atau takut menyentuh langsung karena tidak biasa. Tangan kananku langsung memegang tangan kanannya lalu tangan kiriku menyingkap sarungku ke atas hingga ke dadaku. Terbukalah sedikit perutku, namun Liah nampak malu memandanginya, tapi aku menuntun tangannya yang sudah diolesi minyak Etin ke perutku. Terasa agak gemetar menyentuh kulit perutku, tapi ia tidak menolak merabanya, malah sedikit mulai bergerak menyapukan tangannya itu. Liah tetap saja menoleh ke arah lain, tapi lagi-lagi aku minta agar ia menumpahkan semua minyak Etin itu ke atas perutku. Akhirnya ia terpaksa melihatnya dan mulai menggosoknya.
Sungguh hangat, lembut dan nikmat sekali sentuhan telapak tangan Liah di perutku. Meskipun agak malu-malu, tapi ia tetap menolongku dengan menggosok-gosok terus perutku, lalu aku berkata pelan sekali.
"Liah, kamu tidak keberatan khan bila kamu terpaksa menyentuh kulitku?"
"Ti.. Tidak kak, sebab Kak khan sakit. Lagi pula aku hanya menolong kak"
"Jadi kamu tidak jijik dan tidak takut padaku Liah?" tanyaku singkat
"Kenapa jijik dan takut kak. Kita khan sudah seperti keluarga. Lagi pula siapa lagi yang mau menolong Kak kalau bukan saya" jawabnya seolah lebih berani dan sudah tidak malu serta tidak gemetar lagi.
"Aku betul-betul beruntung hari ini. aku ditemani oleh seorang gadis cantik yang setia menolongku di kala sakit. Mungkin inilah hikmah dari sakit perutku," ocehanku merayu Liah yang sedang memegangi terus perutku walaupun tak ada rasa sakit sedikitpun, melainkan hanya rasa rindu, nafsu birahi dan kenikmatan semata yang kurasakan.
"Ih.. Kak Anis.. Gombal ni yeah.." ucapnya sambil memutar sedikit perutku seolah ia mencubitnya.
"Sudah berhenti rasa sakitnya kak?" tanya Liah sambil menarik tangannya
"Masih sedikit sakit dik.. Jangan dihentikan dulu yach.. Nanti tambah sakit lagi. Biar lama-lama kunikmati sentuhan tanganmu yang lembut ini. Lagi pula khan Mama dan papamu masih lama pulangnya" kataku sambil meminta agar Liah tetap menempelkan tangan mulusnya di perutku.
"Yah deh, jika memang itu maumu. Tapi jangan macam-macam yach?" katanya
"Ok deh, aku akan mendengar permintaanmu" jawabku singkat, namun aku mencoba menempelkan kedua tanganku di atas tangannya yang sedang mengelus perutku. LiaHPun nampaknya ikut menikmati sedikit sentuhanku.
Karena aku semakin penasaran ingin menyentuh lebih banyak tubuh Liah akibat mulai terangsang dibuatnya, maka kucoba sedikit memiringkan tubuhku ke arah Liah yang sedang duduk di tepi tempat tidurku dengan kaki terjulur ke luar, sehingga penisku yang sejak tadi bergerak-gerak dari dalam celanaku dan mulai membesar mengacung ke atas sedikit menyentuh pinggul Liah. LiaHPun nampaknya tidak bergerak, malah sedikit termenung tunduk. Aku coba lebih rapatkan lagi selangkanganku ke pinggulnya, tapi ia tetap diam. Kali ini aku coba angkat tanganku hingga bertengger di atas kedua paha Liah yang terbungkus sarung, namun Liah mengangkatnya kebelakang, sehingga aku hanya bisa merapatkan ke punggungnya. Libidoku terasa semakin naik dan sulit kukendalikan, maka aku pura-pura lupa atas janjiku untuk tidak macam-macam. aku lingkarkan tanganku ke pinggangnya lalu kurangkul erat-erat, sehingga Liah terlihat menggigit bibirnya sambil menunduk tanpa bersuara. Mungkin ia juga terangsang dan menikmatinya.
Akhirnya aku beranikan diri meningkatkan reaksiku dengan meraih tangan kanan Liah lalu membawanya ke selengkanganku yang masih terbungkus sarung dan celana. Tangan LiaHPun terasa lemas dan menuruti saja. Tak lama tangan Liah tergeletak lemas di atas selangkanganku yang berisi tonjolan keras dan sedikit berdenyut itu, aku lalu menyingkap sedikit sarungku ke atas dan membawa tangan Liah masuk ke selangkanganku lewat bagian atas celanaku sehingga tangannya yang hangat bersentuhan langsung dengan penisku yang keras dan mulai basah ujungnya. Tangan Liah yang tadinya lemas kini mulai bertenaga juga dan bergerak menelusuri celah-celah celanaku hingga ia menggenggam penisku. Malah tanpa kutuntun dan kuajak lagi, tangannya mulai sedikit menggocok kemaluanku sehingga aku semakin panas dan ingin segera membuka seluruh penghalangnya.
"Dik Liah, maaf Dik yach jika terpaksa aku mengabaikan janjiku tadi. aku sama sekali tidak mampu lagi menahan cinta dan rasa rinduku padamu sayang. Semoga kamu juga bisa bahagia dan menikmatinya," bisikku.
"Terserah kak, asal kamu mau tanggung jawab nantinya," katanya singkat.
Tanpa kujawab lagi perkataannya itu, aku langsung menurunkan celanaku hingga terbuka semuanya, lalu kutarik tubuh Liah agar masuk ke arahku lebih rapat. Iapun nampaknya pasrah tanpa komentar, malah membaringkan mukanya ke perutku, ke bahuku dan ke wajahku. aku baringkan ia di atas kasur dengan terlentang, lalu kukecup seluruh tubuhnya mulai dari dahi, pipi, dagu, leher dan berhenti di mulut serta bibirnya. Iapun menyambut kecupanku itu dengan sedikit membuka mulutnya seolah memberi kesempatan padaku untuk memasukkan lidahku ke dalam rongga mulutnya. Cukup lama aku bermain lidah hingga tanganku bergerak menelusuri daster yang dikenakan Liah. Tangankupun menemukan dua benda kenyal, hangat, mungil, agak keras serta mulus yang terasa ujungnya mengeras.
"Buka pakaiannya yach sayang.." pintaku berbisik di telinganya.
Namun Liah tidak bergerak sedikitpun. Tapi aku tetap beranikan diri membuka sendiri pakainnya dengan mengangkatnya ke atas hingga terbuka lewat kepalanya. Terlihatlah perutnya yang rata, putuh dan mulus, meski masih terbungkus bagian bawahnya dengan sarung. Sedang bagian atasnya sisa selembar kain yang kecil melingkar di dadanya dengan warna putih sehingga kedua benda yang kupegang tadi belum kelihatan dengan jelas. Namun itu tak bertahan lama karena aku segera melepaskannya dengan mudah, lalu aku leluasa menjilatinya, mengisap-isap putingnya dan meremas-remasnya. Akibatnya LiaHPun bergerak-gerak seiring dengan gerakan tangan dan mulutku secara bergantian. Bahkan kali ini ia tak sadar sehingga mengangkat pinggulnya yang masih terbungkus sarung dan menyentuh benda yang ada di selangkanganku yang tak terlapisi kain sedikitpun. Liah menggelinjang bagaikan cacing ketika aku menyapu perut dan pusarnya dengan lidah. Kakinya terangkat sehingga dengan sendirinya sarungnya tersingkap ke atas yang memperlihatkan paha mulusnya.
"Boleh saya buka sarungnya sayang?" tanyaku berbisik, namun lagi-lagi ia tak bersuara kecuali sedikit mengangguk.
Akupun segera menurunkannya dengan ujung kakiku hingga terlepas. Tinggallah celana colornya yang berwarna hitam. Tapi itupun tak lama, sebab aku susul dengan jepitan ujung kaki lalu menurunkannya hingga terlepas semuanya. Kamipun sudah telanjang bulat. Suasana dingin di rumah itu semakin hilang seiring dengan meningkatnya permainan kami. Keringat kami mulai bercucuran. Kutingkatkan gerakanku dengan menjilati bagian bawah pusarnya hingga lidahku menyentuh daging yang terbelah dua dengan baunya yang khas, warna kulitnya agak putih, tonjolan yang menancap di antara kedua bibirnya agak kemerahan dan sedikit keras lagi indah. Kuputar-putar lidahku dan kugocok-gocokkan ke luar masuk pada benda mungil nan indah itu, sehingga Liah terengah-engah dengan nafas terputus-putus, bahkan sedikit bergelinjang keenakan.
"Kak, cepat masukin dong, aku sudah nggak tahan nih.. Aahh.. Uuhh.." pinta Liah tiba-tiba, sehingga aku semakin mempercepat permainanku.
Kali ini kurenggangkan kedua pahanya sehingga terlihat dengan jelas benda khusus dan sasaran utama bagi setiap laki-laki itu. Namun karena Liah masih mudah, sehingga wajar jika belum terlihat jelas bulu-bulu yang tumbuh di atasnya. Tapi aku senang karena terasa lembut, jelas dan mudah dijamah. aku merasakan ada cairan hangat yang mulai mengalir dari dalam perutku dan lubang yang sedikit menganga di bawah hidungku juga nampaknya sudah tidak sabaran menunggu hantaman penisku yang dari tadi bergerak mencari pasangan dan lawannya. Lubang kemaluan Liah semakin basah oleh cairan pelicin, sehingga aku segera mengarahkan ujung penisku menancap ke lubang itu. Cukup lama berkenalan di luar pintu dari kedua benda asing itu, seolah mereka bicara dengan mesra.
Tanpa kusadari dan kusengaja, ujung penisku masuh pelan-pelan akibat sambutan pantat Liah yang terangkat tinggi-tinggi sehingga sulit aku hindari pertemuannya. Namun sesampai di leher penisku, terasa agak sulit masuk seolah ada pelapis yang menghalangi. Kami saling berusaha, namun tetap sulit. Dalam hati saya mungkin karena baru kali ini ada benda seperti miliku masuk ke lubang Liah sehingga masih sempit. Setelah aku berjuang keras, membantu dengan kedua tanganku membuka kedua bibir lubang Liah, menggerak-gerakkan ke kiri dan ke kanan yang disambut pula oleh gerakan pinggul Liah yang berputar, bahkan aku letakkan bantal guling mengganjal pinggul Liah, akhirnya masuk juga sedikit demi sedikit meskipun nampaknya Liah kesakitan dan memaksa.
"Auhh.. Aaahh.. Uuuhh.. Mmmhh.. Khh.." suara Liah yang sedikit keras terdengar ketika penisku masuk senti demi senti hingga amblas ditelan oleh vagina Liah yang sempit, mulus dan basah itu.
Setelah amblas, akupun semakin mempercepat gocokannya seiring dengan gerakan pinggul Liah yang nampaknya tidak mau diam. Suara nafas kami yang saling memburuh mewarnai kesunyian di ruangan itu. Baru aku mau coba terapkan posisi yang lain, misalnya tidur telentang dengan Liah mengangkangiku atau Liah nungging lalu aku menusuk vaginanya dari belakang atau kami sama-sama duduk dan lain-lainnya, tapi tiba-tiba sekujur tubuh Liah gemetaran, menarik rambutku, memelukku dengan keras dan menggigitku sedikit, lalu seolah menjepit kemaluanku dengan keras sehingga terasa berdenyut-denyut, yang akhirnya Liah lemas lunglai dan matanya tertutup tanmpa sedikitpun bergerak.
Maka terpaksa aku urungkan niatku, apalagi hampir bersamaan itu pula aku didesak oleh cairan hangat dari dalam yang seolah memaksa mau tumpah, yang akhirnya kuturuti saja tumpah di dalam lubang Liah yang sudah lemas, sehingga kuyakini tumpahnya hanya di bagian luar saja.
Belum mataku tertidur setelah menyelesaikan tugas dan merasa terobati oleh Liah, tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut di depan rumah. Mak cepat-cepat kubungkus diriku dengan sarung, lalu kubangunkan Liah yang baru saja mulai tertidur. Liah pun segera bangkit mengenakan pakaiannya seperti semula setelah ia melap tubuhnya yang basah dengan kain sarung yang ada di dekatku. Bersamaan dengan keluarnya Liah dari ruangan di mana aku tadi diobati, pintu rumaHPun kedengaran terbuka dan suara maka LiaHPun sangat jelas memanggil Liah untuk membantu mengangkat barang-barang belanja serta sisa jualannya di pasar. Liah terdengar berlari dari dalam setelah kedengaran ada air yang jatuh.
Mungkin Liah baru saja membersihkan vaginanya atau badannya yang kelepotan cairan kental. Namun hingga kami kembali ke daerahku bersama rOmbongan dengan membawa papan dagangan kami, tidak seorangpun yang pernah curiga atas apa yang telah kami peraktekkan bersama Liah sewaktu aku sedang sakit pura-pura.
Saat itulah awal dari perjalanan sexku bersama manusia. Hari-hari berikutnya, kami masih beberapa kali melakukannya dengan suka sama suka baik ketika kami berdua di rumahnya maupun ketika kami jalan-jalan ke gunung dan hutan. Tapi sayangnya, sejak aku melanjutkan pendidikan ke kota Kabupaten, aku belum pernah ketemu lagi, bahkan hingga saat aku memiliki 2 orang anak saat ini, kabarnyapun tak pernah terdengar.
TAMAT
Thursday, November 13, 2008
Les Privat 01
Fanny Damayanti, adalah seorang gadis dengan wajah cantik, alis matanya melengkung, dan mata indah serta jernih, dilindungi oleh bulu mata lentik, hidung mancung serasi melengkapi kecantikannya, ditambah dengan bibir mungil merah alami yang serasi pula dengan wajahnya. Rambutnya yang hitam dan dipotong pendek menjadikannya lebih menarik, kulitnya putih mulus dan terawat, badannya mulai tumbuh begitu indah dan seksi. Dia tumbuh di kalangan keluarga yang cukup berada dan menyayanginya. Usianya baru 15 tahun, kadang sifatnya masih kekanakan. Badannya tidak terlalu tinggi berkisar 155 cm, badannya ideal dengan tinggi badannya, tidak terlalu gemuk atau terlalu kurus.
Seminggu yang lalu Fanny mulai rutin mengikuti les privat Fisika di rumahku, Renne Lobo, aku seorang duda. Aku mempunyai sebuah rumah mungil dengan dua buah kamar, diantaranya ada sebuah kamar mandi yang bersih dan harum. Kamar depan diperuntukkan ruang kerja dan perpustakaan, buku-buku tersusun rapi di dalam rak dengan warna-warna kayu, sama seperti meja kerja yang di atasnya terletak seperangkat komputer. Sebuah lukisan yang indah tergantung di dinding, lukisan itu semakin tampak indah di latar belakangi oleh warna dinding yang serasi. Ruang tidurnya dihiasi ornamen yang serasi pula, dengan tempat tidur besar dan pencahayaan lampu yang membuat suasana semakin romantis. Ruang tamu ditata sangat artistik sehingga terasa nyaman.
Rumahku memang terkesan romantis dengan terdengar pelan alunan lagu-lagu cinta, Fanny sedang mengerjakan tugas yang baru kuperintahkan. Dia terlalu asyik mengerjakan tugas itu, tanpa sengaja penghapusnya jatuh tersenggol. Fanny berusaha menggapai ke bawah bermaksud untuk mengambilnya, tapi ternyata dia memegang tanganku yang telah lebih dulu mengambilnya. Fanny kaget melihat ke arahku yang sedang tersenyum padanya. Fanny berusaha tersenyum, saat tangan kirinya kupegang dan telapak tangannya kubalikkan dengan lembut, kemudian kutaruh penghapus itu ke dalam telapak tangannya.
Aku sebagai orang yang telah cukup berpengalaman dapat merasakan getaran-getaran perasaan yang tersalur melalui jari-jari gadis itu, sambil tersenyum aku berkata, "Fan, kamu tampak lebih cantik kalau tersenyum seperti itu". Kata-kataku membuat gadis itu merasa tersanjung, dengan tidak sadar Fanny mencubit pahaku sambil tersenyum senang.
"Udah punya pacar Fan?", godaku sambil menatap Fanny.
"Belum, Kak!", jawabnya malu-malu, wajahnya yang cantik itu bersemu merah.
"Kenapa, kan temen seusiamu sudah mulai punya pacar", lanjutku.
"Habis mereka maunya cuma hura-hura kayak anak kecil, caper", komentarnya sambil melanjutkan menulis jawaban tugasnya.
"Ohh!", aku bergumam dan beranjak dari tempat duduknya, mengambil minuman kaleng dari dalam kulkas.
"Minum Coca Cola apa Fanta, Fan?", lanjutku.
"Apa ya! Coca Cola aja deh Kak", sahutnya sambil terus bekerja.
Aku mambawa dua kaleng minuman dan mataku terus melihat dan menelusuri tubuh Fanny yang membelakangi, ternyata menarik juga gadis ini, badannya yang semampai dan bagus cukup membuatku bergairah, pikirku sambil tersenyum sendiri.
"Sudah Kak", suara Fanny mengagetkan lamunanku, kuhampiri dan kusodorkan sekaleng Coca-Cola kesukaan gadis itu. Kemudian aku memeriksa hasil pekerjaan itu, ternyata benar semua.
"Ahh, ternyata selain cantik kamu juga pintar Fan ", pujiku dan membuat Fanny tampak tersipu dan hatinya berbunga-bunga.
Aku yang sengaja duduk di sebelah kanannya, melanjutkan menerangkan pemecahan soal-soal lain, Bau wangi parfum yang kupakai sangat lembut dan terasa nikmat tercium hidung, mungkin itu yang membuatnya tanpa sadar bergeser semakin dekat padaku.
Pujian tadi membuatnya tidak dapat berkonsentrasi dan berusaha mencoba mengerti apa yang sedang dijelaskan, tapi gagal. Aku yang melihatnya tersenyum dalam hati dan sengaja duduk menyamping, agak menghadap pada gadis itu sehingga instingku mengatakan hatinya agak tergetar.
"Kamu bisa ngerti yang baru kakak jelaskan Fan", kataku sambil melihat wajah Fanny lewat sudut mata.
Fanny tersentak dari lamunannya dan menggeleng, "Belum, ulang dong Kak!", sahutnya. Kemudian aku mengambil kertas baru dan diletakkan di depannya, tangan kananku mulai menuliskan rumus-rumus sambil menerangkan, tangan lainnya diletakkan di sandaran kursi tempatnya duduk dan sesekali aku sengaja mengusap punggungnya dengan lembut.
Fanny semakin tidak bisa berkonsentrasi, saat merasakan usapan lembut jari tanganku itu, jantungnya semakin berdegup dengan keras, usapan itu kuusahakan senyaman dan selembut mungkin dan membuatnya semakin terlena oleh perasaan yang tak terlukiskan. Dia sama sekali tidak bisa berkonsentrasi lagi. Tanpa terasa matanya terpejam menikmati belaian tangan dan bau parfum yang lembut.
Dia berusaha melirikku, tapi aku cuek saja, sebagai perempuan yang selalu ingin diperhatikan, Fanny mulai mencoba menarik perhatianku. Dia memberanikan diri meletakkan tangan di atas pahaku. Jantungnya semakin berdegup, ada getaran yang menjalar lembut lewat tanganku.
Selesai menerangkan aku menatapnya dengan lembut, dia tak kuasa menahan tatapan mata yang tajam itu, perasaannya menjadi tak karuan, tubuhnya serasa menggigil saat melihat senyumku, tanpa sadar tangan kirinya meremas lembut pahaku, akhirnya Fanny menutup mata karena tidak kuat menahan gejolak didadanya. Aku tahu apa yang dirasakan gadis itu dengan instingku.
"Kamu sakit?", tanyaku berbasa basi. Fanny menggelengkan kepala, tapi tanganku tetap meraba dahinya dengan lembut, Fanny diam saja karena tidak tahu apa yang harus dilakukan. Aku genggam lembut jari tangan kirinya.
Udara hangat menerpa telinganya dari hidungku, "Kamu benar-benar gadis yang cantik, dan telah tumbuh dewasa Fan", gumamku lirih. pujian itu membuat dirinya makin bangga, tubuhnya bergetar, dan nafasnya sesak menahan gejolak di dadanya. Dan Fanny ternyata tak kuasa untuk menahan keinginannya meletakkan kepalanya di dadaku, "Ahh..", Fanny mendesah kecil tanpa disadari.
Aku sadar gadis ini mulai menyukaiku, dan berhasil membangkitkan perasaan romantisnya. Tanganku bergerak mengusap lembut telinga gadis itu, kemudian turun ke leher, dan kembali lagi naik ke telinga beberapa kali. Fanny merasa angan-angannya melambung, entah kenapa dia pasrah saja saat aku mengangkat dagunya, mungkin terselip hatinya perasaan ingin terus menikmati belaian-belaian lembut itu.
"Kamu memang sangat cantik dan aku yakin jalan pikiranmu sangat dewasa, Aku kagum!", kataku merayu.
Udara hangat terasa menerpa wajahya yang cantik, disusul bibir hangatku menyentuh keningnya, lalu turun pelan ke telinga, hangat dan lembut, perasaan nikmat seperti ini pasti belum pernah dialaminya. Anehnya dia menjadi ketagihan, dan merasa tidak rela untuk cepat-cepat mengakhiri semua kejadian itu.
"Ja.., jangan Kak", pintanya untuk menolak. Tapi dia tidak berusaha untuk mengelak saat bibir hangatku dengan lembut penuh perasaan menyusuri pipinya yang lembut, putih dan halus, saat merasakan hangatnya bibirku mengulum bibirnya yang mungil merah merekah itu bergeter, aku yakin baru pertama kali ini dia merasakan nikmatnya dikulum dan dicium bibir laki-laki.
Jantung di dadanya berdegup makin keras, perasaan nikmat yang menyelimuti hatinya semakin membuatnya melambung. "Uuhh..!", hatinya tergelitik untuk mulai membalas ciuman dan kuluman-kuluman hangatku.
"Aaahh..", dia mendesah merasakan remasanku lembut di payudara kiri yang menonjol di dadanya, seakan tak kuasa melarang. Dia diam saja, remasan lembut menambah kenikmatan tersendiri baginya.
"Dadamu sangat indah Fan", sebuah pujian yang membuatnya semakin mabuk, bahkan tangannya kini memegang tanganku, tidak untuk melarangnya, tapi ikut menekan dan mengikuti irama remasan di tanganku. Dia benar-benar semakin menikmatinya. Serdadukupun mulai menegang.
"Aaahh", Fanny mendesah kembali dan pahanya bergerak-gerak dan tubuhnya bergetar menandakan vaginanya mulai basah oleh lendir yang keluar akibat rangsangan yang dialaminya, hal itu membuat vaginanya terasa geli, merupakan kenikmatan tersendiri. Dia semakin terlena diantara degup-degup jantung dan keinginannya untuk mencapai puncak kenikmatan. Diimbanginya kuluman bibir dan remasan lembut di atas buah dadanya.
Saat tanganku mulai membuka kancing baju seragamnya, tangannya mencoba menahannya.
"Jangan nanti dilihat orang", pintanya, tapi tidak kupedulikan. Kulanjutkan membuka satu persatu, dadanya yang putih mulus mulai terlihat, buah dadanya tertutup bra warna coklat.
Seakan dia sudah tidak peduli lagi dengan keadaannya, hanya kenikmatan yang ingin dicapainya, dia pasrah saat kugendong dan merebahkannya di atas tempat tidur yang bersprei putih. Di tempat tidur ini aku merasa lebih nyaman, semakin bisa menikmati cumbuan, dibiarkannya dada yang putih mulus itu makin terbuka.
"Auuhh", bibirku mulai bergeser pelan mengusap dan mencium hangat di lehernya yang putih mulus. "Aaahh", dia makin mendesah dan merasakan kegelian lain yang lebih nikmat.
Aku semakin senang dengan bau wangi di tubuhnya. "Tubuhmu wangi sekali", kembali rayuan itu membuatnya makin besar kepala. Tanganku itu dibiarkan menelusuri dadanya yang terbuka. Fanny sendiri tidak kuasa menolak, seakan ada perasaan bangga tubuhnya dilihat dan kunikmati. Tanganku kini menelusuri perutnya dengan lembut, membuatnya menggelinjang kegelian. Bibir hangatku beralih menelusuri dadanya.
"Uhh.!", tanganku menarik bajunya ke atas hingga keluar dari rok abu-abunya, kemudian jari-jarinya melepas kancing yang tersisa dan menari lembut di atas perutnya. "Auuhh" membuatnya menggelinjang nikmat, perasaannya melambung mengikuti irama jari-jariku, sementara serdaduku terasa makin tegang.
Dia mulai menarik kepalaku ke atas dan mulai mengimbagi ciuman dan kuluman, seperti caraku mengulum dan mencium bibirnya. "Ooohh", terdengar desah Fanny yang semakin terlena dengan ciuman hangat dan tarian jari-jariku diatas perutnya, kini dada dan perutnya terlihat putih, mulus dan halus hanya tertutup bra coklat muda yang lembut.
Aku semakin tegang hingga harus mengatur gejolak birahi dengan mengatur pernafasanku, aku terus mempermainkan tubuh dan perasaan gadis itu, kuperlakukan Fanny dengan halus, lembut, dan tidak terburu-buru, hal ini membuat Fanny makin penasaran dan makin bernafsu, mungkin itu yang membuat gadis itu pasrah saat tanganku menyusup ke belakang, dan membuka kancing branya.
Bersambung...
Seminggu yang lalu Fanny mulai rutin mengikuti les privat Fisika di rumahku, Renne Lobo, aku seorang duda. Aku mempunyai sebuah rumah mungil dengan dua buah kamar, diantaranya ada sebuah kamar mandi yang bersih dan harum. Kamar depan diperuntukkan ruang kerja dan perpustakaan, buku-buku tersusun rapi di dalam rak dengan warna-warna kayu, sama seperti meja kerja yang di atasnya terletak seperangkat komputer. Sebuah lukisan yang indah tergantung di dinding, lukisan itu semakin tampak indah di latar belakangi oleh warna dinding yang serasi. Ruang tidurnya dihiasi ornamen yang serasi pula, dengan tempat tidur besar dan pencahayaan lampu yang membuat suasana semakin romantis. Ruang tamu ditata sangat artistik sehingga terasa nyaman.
Rumahku memang terkesan romantis dengan terdengar pelan alunan lagu-lagu cinta, Fanny sedang mengerjakan tugas yang baru kuperintahkan. Dia terlalu asyik mengerjakan tugas itu, tanpa sengaja penghapusnya jatuh tersenggol. Fanny berusaha menggapai ke bawah bermaksud untuk mengambilnya, tapi ternyata dia memegang tanganku yang telah lebih dulu mengambilnya. Fanny kaget melihat ke arahku yang sedang tersenyum padanya. Fanny berusaha tersenyum, saat tangan kirinya kupegang dan telapak tangannya kubalikkan dengan lembut, kemudian kutaruh penghapus itu ke dalam telapak tangannya.
Aku sebagai orang yang telah cukup berpengalaman dapat merasakan getaran-getaran perasaan yang tersalur melalui jari-jari gadis itu, sambil tersenyum aku berkata, "Fan, kamu tampak lebih cantik kalau tersenyum seperti itu". Kata-kataku membuat gadis itu merasa tersanjung, dengan tidak sadar Fanny mencubit pahaku sambil tersenyum senang.
"Udah punya pacar Fan?", godaku sambil menatap Fanny.
"Belum, Kak!", jawabnya malu-malu, wajahnya yang cantik itu bersemu merah.
"Kenapa, kan temen seusiamu sudah mulai punya pacar", lanjutku.
"Habis mereka maunya cuma hura-hura kayak anak kecil, caper", komentarnya sambil melanjutkan menulis jawaban tugasnya.
"Ohh!", aku bergumam dan beranjak dari tempat duduknya, mengambil minuman kaleng dari dalam kulkas.
"Minum Coca Cola apa Fanta, Fan?", lanjutku.
"Apa ya! Coca Cola aja deh Kak", sahutnya sambil terus bekerja.
Aku mambawa dua kaleng minuman dan mataku terus melihat dan menelusuri tubuh Fanny yang membelakangi, ternyata menarik juga gadis ini, badannya yang semampai dan bagus cukup membuatku bergairah, pikirku sambil tersenyum sendiri.
"Sudah Kak", suara Fanny mengagetkan lamunanku, kuhampiri dan kusodorkan sekaleng Coca-Cola kesukaan gadis itu. Kemudian aku memeriksa hasil pekerjaan itu, ternyata benar semua.
"Ahh, ternyata selain cantik kamu juga pintar Fan ", pujiku dan membuat Fanny tampak tersipu dan hatinya berbunga-bunga.
Aku yang sengaja duduk di sebelah kanannya, melanjutkan menerangkan pemecahan soal-soal lain, Bau wangi parfum yang kupakai sangat lembut dan terasa nikmat tercium hidung, mungkin itu yang membuatnya tanpa sadar bergeser semakin dekat padaku.
Pujian tadi membuatnya tidak dapat berkonsentrasi dan berusaha mencoba mengerti apa yang sedang dijelaskan, tapi gagal. Aku yang melihatnya tersenyum dalam hati dan sengaja duduk menyamping, agak menghadap pada gadis itu sehingga instingku mengatakan hatinya agak tergetar.
"Kamu bisa ngerti yang baru kakak jelaskan Fan", kataku sambil melihat wajah Fanny lewat sudut mata.
Fanny tersentak dari lamunannya dan menggeleng, "Belum, ulang dong Kak!", sahutnya. Kemudian aku mengambil kertas baru dan diletakkan di depannya, tangan kananku mulai menuliskan rumus-rumus sambil menerangkan, tangan lainnya diletakkan di sandaran kursi tempatnya duduk dan sesekali aku sengaja mengusap punggungnya dengan lembut.
Fanny semakin tidak bisa berkonsentrasi, saat merasakan usapan lembut jari tanganku itu, jantungnya semakin berdegup dengan keras, usapan itu kuusahakan senyaman dan selembut mungkin dan membuatnya semakin terlena oleh perasaan yang tak terlukiskan. Dia sama sekali tidak bisa berkonsentrasi lagi. Tanpa terasa matanya terpejam menikmati belaian tangan dan bau parfum yang lembut.
Dia berusaha melirikku, tapi aku cuek saja, sebagai perempuan yang selalu ingin diperhatikan, Fanny mulai mencoba menarik perhatianku. Dia memberanikan diri meletakkan tangan di atas pahaku. Jantungnya semakin berdegup, ada getaran yang menjalar lembut lewat tanganku.
Selesai menerangkan aku menatapnya dengan lembut, dia tak kuasa menahan tatapan mata yang tajam itu, perasaannya menjadi tak karuan, tubuhnya serasa menggigil saat melihat senyumku, tanpa sadar tangan kirinya meremas lembut pahaku, akhirnya Fanny menutup mata karena tidak kuat menahan gejolak didadanya. Aku tahu apa yang dirasakan gadis itu dengan instingku.
"Kamu sakit?", tanyaku berbasa basi. Fanny menggelengkan kepala, tapi tanganku tetap meraba dahinya dengan lembut, Fanny diam saja karena tidak tahu apa yang harus dilakukan. Aku genggam lembut jari tangan kirinya.
Udara hangat menerpa telinganya dari hidungku, "Kamu benar-benar gadis yang cantik, dan telah tumbuh dewasa Fan", gumamku lirih. pujian itu membuat dirinya makin bangga, tubuhnya bergetar, dan nafasnya sesak menahan gejolak di dadanya. Dan Fanny ternyata tak kuasa untuk menahan keinginannya meletakkan kepalanya di dadaku, "Ahh..", Fanny mendesah kecil tanpa disadari.
Aku sadar gadis ini mulai menyukaiku, dan berhasil membangkitkan perasaan romantisnya. Tanganku bergerak mengusap lembut telinga gadis itu, kemudian turun ke leher, dan kembali lagi naik ke telinga beberapa kali. Fanny merasa angan-angannya melambung, entah kenapa dia pasrah saja saat aku mengangkat dagunya, mungkin terselip hatinya perasaan ingin terus menikmati belaian-belaian lembut itu.
"Kamu memang sangat cantik dan aku yakin jalan pikiranmu sangat dewasa, Aku kagum!", kataku merayu.
Udara hangat terasa menerpa wajahya yang cantik, disusul bibir hangatku menyentuh keningnya, lalu turun pelan ke telinga, hangat dan lembut, perasaan nikmat seperti ini pasti belum pernah dialaminya. Anehnya dia menjadi ketagihan, dan merasa tidak rela untuk cepat-cepat mengakhiri semua kejadian itu.
"Ja.., jangan Kak", pintanya untuk menolak. Tapi dia tidak berusaha untuk mengelak saat bibir hangatku dengan lembut penuh perasaan menyusuri pipinya yang lembut, putih dan halus, saat merasakan hangatnya bibirku mengulum bibirnya yang mungil merah merekah itu bergeter, aku yakin baru pertama kali ini dia merasakan nikmatnya dikulum dan dicium bibir laki-laki.
Jantung di dadanya berdegup makin keras, perasaan nikmat yang menyelimuti hatinya semakin membuatnya melambung. "Uuhh..!", hatinya tergelitik untuk mulai membalas ciuman dan kuluman-kuluman hangatku.
"Aaahh..", dia mendesah merasakan remasanku lembut di payudara kiri yang menonjol di dadanya, seakan tak kuasa melarang. Dia diam saja, remasan lembut menambah kenikmatan tersendiri baginya.
"Dadamu sangat indah Fan", sebuah pujian yang membuatnya semakin mabuk, bahkan tangannya kini memegang tanganku, tidak untuk melarangnya, tapi ikut menekan dan mengikuti irama remasan di tanganku. Dia benar-benar semakin menikmatinya. Serdadukupun mulai menegang.
"Aaahh", Fanny mendesah kembali dan pahanya bergerak-gerak dan tubuhnya bergetar menandakan vaginanya mulai basah oleh lendir yang keluar akibat rangsangan yang dialaminya, hal itu membuat vaginanya terasa geli, merupakan kenikmatan tersendiri. Dia semakin terlena diantara degup-degup jantung dan keinginannya untuk mencapai puncak kenikmatan. Diimbanginya kuluman bibir dan remasan lembut di atas buah dadanya.
Saat tanganku mulai membuka kancing baju seragamnya, tangannya mencoba menahannya.
"Jangan nanti dilihat orang", pintanya, tapi tidak kupedulikan. Kulanjutkan membuka satu persatu, dadanya yang putih mulus mulai terlihat, buah dadanya tertutup bra warna coklat.
Seakan dia sudah tidak peduli lagi dengan keadaannya, hanya kenikmatan yang ingin dicapainya, dia pasrah saat kugendong dan merebahkannya di atas tempat tidur yang bersprei putih. Di tempat tidur ini aku merasa lebih nyaman, semakin bisa menikmati cumbuan, dibiarkannya dada yang putih mulus itu makin terbuka.
"Auuhh", bibirku mulai bergeser pelan mengusap dan mencium hangat di lehernya yang putih mulus. "Aaahh", dia makin mendesah dan merasakan kegelian lain yang lebih nikmat.
Aku semakin senang dengan bau wangi di tubuhnya. "Tubuhmu wangi sekali", kembali rayuan itu membuatnya makin besar kepala. Tanganku itu dibiarkan menelusuri dadanya yang terbuka. Fanny sendiri tidak kuasa menolak, seakan ada perasaan bangga tubuhnya dilihat dan kunikmati. Tanganku kini menelusuri perutnya dengan lembut, membuatnya menggelinjang kegelian. Bibir hangatku beralih menelusuri dadanya.
"Uhh.!", tanganku menarik bajunya ke atas hingga keluar dari rok abu-abunya, kemudian jari-jarinya melepas kancing yang tersisa dan menari lembut di atas perutnya. "Auuhh" membuatnya menggelinjang nikmat, perasaannya melambung mengikuti irama jari-jariku, sementara serdaduku terasa makin tegang.
Dia mulai menarik kepalaku ke atas dan mulai mengimbagi ciuman dan kuluman, seperti caraku mengulum dan mencium bibirnya. "Ooohh", terdengar desah Fanny yang semakin terlena dengan ciuman hangat dan tarian jari-jariku diatas perutnya, kini dada dan perutnya terlihat putih, mulus dan halus hanya tertutup bra coklat muda yang lembut.
Aku semakin tegang hingga harus mengatur gejolak birahi dengan mengatur pernafasanku, aku terus mempermainkan tubuh dan perasaan gadis itu, kuperlakukan Fanny dengan halus, lembut, dan tidak terburu-buru, hal ini membuat Fanny makin penasaran dan makin bernafsu, mungkin itu yang membuat gadis itu pasrah saat tanganku menyusup ke belakang, dan membuka kancing branya.
Bersambung...
Subscribe to:
Posts (Atom)

